Nostalgia di Saung Mulan, Cibuluh

0
159
Homestay di Saung Mulan.

Mumuluk, ngalanglang, ngadaweung, morongkol, ngojay, ngopi, siduru, moyan, beubeuleuman. Sebuah papan kayu bertuliskan kata-kata tersebut dipasang di sebuah gapura yang menghiasi sebuah jembatan di Saung Mulan. Itu adalah kata-kata dalam Basa Sunda. Sayangnya, kata-kata tersebut hanya sebagian yang saya ketahui artinya. Sisanya adalah kosakata baru yang saya dapat saat mengunjungi Saung Mulan. Kurang lebih artinya menggambarkan aktifitas makan, bersantai, ngobrol dan bakar-bakaran. Semua kegiatan tersebut merupakan berbagai kegiatan yang bisa dilakukan di Saung Mulan.

Saung Mulan terletak di Jl Bolang 3 RT 15/04 Cibuluh, Kab. Subang. Saung ini termasuk ke dalam wilayah Desa Wisata Kabupaten Subang. Saya tidak sengaja berkunjung ke saung ini. Awalnya karena saya ingin menghabiskan waktu selama menunggu pembukaan Festival Angin yang akan dilakukan pukul 10 pagi. Oh ya, kedatangan saya ke Desa Cibuluh itu sendiri adalah karena ingin melihat perhelatan tahunan dari desa wisata ini, yaitu Festival Angin bersama rombongan Komunitas Aleut. Festival ini adalah sebuah festival untuk merayakan datangnya angin barat sebagai tanda pergantian musim. Kerena ada waktu kosong untuk menunggu sampai acara pembukaan festival dimulai, maka saya dan seorang kawan memutuskan untuk jalan-jalan melihat desa ini.

Gapura kayu penanda lokasi Saung Mulan.

Letak Saung Mulan tidak begitu jauh dari lapang desa tempat diadakannya festival tersebut. Dari lapang desa itu, kamu tinggal berjalan ke arah kiri lapang. Kemudian kamu akan menemukan jalan yang sedikit menurun. Di sebelah kiri jalan ada gapura yang terbuat dari papan kayu bertuliskan Saung Mulan. Saya pun melangkah masuk ke gapura tersebut. Rupanya jarak dari gapura ke saung itu cukup jauh. Kamu harus menyusuri anak tangga yang lumayan banyak. Permukaan anak tangganya licin apalagi setelah diguyur hujan. Jadi, berhati-hati lah saat menitinya ya! Saat saya masuk ke dalam, seorang bapak yang merupakan warga desa tersebut bertanya ke mana kami akan pergi. Saya jawab ke Saung Mulan. Bapak tersebut menunjukan sebuah tempat yang berada di atas jalan setapak itu. “Tah ieu Saung Mulan,” seru si bapak. Di sekitar itu tidak ada signage yang menunjukan lokasi tepatnya saung berada.

Dari luar, Saung Mulan terlihat seperti tepas atau dalam Bahasa Indonesia artinya serambi. Ini merupakan sebuah rumah sederhana yang pemiliknya pastilah seorang yang doyan berkebun karena di situ banyak sekali pohon dan bunga-bungaan cantik yang saat lagi berbunga. Bahkan atap saung ditutupi oleh sulur-sulur tumbuhan markisa. Seorang laki-laki menyambut saya dan mempersilahkan masuk. Alih-alih mencari tempat duduk, saya malah terus melangkah masuk ke dalam.

Jalan setapak menuju Saung Mulan.

Di sisi lain dari saung ini, saya menemukan pemandangan yang indah berupa penampakan gunung-gunung yang mengelilingi Kabupaten Subang. Gunung-gunung itu adalah Gunung Canggah yang saat itu puncaknya ditutupi kabut. Lalu ada Gunung Banjaran, dan gunung-gunung lainnya. Saya semakin penasaran dengan tempat ini, maka saya meneruskan jalan-jalan melihat ke sekililing Saung Mulan. Saung ini hampir semua bahannya terbuat dari kayu dan bambu yang dibuat tanpa cat atau dilapisi varnish. Furnitur dan peralatan makannya terbuat dari bahan yang sama. Itu membuat kesan berada di desa terasa sekali.

