Pengalaman Backpackeran ke Desa Waerebo, Nusa Tenggara Timur

0
2527
Backpackeran ke Desa Wearebo.

Jika bicara tentang desa adat, siapa yang tidak mengenal Desa Waerebo di Flores, Nusa Tenggara Timur ini? Kala kalian adalah traveler, pasti kalian tahu mengenai desa ini. Keinginan saya untuk ke Waerebo itu sudah ada sejak tahun 2014 lalu. Berikut saya akan menceritakan pengalaman saya mengenai kunjungan saya ke Waerebo pada tahun 2018 yang lalu.

Labuan Bajo – Ruteng, Manggarai

Berkunjung ke Labuhan Bajo rasanya kurang afdol jika tidak sekalian berkunjung ke Waerebo. Saya memutuskan untuk ke Waerebo setelah pulang dari sailing trip selama 3 hari 2 malam sebelumnya, hanya dengan bermodalkan nekat saja untuk ke sana, yang jelas saya tahu kalau saya mencari kendaraan untuk ke kota Ruteng di Manggarai. Agak susah memang kalau mencari sendiri, kalian harus tanya penduduk lokal untuk meminta tolong dicarikan. Akhirnya saya dapat satu kendaran travel mengarah ke Ruteng, dengan harga untuk per orangnya adalah Rp. 50.000 untuk tanpa AC, dan sekitar Rp. 100.000 per orangnya. Walaupun pada akhirnya saya memilih untuk menggunakan yang tanpa AC, but don’t worry the car still worth it.

Perjalanan ke Ruteng memerlukan waktu sekitar kurang lebih 6 jam. Saya sengaja tidak ikut trip planner, karena saya yakin pengeluaran akan lebih membengkak daripada berangkat sendiri, dan saya lebih suka buat jalan sendiri daripada dengan trip planner, karena lebih fleksibel. Kalian mau berangkat jam berapa juga, tidak masalah. You are boss on your trip! Perjalanan cukup menyenangkan, karena banyak pemandangan bagus sepanjang jalan. Flores is the best!

Pemandangan Desa Wearebo dari Atas.

Tidak terasa sudah sampai di Ruteng, Kota 1000 gereja. Julukan tersebut muncul, karena mayoritas penduduk di sini beragama khatolik dan kristen, yang menyebabkan gereja berada di mana-mana. Saya berangkat mulai pukul 13:00 WITA, dan sampai di penginapan pada pukul 19:00 WITA. Hawa di Ruteng terasa dingin, dan pada saat dicek, ternyata ada pada suhu 15o C.

Penginapan saya terletak di sekitar Alun-Alun Ruteng, dengan harga sekitar Rp. 150.000 per malam. Saya memutuskan untuk bermalam sebentar sebelum ke Waerebo. Sempat juga mencoba mengobrol dengan warga lokal untuk mencapai ke Waerebo itu bagaimana. Ada yang bilang sangat jauh, ada yang bilang pakai travel saja, atau truk sayur yang mengarah ke desa Denge, desa terakhir sebelum tracking ke Waerebo.

Akhirnya saya menyewa motor di belakang penginapan untuk 1 hari harga Rp. 75.000. Harga tersebut belum termasuk harga tambahan ketika kalian pergi ke Denge, karena akses jalan yang jelek ke desa Denge, maka kalian harus bayar lebih sekitar Rp. 25.000 untuk pengganti biaya service.

Ruteng – Desa Denge

Keesokan paginya saya bangun pagi-pagi untuk pergi ke Denge. Setelah sarapan di sekitar penginapan, akhirnya langsung berangkat ke Desa Denge, pemberhentian terakhir sebelum tracking ke desa Waerebo. Bagi saya, ini adalah pengalaman yang sangat berharga.

Sepanjang perjalanan, memang tidak ada sinyal sama sekali, jadi saya bermodal bertanya sana-sini untuk tahu jalan ke Desa Denge. Sepanjang perjalanan memang sangat bagus, terdapat banyak sawah dan laut. Dan benar kata orang-orang, jalan di sini masih jauh dari kata bagus, medannya kurang cocok untuk motor matic. Kebetulan saya menggunakan motor matic. Perjalanan yang cukup jauh, membuat saya memutuskan untuk beristirahat dulu di tengah perjalanan, karena menurut orang-orang membutuhkan waktu selama kurang lebih 3 jam.

Sesampainya di Desa Denge, setelah istirahat untuk minum sebentar, saya memutuskan untuk langsung berangkat menuju Waerebo. Di mana membutuhkan waktu kira-kira 3 jam perjalanan. Pada tengah perjalanan, saya bertemu dengan penduduk asli Waerebo yang dengan senang hati mengawal saya untuk menuju Desa Waerebo.

Desa Waerebo

Bersantai Bersama Turis Mancanegara di Pagi Hari.

