Nunggu Anti Bosan di Taman Borobudur Mini Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta

0
65
Landmark simpel Bandara Adi Sucipto.

Menunggu seseorang di bandara atau menunggu pesawat yang delay adalah hal yang sangat membosankan. Apalagi jika tidak terdapat hiburan apapun di dalamnya. Beruntungnya, Bandara Adi Sucipto ini memiliki sebuah taman mini yang asyik buat tempat menunggu.

Lokasi taman berada di depan bandara yang tidak begitu luas itu. Di dalamnya terdapat miniatur Borobudur dan patung Buddha, persis seperti Borobudur sungguhan. Ada pula kolam mini dengan pohon rindang membuat waktu menunggu kita tidak begitu membosankan. Sayangnya, space taman tidak begitu luas mengingat bandaranya juga kecil. Untungnya suasana di taman tidak begitu ramai.

Kita bisa duduk santai sambil menunggu seseorang atau menunggu pesawat. Kita tak perlu khawatir biaya masuk karena masuk ke taman ini tidak dipungut biaya alias gratis. Tinggal masuk saja karena namanya juga taman, jadi terbuka dan menyatu dengan alam. Mana lagi ada bandara yang menyediakan taman di luar? Biasanya juga taman indoor yang dipaksakan karena tidak ada lagi ruang terbuka.

Patung budha di taman mini bandara.

Selain taman di bandara, Adi Sucipto juga menawarkan sebuah akses yang mudah. Ini membuktikan bahwa berpergian tak perlu cemas karena mudahnya akses transportasi dan integrasi yang baik. Integrasi transportasi ini harusnya juga ditiru oleh semua bandara agar perjalanan ke bandara tidak membuat orang khawatir.

Saya tidak menemukan sebuah bandara yang harganya murah dan mudah diakses oleh semua jenis kendaraan, baik transportasi umum maupun pribadi, selain Bandara Adi Sucipto. Bandara yang terletak di tengah Kota Yogyakarta ini menawarkan banyak pilihan akses transportasi yang sangat mudah dan murah. Biasanya kalau mau ke bandara, maka harus naik damri atau kereta bandara terlebih dahulu yang harganya bisa sampai Rp 50.000 – Rp 70.000.

Padahal jika naik kereta lokal atau bis umum tidak sampai semahal itu. Hanya dengan Rp 5000 seperti saat naik KRL atau TransJakarta, kita bisa sampai ke tempat tujuan. Sayangnya tidak ada dua jenis kendaraan umum tersebut untuk menuju Bandara Soekarno Hatta atau Halim Perdana Kusuma. Pun di berbagai bandara lainnya di Indonesia. Ini membuat orang yang tak punya kendaraan pribadi menjadi lebih cemas.

Kutipan Sejarah Candi Borobudur.

Berbeda dengan Bandara Adi Sucipto yang lokasinya berdekatan dengan Stasiun Meguwo. Stasiun itu bukan stasiun khusus bandara yang harga tiket keretanya bisa berpuluh-puluh ribu. Stasiun Meguwo ini adalah stasiun umum di mana banyak kereta lokal yang juga berhenti di sana. Apalagi lokasinya persis di depan bandara. Harga tiket kereta api pun sangat murah meriah di kantong.

Tak hanya stasiun lokal, di depan bandara juga terdapat Halte TransJogja. Mana ada halte TransJakarta di depan Bandara Soekarno Hatta? Yang ada hanya halte Damri saja. Namanya transportasi trans, pasti harga tiketnya sangat murah. Dengan Rp 3500 saja, kita bisa keliling kota sampai berhenti di depan bandara.

Dari halte atau stasiun pun tidak begitu jauh, tinggal jalan kaki saja. Inilah yang saya sebut sebagai akses yang mudah karena semua yang naik pesawat belum tentu orang berada. Siapa tahu dia dibayarin tiket pesawatnya jadi banyak yang mikir-mikir jika harus naik kereta bandara yang mahal maupun bus khusus Damri yang juga lumayan mahal.

Sudah aksesnya mudah, taman asri pun tersedia rapi dan menawan, membuat kita tak perlu cemas dan khawatir terhadap pengeluaran. Apalagi makanan di Yogyakarta juga sangat bersahabat di kantong. Inilah yang namanya bandara, menyediakan tempat hijau terbuka dan memiliki akses yang mudah tapi juga murah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.