Nongkrong Asik di Padang Rumput yang Tak Kalah Hijau Dengan Pegunungan Alpen Austria

0
2281
Seru jalan-jalan di padang rumput.

Bromo, sebagai ikon Jawa Timur memang telah mencuri hati saya sejak kunjungan saya yang pertama pada 2014 silam. Saya telah jatuh cinta padanya dan rela mengunjunginya berkali-kali sekedar untuk melepas rindu. Bagi sebagian orang, adalah tidak lazim bila mengunjungi sebuah wanawisata yang sama lebih dari satu kali. Tapi somehow, saya mengagumi diri sendiri untuk keteguhan hati dalam memperjuangkan apa-apa yang saya cintai serta kemampuan untuk tidak selalu tunduk pada apa-apa yang orang sebut kelaziman. Hehe.

Maka, saya kembali nge-trip ke Bromo dengan teman-teman yang berbeda. Adalah trip ke Bromo yang kesekian. Kali itu saya ngetrip berempat dan kami melakukan perjalanan dengan bermotor dari Surabaya. Kami berangkat pukul 6.43. Setelah berkendara hampir dua jam, kami berhenti istirahat di salah satu masjid di Probolinggo. Kami istirahat cukup lama, hampir satu jam, sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Dari Surabaya, kita cukup mengikuti jalan raya utama menuju Probolinggo sampai di pertigaan Tongas yang ada plang besar bertuliskan “Kawasan Wisata Bromo”. Jalan ke Bromo mulai menanjak ketika memasuki Kecamatan Lumbang hingga nanti tiba di Puncak di Desa Ngadisari.

Beberapa kali motor yang kami bawa tak kuat naik sehingga terpaksa si teman yang saya bonceng harus berjalan kaki. Dan ada satu ruas jalan yang sedari awal saya kuatirkan motor tak kuat naik di mana ruas jalan tersebut cukup panjang, sehingga akan cukup melelahkan bila berjalan. Dan ternyata kekhawatiran saya benar, motor tidak kuat, sehingga lagi-lagi yang saya bonceng harus jalan kaki di jalan yang menanjak. 😂😂

Tiba di suatu tanjakan berikutnya, tepat pas di puncaknya, tiba-tiba motor mati mendadak. Masih saya yang menyetir. Ya sudah, refleks saya pinggirkan saja dengan santai dan tidak panik sedikit pun. Kawan yang di motor satunya langsung ikut meminggirkan motor. Niatnya, kami akan duduk sebentar sembari meluruskan kaki. Jadi kami benar-benar santai dan tidak takut walau motor mati mendadak di tengah jalan yang masih jauh dari kawasan penduduk.

Begitu kami hendak meluruskan kaki, mendadak saya ingin makan pentol. “Aku kok kepingin makan pentol,” kata saya waktu itu. Pentol adalah semacam bakso tanpa kuah yang dimakan bersama bumbu kacang pedas.

Lalu seperti malaikat yang datang, tiba-tiba ada penjual pentol melintas. Alhasil, kami duduk manis di pinggir jalan sambil makan pentol. Lupa urusan motor yang mati mendadak.

Selesai kami makan pentol, ternyata motor kembali hidup lagi dengan ikhlasnya. Waw. Kami lalu melanjutkan perjalanan menuju ke tempat penginapan. Karena saya sudah beberapa kali ke Bromo, saya hendak menuju penginapan yang terakhir kali saya inapi. Namun penginapan tersebut ternyata penuh, sehingga kami mencari tempat lain.

Di sana kami ditawari kamar untuk empat orang dengan 2 kamar yang harganya 150 ribu per kamar atau kamar yang untuk 4 orang dengan tarif 250 ribu rupiah. Tapi rasanya tidak afdhol ya kalau langsung terima tanpa diskon. Dan dengan sedikit bermanis mulut, akhirnya kami dapat kamar untuk berempat dengan harga 200 ribu saja. Yeeey!

Berasa jadi putri di negeri dongeng. Swag!

Tujuan kami pada hari pertama adalah mengunjungi padang Savana. Rencananya kami naik ojek ke Savana lalu pulang jalan kaki sepanjang 8 (delapan) kilometer. Ahahaha. Ekstrim khan? Tarif ojek ke Savana adalah 25 ribu per orang. Sedangkan kalau naik jeep, sewa jeep sekitar 350 ribu.

