Nyanyian Laut Lamera, Nusa Tenggara Timur

0
252
Pengunjung ikut berburu paus.

Panas menyengat ketika kaki menginjak tanah Lembata serta perjalanan melelahkan dari Jakarta hilang sudah berganti dengan semangat yang menggebu. Tujuan utama ke tanah Lembata ini adalah untuk mengikuti perburuan paus yang melegenda sejak abad ke-16 di Lamalera. Lamalera adalah salah satu Whaling Village dari dua desa pemburu paus yang dilegalkan di dunia. Jalanan berdebu juga berbatu kami tempuh demi berkunjung ke desa ini.

Pengunjung ikut berburu paus.

Jarak Lamalera yang berada di Kecamatan Wulondani dari Lewoleba yang merupakan ibu kota Kabupaten Lembata adalah sekitar 52 km, bisa ditempuh selama 2-3 jam perjalanan darat. Lamanya perjalanan dikarenakan kondisi jalan yang tidak bagus. Jalur dari Lewoleba menuju Lamalera melewati tiga kecamatan, yaitu Nubatukan, Nagawutung, dan Wulandoni. Umumnya, jalan aspal yang kondisinya baik hanya 500 meter sampai 1 km di sejumlah titik seperti di Desa Labalimut, Nagawutung.

Banyak kisah mengenai Lamalera yang kami dengar sesampainya di Lembata. Apalagi waktu kami datang ke sana bertepatan dengan diadakannya ritual Misa Arwah dan Misa Leva untuk memulai musim perburuan paus yang dilaksanakan setiap Mei-September.

Nelayan di Lamalera tidak langsung terjun ke laut dan mencari hingga ke tengah Laut Sawu untuk mendapatkan paus. Masyarakat tetap beraktifitas seperti biasa di darat sambil memperhatikan pertanda alam. Mereka menyebut itu sebagai Nyanyian Laut. Ada beberapa pertanda yang diberikan alam apabila akan muncul paus di perairan Lamalera. Misalnya saja suara angin, ombak, burung, dan beberapa yang lain.

Gotong royong mendorong Paledang.

Ketika ada warga yang melihat semburan air ke atas, itu artinya ada paus yang lewat dan seketika itu juga mereka berteriak, “Baleo”. Baleo merupakan sebutan yang diberikan warga Lamalera untuk paus. Kemudian warga sambung-menyambung meneriakkan kata “Baleo” agar semua warga mendengar.

Setelah itu, nelayan akan segera berlari menuju rumah peledang atau Naje dan mendorong peledang (perahu dayung) ke laut. Para istri dengan cekatan segera membungkus bekal makanan dan minuman untuk para suami yang akan berburu. Berburu paus bukanlah hal yang mudah. Warga Lamalera mempunyai peraturan, yaitu paus hanya bisa dikejar sampai batas maksimal sejauh pandangan mata ke arah kapel yang ada di pantai.

Jika kapel tersebut sudah tidak terlihat, maka mereka harus kembali ke kampung karena itu pertanda bahwa paus tersebut tidak diperuntukkan bagi mereka. Mereka percaya  bahwa paus yang memang diperuntukkan untuk mereka akan datang dengan sendirinya tanpa mereka harus mengejar melewati batas teritori perburuan karena itu melanggar adat.

Berburu paus.

Nelayan di Lamalera selalu mengincar paus sperma atau Koteklema yang memiliki semburan tepat di atas kening. Nelayan Lamalera tidak memburu paus biru atau Kelaru yang memiliki semburan tepat di atas kepala mereka. Mereka tidak memburu paus biru karena itu merupakan perintah dari nenek moyang. Selain Koteklema, nelayan Lamalera juga memburu orca atau paus pembunuh. Dalam istilah Lamalera, paus pembunuh disebut Seguni.

Tapi sayangnya, orca jarang sekali melintas di perairan Lamalera. Terkadang hanya setahun sekali atau bahkan sampai beberapa tahun. Orca merupakan paus dengan tingkat perlawanan paling ganas. Kekuatannya sangat besar ketika memberontak saat para nelayan menangkapnya.

Nelayan yang bertugas menghujamkan tombak atau Tempuling ke paus disebut LamafaLamafa akan berdiri di ujung peledang yang digunakan untuk berburu paus. Untuk paus sperma, tombak dihujamkan tepat di belakang kepala karena di situlah bagian yang lunak. Sebaliknya, memburu orca lebih sulit karena para nelayan Lamalera mengincar bagian ketiaknya agar tempuling bisa menusuk langsung ke jantung paus pembunuh itu.

Di atas Paledang berburu Paus.