Perkara menu, Saung Mulan menyajikan makanan dan camilan tradisional. Kopi dan susu bisa dipesan di sana. Harganya relatif murah. Kang Udan bercerita bahwa saat Ramadhan banyak yang memesan paket buka puasa bersama. Itu adalah salah satu momen sibuk yang biasa dialami di Saung Mulan. Momen sibuk lainnya adalah ya di hari itu. Hari itu bertepatan dengan diselenggarakan Festival Angin di Cibuluh. Banyak pejabat Kabupaten Subang dan instansi-instansi lain yang terlibat dalam festival tersebut yang hadir dalam upacara pembukaan Festival Angin. Ketika jam makan siang para pejabat itu digiring menuju Saung Mulan untuk menikmati santap siang.

Menu yang disajikan benar-benar menggugah selera. Ada nasi liwet, ikan asin, tahu, tempe, semur jengkol, daging bebek dan sambal lengkap dengan lalabnya. Kang Udan juga menyediakan karedok. Beuhh..mantap pisan atuh ini mah! Sederhana tapi nikmat.

Sudut di Saung Mulan.

Aneh juga Saung Mulan ini. Padahal tidak begitu luas, tapi kesibukannya menyamai café-café hits di kota besar lainnya. Cukup lama  saya berada di situ, dari pagi sampai menjelang sore, sampai lupa festival anginnya malah. Kang Udan dan pegawai lainnya bolak-balik mengantarkan pesanan pengunjung. Menurut penuturan Kang Udan, akhir pekan dan musim liburan adalah saat-saat Saung Mulan dipenuhi oleh pengunjung. Mereka berkumpul untuk mengobrol, diskusi atau sekedar bertemu dengan kawan dan pasangan.

Saat bulan purnama adalah saat-saat yang banyak dinantikan oleh pengunjung Saung Mulan. Saat itu merupakan saat di mana pengunjung bisa Mulan atau kegiatan yang dilakukan saat  bulan purnama.  Di sinilah gelaran aneka pertunjukan seni diadakan. Inilah arti dari Saung Mulan itu sendiri, saung yang dibuat untuk berkegiatan sambil menikmati bulan purnama.

Saya jadi ingat masa kecil saya di kampung. Dulu, ketika bulan purnama muncul biasanya orang-orang keluar rumah menikmati cahaya bulan. Anak-anak kecil bermain permainan tradisional, bapak-bapak main catur atau ngawangkong bersama kawannya sedangkan ibu-ibu menyajikan camilan dan berkumpul dengan ibu-ibu lainnya sambil membicarakan perkara anak atau curhat mengenai kehidupan rumah tangganya.

Sudut di Saung Mulan. Dari sini bisa lihat pemandangan gunung-gunug, sawah dan rumah-rumah penduduk di bawahnya.

Berada di Saung Mulan jadi membangkitkan kenangan masa kecil saya di kampung halaman. Suasana pedesaan yang kental sekali terasa di sini. Kalau biasanya café-café lain hanya menghadirkan suasana desa tapi dikemas dengan modern dan di Saung Mulan suasananya memang sudah sangat desa tanpa terlihat berusaha menghadirkan suasana desa.

Ngomong-ngomong saya jadi ketinggalan perhelatan Festival Angin yan menjadi tujuan utama saya datang ke Subang ini. Dari tadi saya hanya mendengar kemeriahan acara dan suara dentuman musik yang terdengar sampai ke Saung Mulan. Saya terlalu asyik mengamati kegiatan orang-orang di sana dan semua hal yang ada di dalamnya. Tapi tidak apa,tahun depan mungkin ada lagi festival yang sama seperti ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.