Lagi-lagi seperti malaikat, seorang Bapak penyewa jeep menawari kami. Saya langsung meminta harga 100 ribu untuk diantar ke padang Savana. “Pak, seratus ribu ya ke padang Savana? Nanti pulangnya kami jalan kaki. Kalau bapak nggak mau, kami naik ojek saja.” jawab saya santai.

Seruuuu foto rame-rame gaya levitasi di padang rumput.

Bapak Jeep terbelalak. Kelihatannya beliau kaget mendengar rencana kami yang akan jalan kaki saat kembali. Beliau menegaskan, “berangkatnya saja ya?” dan saya iyakan dengan mantap penuh keyakinan.

Akhirnya kami sepakat untuk dijemput jam 1 siang. Maka kami berempat pun tidur siang dulu. (wisatawan macam apa yang sempat-sempatnya tidur siang?)

Tepat jam 1 Bapak penyewa jeep dan kawannya datang. Namun kami masih belum siap. Sungguh memalukan! Bapak penyewa jeep pun sabar menunggu kami.

Akhirnya kami naik jeep ke padang Savana. Dan ternyata? Bapak penyewa jeep ada keperluan ke daerah Tumpang yang ada di balik padang Savana. Beliau meminta kami menunggunya untuk pulang bersama. Beliau pun gratiskan biaya pulang. Wah, so sweet sekali bukan?

Tidak sampai di situ, Bapak penyewa jeep malah membawa kami ke Jemplang, agar bisa lebih bersantai karena di sana ada warung-warung penjual makanan. Hmmm moment yang super tepat, di saat kami lapar dan belum makan siang.

Nongki, nongkrong cantik di padang Savana.

Saya kemudian menyerahkan uang 100 ribu sebelum Bapak Penyewa Jeep berangkat ke Tumpang, namun beliau malah menolak! Beliau meminta kami membayar nanti saja. Luar biasa so sweet khan? Beliau lalu meminta kami menunggu sekitar satu jam.

Saat itu turun hujan. Romantis. Belum satu jam kami sudah selesai makan siang. Kami memutuskan berjalan duluan daripada berdiam menunggu di warung makan. Kami pun berjalan kaki di bawah rintik-rintik hujan yang manis. Hingga tiba-tiba kaki seorang teman yang pernah kecelakaan, terasa sakit. Kami lalu berhenti sejenak. Dan lagi-lagi? Seperti malaikat, Bapak Penyewa jeep datang! Luar biasa!

Di luar dugaan lagi, Bapak Penyewa Jeep harus kembali lagi ke Tumpang. Kami lantas diturunkan di salah satu titik di Padang Savana, sementara beliau kembali ke Tumpang. Beliau mempersilahkan kami menikmati padang Savana sepuasnya. Dan kali ini beliau sendirian ke Tumpang, sehingga kawannya bisa jadi tukang foto buat kami. Luar biasa!

Saking bahagianya ini.

Padang Savana merupakan hamparan rumput yang luasnya sekitar 10 kilometer persegi dan dikelilingi dengan bukit-bukit di kawasan puncak Kaldera Tenger. Padang Savana dipenuhi dengan rerumputan yang hijau pada saat musim penghujan. Kombinasi rumput yang hijau dan bukit-bukit ini tak ubahnya lembah di Pegunungan Alpen Austria.

Saya suka walau hanya sekedar berjalan di atas rerumputan hijau Savana sambil menikmati sejuknya hawa dingin di pegunungan dan memandangi bukit-bukit yang mengelilingi padang rumput. Saya pun jadi merasa seakan sedang berada di negeri dongeng ala Barbie, seperti yang ada di film animasi Barbie as rapunzel atau Barbie of Swan Lake atau lainnya. Hahaha. Lama kami berfoto ria dan berjalan-jalan di Savana, justru menghadirkan perasaan yang semakin dilematis. Antara tetap di sana atau kami harus kembali ke realita. Hiks

Ketika Bapak Penyewa Jeep datang, kami terpaksa kembali ke Penginapan. Dan perjalanan hari itu setidaknya telah meninggalkan foto-foto ciamik ala putri di negeri dongeng atau setidaknya kenangan serasa di lembah pegunungan Alpen Austria. Bagaimana Sahabat TravelBlog? Menarik bukan? Selamat menunjungi Padang Savana di musim penghujan ya. 😉

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.