Pendakian Malam di Gunung Merbabu? Siapa takut!

1
1472
Sabana Gunung Merbabu dengan background Gunung Merapi.

Gunung Merbabu merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Tengah. Ketinggiannya mencapai 3.142 meter di atas permukaan laut. Gunung Merbabu dikatakan sebagai gunung yang sedang ‘tertidur’ sehingga terdapat kemungkinan gunung ini akan meletus sewaktu-waktu. Namun, semenjak tahun 1600-an, aktivitas vulkaniknya belum dapat dideteksi. Tetangga Gunung Merapi ini terkenal dengan hamparan sabananya yang menawan. Selain itu, bunga edelweis juga tumbuh dengan baik di Gunung Merbabu. Orang pun beramai-ramai melakukan pendakian ke gunung ini. Ada beberapa jalur pendakian resmi di Gunung Merbabu, yaitu Jalur Selo Lama dan Baru di Kabupaten Boyolali, Jalur Suwanting dan Wekas di Kabupaten Magelang, serta Jalur Cunthel dan Thekelan di Kabupaten Semarang.

Pada 22 Agustus 2019, saya mendaki Gunung Merbabu melalui jalur Selo Lama di Boyolali. Saya berangkat dari Yogyakarta dengan sepeda motor menuju basecamp pendakian Selo Lama pukul 3 sore, perjalanan ditempuh sekitar 2 jam. Harga tiket masuk atau simaksi pendakian Gunung Merbabu ini berkisar Rp 20.000-Rp 25.000/orang. Namun, sekarang pihak pengelola Taman Nasional Gunung Merbabu via Selo Lama memberlakukan registrasi online sehingga sebelum tiba di basecamp, pendaki harus mendaftar secara online terlebih dahulu sesuai dengan persyaratan yang berlaku.

Setelah melakukan registrasi ulang, ketua tim pendakian akan diberikan semacam gelang yang fungsinya seperti detektor lokasi. Tentunya hal tersebut menambah rasa aman bagi para pendaki, terutama jika pendakian dilakukan malam hari. Ya, saya tiba di basecamp  menjelang petang, otomatis pendakian akan dilakukan malam hari. Sesuatu yang sedikit menantang mental karena Taman Nasional Gunung Merbabu terkenal dengan masih adanya kawanan kera liar dan hewan-hewan lain disekitar hutannya.

Bunga Edelweis Tumbuh Baik di Gunung Merbabu.
Basecamp – Pos 1 (1 jam) 

Perjalanan pun dimulai pukul 18.45 WIB. Dari basecamp saya berjalan sekitar 1 jam menuju pos 1. Jalur pendakian di sini masih termasuk landai dan belum terlalu banyak tanjakan. Namun, kalian harus selalu berhati-hati dan waspada karena ada beberapa jalur yang bercabang. Dan, benar saja, sampai di pos 1 saat beristirahat saya mendengar suara dari semak-semak. Dengan spontan saya pun langsung mengarahkan senter ke arah semak tersebut. Ternyata ada seekor landak di dekat semak-semak tersebut. Tetapi, selagi kita tidak mengusiknya, maka binatang itu juga tidak akan menyerang.

Pos 1 – Pos 2 (1 jam) 

Hutan semakin terasa rimbun dan lebat di malam hari. Jalur pendakian mulai menanjak, bahkan ada jalur yang mengharuskan kita naik dengan bantuan tali. Karena termasuk weekend jalur pendakian tergolong ramai meskipun malam. Sesekali di perjalanan ini saya menemui rombongan yang sedang turun menuju basecamp. Di pos 2 terdapat sebuah shelter sehingga kita bisa memulihkan tenaga disini sebelum menuju ke jalur yang lebih melelahkan dan menantang.

Pos 2 – Pos 3 (30 – 45 menit) 

Jalur pendakian dengan tanjakan tinggi semakin banyak. Namun, perjalanan di jalur ini tidak membutuhkan waktu lama. Hanya memakan waktu sekitar 30 – 45 menit. Salah satu keuntungan jika mendaki malam hari adalah jalur pendakian yang tidak terlihat begitu jelas sehingga membuat kita tidak mudah lelah.

