Pemenuhan dan Penyegaran Jiwa di Mekkah dan Madinah

0
824
Masjid Nabawi Bagian Luar.

Pada akhir Maret 2019 lalu, alhamdulillah saya diberi rezeki untuk melaksanakan ibadah umrah bersama keluarga saya. Ini merupakan pengalaman tak terlupakan yang membahagiakan jiwa seorang Muslim yang rindu dengan kota kelahiran Nabi (Mekkah) dan kota wafat dan berkembangnya Islam (Madinah).

Saya berangkat dari kampung halaman saya di Ciamis menuju Jakarta dengan mengendarai bus kecil. Beruntung kami mendapat pesawat Saudi Airlines, sehingga selepas take-off dari Bandara Soekarno-Hatta, kami tidak perlu transit di negara manapun dan langsung terbang dan mendarat di Madinah. Ya, saya dan keluarga melaksanakan ibadah umrah dengan miqat dari Madinah, yakni di Bir Ali, sebuah tempat yang sudah biasa dijadikan sebagai tempat bermiqat jamaah umrah dari Madinah.

Di Madinah, saya dan keluarga stay selama 3 hari. Ketika saya melihat masjid Nabawi pertama kali di hidup saya, sekujur tubuh benar-benar merinding, padahal pandangan saya kala itu masih cukup jauh. Masjid Nabawi luas sekali, menurut informasi yang saya peroleh, luasnya lebih dari 100 m2! Bisa dibayangkan, berjalan di 1/4 bagian luar masjidnya saja, kaki saya sudah sangat lelah. Akan tetapi, karena kerinduan pada baginda Nabi Muhammad SAW., lelah saat itu tak begitu berarti.

Megahnya Zamzam Tower.

Di kota Madinah, tentu tidak ada pelaksanan ibadah umrah. Kami hanya menjalankan ibadah sebagaimana yang biasa dilakukan sehari-hari seperti shalat fardhu, secara berjamaah di Masjid Nabawi. Sayangnya, saya selalu mendapat shaf di bagian luar masjid, dikarenakan antusiasme para penduduk maupun turis di sana yang menjadikan shaf bagian depan dan dalam masjid selalu penuh lebih awal.

Hal yang berkesan dari Madinah, dalam hal Masjid Nabawi adalah pada bagian rest room atau kamar mandinya. Tercetak di bawah tanah dan dihubungkan dengan eskalator, kamar mandi dan tempat wudhunya sangat banyak. Selain itu, selaku rutin dibersihkan oleh pegawai yang bekerja di sana, sehingga tidak perlu khawatir bagi kita untuk buang hajat meski shalat sudah dimulai; tak perlu takut antrian panjang maupun hal-hal kotor yang lumrah terjadi pada WC umum.

Selain soal rest room di Masjid Nabawi, hal lain yg saya sukai adalah barang dagangan yang dijual di Madinah lebih murah dibanding yang dijual di Mekkah. Terutama soal makanan seperti kurma dan coklat. Cukup signifikan perbandingan harganya. Coklat 1 kg di Madinah bisa dihargai dengan SR 15, sedangkan di Mekkah, dengan berat yang sama, harganya bisa dua kali lipatnya, tentu saja dengan merek yang tidak berbeda pula.

Dzul Hulaifah.

Akan tetapi, terdapat hal yang perlu saya garis bawahi sebagai pengingat bagi teman-teman semua saat berkunjung ke Madinah, terutama di sekitar Masjid Nabawi, pada pintu 20-30 an. Pada tempat itu, saya sempat mengalami kejadian tidak mengenakan, yaitu ada seorang ibu-ibu memalak saya dan mengaku sedang hamil. Dia meminta uang dengan sangat memaksa, saya beri SR 1 dia tidak mau, saat saya hendak pergi, dia menarik tangan saya dan meminta uang lebih, akhirnya karna saya sangat panik dan takut, terpaksa saya beri SR 10 pada ibu itu. Maka dari itu, jika menemukan orang seperti ini, langsung lari saja, atau sedikit dibentak sebagai penegasan kalau teman-teman tidak akan ikhlas jika memberi nominal sesuai yang si pengemis minta.

Setelah tinggal selama 3 hari di Madinah, hari ke 4 di sore harinya, kami sekeluarga beserta rombongan lainnya naik bisa untuk melaksanakan miqat makani di Dzul Hulaifah sebelum menuju Mekkah, sebagai rukun Umrah. Di perjalanan, kami tak lantunkan kalimat talbiyah.

Kami menempuh perjalanan selama kurang lebih 6 jam dari Madinah. Kami sampai di Mekkah pada sore hari. Kami menginap di Swiss-Belhotel, cukup dekat dengan Masjidil Haram. Hotel yang saya tempati ini menurut saya lebih nyaman dibanding hotel di Madinah, baik dari sisi kamar maupun makanannya.

Masjid Nabawi Bagian Luar.

Di Mekkah terdapat pusat perbelanjaan yang terkenal, yaitu Bin Dawood. Sayangnya, karena keterbatasan uang, kami tidak terlalu banyak membeli barang di sini. Akan tetapi, saya cukup puas dan senang dapat menikmati suasana Mekkah beserta huru-hara nafas ekonomi dalam pedagangannya, sehingga mewarnai perjalanan umrah kami.

Di Mekkah, kami tinggal selama 4 hari, jauh lebih lama dibanding di Madinah. Jika di Madinah saya mengalami pengalaman yang menyebalkan, di Mekkah ada pula kejadian tak menyenangkan dan tak terduga. Yakni, bus kami saat hendak pulang dari Mekkah menuju Bandara menabrak dua mobil di depan. Sehingga perjalanan ditunda hingga berjam-jam lamanya, dari siang sampai malam, membuat kami para rombongan semakin kelelahan dan stress. Alhamdulillah, pada akhirnya, setelah shalat magrib, kami dapat melanjutkan perjalanan kami menuju bandara, dan pulang ke tanah air dengan selamat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.