Ojek Sepeda: Saksi Sejarah Keruwetan Jakarta

0
279
Ojek Sepeda
Ojek Sepeda Jakarta.

Jakarta identik dengan kota megapolitan, kemewahan, dan pusat ekonomi. Jakarta bukan hanya ibukota negara saja, kota ini seakan menjadi patokan dan tolak ukur pencapaian berbagai bidang. Ekonomi, pemerintahan, industri, bahkan hiburan seakan berkiblat disini. Maka dari itu urbanisasi dan tradisi “merantau” dari daerah daerah pelosok ke Jakarta seakan hal lazim setiap tahunnya.

Tetapi, banyak orang tak melihat “sisi lain” Jakarta. Jakarta tidak hanya terdiri dari mall dan gedung parlemen saja, Jakarta pun terdiri dari berbagai masalah dan keruwetan. Salah satunya, masalah keruwetan transportasi dan tenaga kerja kasar. Dari zaman Orde Lama sampai hari ini, masalah transportasi dan tenaga kerja kasar menjadi isu yang belum tuntas. Salah satu saksi bisunya adalah ojek sepeda.

Sekitar tahun 1960–an, transportasi masal di Jakarta belum secanggih sekarang. Jangkuan dan mobilitasnya masih terbatas dan seadanya. Maka hadirlah ojek sepeda sebagai pilihan alternatif jarak dekat dan menengah. Sepeda onthel dan kumbang banyak ditemui di daerah Jakarta Kota sampai Priuk, pada akhir 60–an banyak orang yang berprofesi sebagai ojek sepeda. Kelahiran ojek sepeda seakan menjadi “solusi singkat” dari masalah transportasi publik yang tidak memadai dan masalah membludaknya tenaga kerja kasar. Walaupun, pada tahun 70–an, ojek sepeda mulai terganti oleh ojek sepeda motor.

Tetapi, setidaknya, ojek sepeda adalah bentuk awal dari opsi transportasi alternatif untuk mengatasi keruwetan transportasi di Jakarta. Jauh sebelum ojek motor lalu lalang dan sebelum Nadiem Makarim membuat startup ojek online yang inovatif.

Naik Ojek Sepeda (Glodok – Stasiun Jakarta Kota)

Ojek Sepeda Jakarta
Potret Ojek Sepeda Jakarta.

Hari Minggu 27 Januari 2019, saya sedang berjalan kaki dari daerah Glodok menuju Stasiun Jakarta Kota. Trotoar dan jalan cukup sepi, udara pagi pun sejuk sekali. Suasana seperti ini tidak mungkin bisa didapat ketika siang hari, saat pertokoan sedang melakukan jual beli dan jalanan menjadi macet.

Sambil jalan, saya melihat sepeda onthel berjejer di tepi jalan. Setelah bertanya, saya menjadi tertarik naik ojek sepeda. Walaupun saya tinggal berjalan 2 menit saja menuju lokasi tujuan, yaitu Stasiun Jakarta Kota. Saya naik ojek sepeda dan berkeliling di daerah Kota, kurang lebih 30 menit. Sambil mengobrol dengan tukang ojek, dari soal pembangunan di Jakarta sampai perjuangan hidup.

Babeh nampak cukup sulit menggoseh pedal sepeda, saya mungkin cukup berat untuk menumpang sepeda. Perlahan kami melewati pertokoan barang elektronik, jembatan, dan gang. Sembari babeh bercerita bagaimana beliau menghidupi dan menyekolahkan anak anaknya dengan menggoseh sepeda. Babeh mulai ngojek dari tahun 92–an, ojek sepeda adalah pekerjaan utamanya, sebelumnya menjadi pekerja serabutan saja.

Stasiun Jakarta Kota
Stasiun Jakarta Kota.

Beliau lalu bercerita soal banjir di kawasan Jalan Pangeran Jayakarta – Mangga Besar. “Dulu mah kalau banjir bisa sampe 5 hari gak surut surut, yang ngojek (sepeda) juga bisa pulang kampung dulu.” Sambil menggoseh, beliau terus bercerita. “Sekarang mah udah sering dikeruk, yang bersihiin juga rutin, ya membaik lah.”

Tak terasa 30 menit pun berlalu. Kami sudah sampai di depan Stasiun Kota. Ongkos perjalanan hanya 10 ribu saja. Tapi harga cerita dan momen ini tidak bisa dibeli dengan uang. Saya pikir, kegiatan traveling harus menguntungkan juga bagi berbagai pihak, terutama pelaku ekonomi lokal di daerah tersebut. Pada akhirnya ketika kita sedang melakukan perjalanan, kita pun harus sadar bahwa pariwisata seharusnya bisa memberikan rezeki bagi masyarakat lokal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.