Pos 3 merupakan salah satu tempat yang dijadikan alternatif untuk mendirikan camp jika sudah benar-benar lelah. Selain itu, pemandangan di pos 3 ini begitu menakjubkan karena pohon-pohon sudah mulai jarang, sehingga langit pun nampak jelas tanpa penghalang. Keuntungan lain pendakian di malam hari adalah kita dapat menikmati perjalanan sambil ditemani ribuan bintang dilangit. Rasa syukur terhadap ciptaan Tuhan terasa bergetar di dada saya. Bagaimana pengalaman seindah ini bisa orang lain lewatkan?

Suasana di Puncak Kentengsongo.
Pos 3 – Sabana 1 (1 – 1,5 jam) 

Jika kita tidak ingin memakan tenaga saat summit attack, maka saya sarankan untuk mendirikan tenda di Sabana 1 atau Sabana 2. Tapi karena mengingat tenaga dan estimasi waktu untuk istirahat nantinya, saya memutuskan untuk mendirikan tenda di Sabana 1. Jalur pendakian dari pos 3 – Sabana 1 lebih ekstrim dari sebelumnya. Di jalur ini kita akan banyak melewati batuan terjal dan debu yang sangat tebal. Jadi sangat disarankan untuk memakai masker atau pelindung pernafasan lain. Sabana 1 termasuk tempat yang sering dipilih untuk membuat camp. Selain karena pemandangannya yang sangat memanjakan mata, juga karena jaraknya yang tidak terlalu jauh dengan puncak pendakian sehingga menghemat energi untuk summit attack.

Sabana 1 – Sabana 2 (45 menit – 1 jam) 

Angin bertiup sedikit kencang sehingga lebih baik mendirikan tenda berdekatan dengan pohon. Hari menjelang pagi dan untuk berburu golden sunrise d ipuncak, maka kita harus melakukan summit attack lebih awal, sekitar pukul 3 atau 4 pagi. Namun, karena pendakian yang dilakukan malam sebelumnya, maka saya memilih untuk beristirahat terlebih dahulu dan memulai summit sedikit siang. Jalur yang ditempuh menuju Sabana 2 hampir sama seperti jalur pos 3 menuju Sabana 1. Hanya saja, di jalur kali ini sedikit lebih pendek. Hamparan padang rumput begitu luas di Sabana 2 Gunung Merbabu. Sama halnya dengan Sabana 1, di Sabana 2 juga ramai dijadikan tempat untuk mendirikan camp.

Sabana 2 – Puncak (1 – 1,5 jam)

Gunung Merbabu memiliki 2 puncak terkenal, yaitu Puncak Kentengsongo dan Puncak Triangulasi. Saya memutuskan untuk memijakan kaki di kedua puncak sekaligus. Karena waktu summit yang saya pilih siang, maka risiko yang harus ditanggung adalah jalur yang lebih ramai. Jalur pendakian menuju puncak menyuguhkan pemandangan Sabana 2, Sabana 1, dan Gunung Merapi. Suasana inilah yang menjadi alasan mengapa kamu mencoba untuk mendaki Gunung Merbabu. Di sini saya beristirahat sejenak karena bagi saya pendakian sejatinya bukan hanya soal puncak, akan tetapi makna dan nikmatnya perjalanan itu sendiri.

Sabana Gunung Merbabu dengan background Gunung Merapi.

Puncak pertama yang saya pijak adalah Puncak Kentengsongo. Beristirahat sejenak dan saya lanjutkan dengan berfoto bersama teman untuk mengabadikan kenangan tentunya. Setelah beberapa menit saya habiskan di puncak Kentengsongo, saya lanjutkan tujuan saya yaitu memijakan kaki di Puncak Triangulasi. Perjalanan hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit.

Pendakian malam saya di Gunung Merbabu membuahkan pengalaman yang tidak pernah bisa diperkirakan sebelumnya. Kesehatan fisik, relasi, dan karakter dapat terbentuk dengan melakukan pendakian. Ternyata pendakian malam hari tidak kalah indah dan menyenangkan dengan pendakian pagi ataupun siang hari. Pendakian yang ditemani tebaran bintang di angkasa menyelipkan semangat tersendiri untuk terus melanjutkan perjalanan. Pendakian malam hari juga sangat menguntungkan bagi kalian yang sangat sibuk dan hanya memiliki sedikit waktu untuk berlibur. Jadi jangan ragu lagi untuk melakukan pendakian malam hari ya!

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.