Nostalgia Masa Lalu di Kota Lama Semarang

0
584
Kafe dan rumah makan bergaya ekletisisme.

Salah satu kota yang menjadi favorit tujuan saya jalan-jalan adalah Semarang. Kota ini menyimpan berbagai peninggalan sejarah yang tersebar di seluruh penjuru kota. Tak hanya dalam bentuk bangunan museum, peninggalan tersebut terlokalisasi dalam sebuah wilayah yang cukup luas. Apalagi, kalau bukan Kota Lama namanya.

Kedatangan saya ke kota ini disambut dengan promo cashback BRT Trans Semarang sebesar 50% jika menggunakan pembayaran sebuah dompet digital. Saya makin semangat. Saya bertekad akan sekuat tenaga berjalan kaki untuk menyampai halte Trans Semarang dan menuju tempat ini.

Selepas BRT Trans Semarang yang saya naiki berputar-putar dari penginapan saya di daerah Layur, saya pun tiba di halte Kota Lama. Tepatnya, di seberang Museum DMZ yang sedang dicat. Beberapa pekerja tampak sedang mengecat bangunan bergaya ekletisisme itu. Sebuah gaya yang banyak dibangun pada periode 1930an. Ya, kawasan Kota Lama ini merupakan kawasan yang berkembang pesat pada periode 1920 hingga 1930. Jadi, banyak bangunan di sini didominasi dengan gaya yang memiliki banyak jendela persegi dengan jendela kaca kecil pada bagian atas tersebut.

Banyak pengunjung yang terkesan dengan bangunan lawas di sini.

Saya berjalan perlahan dan menemukan sebuah kenyamanan. Bagai memasuki lorong waktu, suasana jadul yang menaungi tempat ini membuat saya kembali ke masa lalu. Saat tempat ini begitu eksklusif dan hanya bisa dimasuki oleh golongan tertentu terutama orang Eropa. Sesuai fakta pada buku sejarah yang saya baca, tak boleh ada orang di luar itu yang boleh masuk.

Kini, semuanya sudah berubah. Semua boleh masuk dan menikmati tempat ini. Termasuk, anak-anak muda yang sedang berusaha mendapatkan hasil foto yang maksimal. Mereka mengelilingi sebuah pohon besar yang akarnya terlihat menyembul keluar. Pohon ini menempel pada sebuah bangunan lawas dan memang dibiarkan saja seperti itu. Agar menjadi ikon yang cantik bagi siapa saja yang sedang bernostalgia di Kota Lama Semarang.

Ikon Kota Lama berupa pohon yang menempel di sebuah bangunan.

Saya tak berniat mengambil foto ikon itu. Lantaran, saya lebih tertarik memotret suasana yang ada di sana. Sambil duduk-duduk di pinggir jalan, saya begitu menikmati lalu-lalang orang yang melewati Kota Lama Semarang. Terlebih, jika saya menemukan banyak pesepeda yang hilir mudik, baik dari arah Stasiun Semarang Tawang maupun dari arah pusat kota.

Revitalisasi Kota Lama ini masih terus berjalan. Bangku-bangku taman yang cantik banyak yang masih ditata serta lampu taman juga sedang diperbaiki. Sambil duduk manis dan menikmati lagu Tanjung Mas Ninggal Janji, saya berharap agar proyek ini nantinya bisa berhasil dan Kota Lama menjadi ikon yang benar-benar asyik dikunjungi.

Di depan saya, aneka kafe yang mulai dibangun dari hasil revitalisasi mulai buka. Kafe-kafe itu rata-rata memiliki balkon yang dapat digunakan pengunjung untuk menikmati sore di Kota Lama. Saking senangnya menikmati Kota Lama sore itu, saya sampai lupa belum salat Asar. Padahal, waktu sudah mendekati Maghrib.

Masjid Pekojan Semarang, salah satu pusat penyebaran agama Islam di Semarang.

Akhirnya, saya berjalan ke arah menuju ke deretan pertokoan yang membatasi wilayah Kota Lama Semarang dengan daerah lainnya. Setelah berjalan selama sekitar 500 meter, akhirnya saya menemukan sebuah masjid cukup besar dengan menara tinggi. Masjid berwarna hijau ini ternyata masih berhubungan dengan kawasan Kota Lama Semarang.

Ini adalah Masjid Pekojan. Masjid ini merupakan masjid tertua di Kota Semarang. Masjid Pekojan juga menjadi salah satu pusat penyebaran agama Islam di Semarang. Di masjid ini pula terdapat beberapa makam yang tersebar di bagian beranda. Selepas menunaikan Salat Asar, saya kembali bernostalgia di kawasan Kota Lama yang penuh bangunan bersejarah.

Sudah sepantasnya kita jaga kelestariannya agar tempat ini tetap bernilai historis tinggi. Menjadi ikon Kota Semarang dan bisa jadi jujugan wisatawan, tidak hanya domestik namun juga mancanegara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.