Kalau paus sudah ditikam, perahu bisa diseret masuk ke lautan. Karena itu perjuangan para nelayan Lamalera sangatlah berat. Banyak nelayan yang gugur ketika berburu paus. Bahkan pernah ada yang diseret oleh paus sampai ke perairan Australia selama beberapa hari sampai akhirnya mereka ditemukan oleh sebuah kapal pesiar.

Untuk mengenang para nelayan yang gugur, maka setiap awal musim perburuan diadakan Misa Arwah. Misa Arwah dilaksanakan sore hari dipimpin oleh seorang pemuka agama Katholik di sebuah kapel yang berada di pinggir pantai. Warga Lamalera berkumpul menggunakan sarung adat. Suasana syahdu dan mistis terasa ketika misa dimulai. Berbaur dengan suara deru ombak, angin yang berhembus, dan matahari yang beranjak luruh di garis cakrawala.

Setelah khotbah selesai, di bawah siraman bulan purnama penduduk Lamalera menyalakan lilin yang kemudian dihanyutkan ke laut lepas setelah melewati proses pemberkatan. Keesokan harinya baru dilaksanakan Misa Leva yang dimaksudkan untuk pemberkatan peledang dan meminta berkat laut agar perburuan berjalan lancar dengan hasil yang maksimal dan para nelayan kembali dengan selamat.

Misa Leva pagi hari.

Setelah pemberkatan peledang selesai, peledang segera didorong ke laut dan para nelayan memulai perburuan. Hari pertama sesudah misa perburuan dilakukan hanya secara simbolis saja, tetapi jika ada paus yang nampak, perburuan tetap dilakukan.

Waktu kami ke sana, beberapa jam setelah peledang diluncurkan, terdengar ramai warga meneriakkan “Baleo”. Antara kaget dan gembira yang kami rasakan. Ternyata kami beruntung mengikuti misa dan sekaligus mendapatkan paus.

Beramai-ramai warga segera menuju ke Naje dan bergotong royong mendorong peledang ke laut sambil berloncatan menaikinya. Saya pun ketika mendapat tawaran untuk bergabung dengan para pemburu, langsung menerimanya dengan sukacita. Tak peduli panas terik menyengat dan sepatu basah oleh air laut, saya langsung meloncat ke atas peledang. Seketika terbayang heroiknya film In The Heart of The Sea yang dibintangi oleh Chris Hemsworth.

Misa Arwah sore hari.

Peledang yang digunakan sebenarnya hanyalah perahu dayung biasa yang dilengkapi layar. Tetapi sekarang, agar lebih mudah menarik paus ke pantai, peledang tersebut ditarik oleh perahu motor. Jadi, satu perahu motor dialokasikan untuk menarik satu peledang. Apabila paus sudah didekati, peledang akan dilepaskan oleh perahu motor untuk membiarkan sang Lamafa beraksi. Setelah paus berhasil ditaklukan, perahu motor tersebut akan membantu menarik paus ke pantai.

Selain perburuannya yang menegangkan, pembagian daging paus hasil buruan juga merupakan pemandangan yang menarik. Pembagian daging paus merupakan tradisi turun-temurun yang ditaati oleh semua orang Lamalera,  sehingga dipastikan tidak ada rebutan saat daging itu dipotong.

Daging paus yang dijemur.

Sayangnya, paus yang kami buru waktu itu terlepas. Tetapi, keesokan harinya ketika kami sudah sampai di Lewoleba, kami mendapat kabar bahwa paus yang kemarin terlepas akhirnya bisa ditangkap. Alam rupanya juga senantiasa berpihak kepada masyarakat Lamalera dengan mengantarkan paus ke lautan di hadapan mereka. Setiap tahun, paus-paus itu bermigrasi antara Samudera Hindia dan Pasifik melewati Laut Sawu tepat di depan pintu Pulau Lembata selama bulan Mei sampai September.

Perihal perburuan pada satwa yang dilindungi itu, mantan Menteri Lingkungan Hidup Sonny Keraf mengatakan saat jumpa pers Festival Adventure Indonesia 2014 di Jakarta, “Kegiatan perburuan paus dilakukan untuk seluruh rakyat Lembata, bukan secara individual. Kita tidak mengabaikan lingkungan hidup, tapi budaya juga perlu dikembangkan.”

Perburuan paus di Desa Lamalera, Lembata, merupakan bagian budaya turun temurun dan dilakukan secara tradisional. Walaupun menuai kritik dari para pemerhati lingkungan, budaya ini sah di mata internasional. Perburuan paus tradisional sudah diakui dunia internasional dan tradisi ini hanya ada di Kanada dan Indonesia saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.