Sebelum memasuki desa Waerebo terdapat pos kecil dan ada kentongan di situ, dan berdasarkan info yang saya dapatkan di blog, kentongan tersebut dipergunakan sebagai penanda jika ada wisatawan yang datang. Tetapi, karena tidak ada siapa-siapa yang berjaga, maka saya memutuskan untuk langsung masuk ke desa tersebut tanpa membunyikan kentongan tersebut, karena takut salah. Sesampainya di pusat keramaian desa, saya disambut oleh warga lokal Waerebo yang sambil memasang wajah bingung, karena saya lupa membunyikan kentongan. But it’s okay, show must go on! Hehe. Untuk kalian yang akan berkunjung, pastikan untuk membunyikan kentongannya, ya! Karena hal tersebut sudah menjadi bagian dari tradisi di Desa Waerebo.

Saya diajak ke rumah niang kepala suku Waerebo untuk mengikuti upacara adat. Mitosnya, selama prosesi ritual berlangsung, kita tidak diperbolehkan untuk mengabadikan foto apapun, karena hal tersebut dapat berakibat terhadap keselamatan kita ketika berada di Desa Waerebo, dan foto-foto kalian selama di sini akan hilang. Orang-orang di sini beberapa ada yang tidak bisa Bahasa Indonesia, mereka menggunakan Bahasa Manggarai sebagai bahasa sehari-hari mereka. Pada tiap pagi, orang tua laki-laki pergi berladang, sedangkan yang perempuan tugasnya di rumah, untuk memasak, menenun, atau mengurus anak.

Foto Bersama Anak-Anak Wearebo.

Saya tidur di rumah niang yang pertama, di mana biasa para wisatawan menginap. Biaya menginap di sini adalah Rp. 375.000 per hari, sudah termasuk makan dan kopi waerebo. Ini merupakan pengalaman baru untuk saya dengan datang ke tempat seperti ini. Saya sangat  menyukai tempat yang damai dan jauh dari hiruk-pikuk kota. Sambil menikmati kopi dan bersantai, saya didatangi oleh anak-anak Waerebo. Mereka lucu sekali, akhirnya saya beri snack selama perjalanan tadi. Ada permen dan wafer, dengan pemberian sederhana seperti itu saja mereka terlihat sangat bahagia, dan akhirnya tentu saja saya pun ikut bahagia melihatnya.

Ameh Alex yang menginspirasi saya.

Ada banyak yang saya dapatkan di sini, yang paling berkesan adalah mereka sangat hidup sederhana dan kekeluargaan. Ada salah satu cerita indah dari Ameh Alex, orang yang saya temui dan saya anggap sebagai keluarga sendiri di sini. Dia bercerita bahwa ketika ada 1 anak yang ingin sekolah lebih tinggi (kuliah) di Desa Waerebo, seluruh hasil kebun warga di sini dikumpulkan jadi satu dan dijual. Si anak ini diberi tanggung jawab atas uang yang mereka kasih. Dia harus bisa mengelola uang yang ia dapat sebaik mungkin untuk kuliah. Kebanyakan orang Manggarai memilih untuk bersekolah di Yogyakarta.

Harapan warga di sini adalah anak mudanya setelah bertahun-tahun bersekolah bisa kembali lagi ke asal mereka untuk melestarikan buadya asli mereka. Ameh Alex tidak memaksa, karena tak sedikit yang tidak pulang dan banyak yang membangun bisnis di tanah jawa. Tapi Ameh ikhlas, dia tidak mengharapkan apapun asal anaknya sehat dan bahagia. Saya seketika merasa sedih. Saya yang sudah disekolahkan tinggi oleh orang tua, hanya begini-begini saja, belum bisa membalas mereka. Sedih kenapa saya harus bertemu dengan Ameh Alex dulu untuk sadar bahwa saya seharusnya bisa lebih maju. Inilah kenapa pengalaman berkunjung ke Waerebo itu istimewa, karena telah banyak mengubah cara pandang saya terhadap banyak hal. Terimakasih Ameh atas pelajarannya, saya hanya bisa berdoa saja untuk kebaikan mereka.

Seberapa Besar Budget yang Saya Butuhkan dari Labuanbajo ke Waerebo?
  1. Travel non AC PP, Rp. 100.000.
  2. Penginapan 1 hari di Ruteng, Rp. 150.000 per malam.
  3. Sewa Motor 2 hari + service, Rp. 170.000.
  4. Menginap di Waerebo, Rp. 375.000 per malam.
  5. Makan dan perlengkapan lain, Rp. 100.000.
  6. Bensin pulang-pergi, Rp. 50.000.

Total yang saya keluarkan selama perjalanan adalah kurang lebih Rp 1.000.000, lebih murah daripada kalian harus mengeluarkan untuk trip planner, kan? Hehe.

Sekali lagi saya sangat bersyukur karena sudah diberi kesempatan untuk pergi ke tempat seindah ini. Ada banyak sekali pengalaman yang didapat dan saya juga bertemu banyak orang yang membuat saya sadar bahwa ada banyak warna di Indonesia. Bermacam-macam suku, bahasa, ras, dan agama. Setega itukah untuk memecah belah Indonesia yang sudah dibela mati-matian oleh para pahlawan kita?

Sekian cerita dari saya mengenati pengalaman berkunjung ke Desa Waerebo dengan budget yang amat minim, dan dengan cara yang mudah.

Have a good traveling, Thanks for read! Goobye soon! Pampam 😍

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.