Napak Tilas Dunia Jurnalistik di Museum Pers Nasional Solo

0
162
Museum Pers Nasional.

Apakah Anda tipikal orang yang selalu update berita terkini setiap harinya? Kalau iya, melalui media apa anda biasa membaca berita? Apakah masih dari koran, atau sudah melalui media online yang diakses dari smartphone? Jika anda pembaca berita sejati, belum afdol rasanya jika belum napak tilas dunia jurnalistik dari awal sejarah perkembangannya hingga di era modern seperti sekarang ini jika belum berkunjung ke Museum Pers Nasional!

Museum Pers Nasional terletak di Jalan Gajah Mada No. 76, Banjarsari Surakarta, tepatnya hanya sekitar 700 meter saja dari Stasiun Solo Balapan. Ketika sampai, Anda akan disambut oleh bangunan bebatuan megah mirip candi lengkap dengan patung-patung gagah dan uliran patung naga di ujung-ujung sisi tangga. Usut punya usut, ternyata gedung ini sudah berdiri sejak tahun 1918 lho! Gedung ini dulunya juga merupakan saksi bisu terbentuknya Pesatuan Wartawan Indonesia (PWI) sebagai organisasi kewartawanan pertama yang bersifat nasional. Hingga sekarang, gedung bersejarah ini pun masih menyatu dengan kantor PWI cabang Surakarta yang berada di sayap kanan gedung.

Setelah melewati pintu masuk, Anda akan diminta untuk mengisi data terlebih dahulu sebelum diperbolehkan masuk ke dalam museum. Tenang saja, museum yang berada dibawah naungan Kominfo ini tidak dipungut biaya alias gratis kok, bahkan Anda akan diberikan kode akses wifi yang dapat digunakan unlimited selama 5 jam!

Lima patung tokoh berpengaruh di dunia jurnalistik Indonesia.

Masuk ke dalam museum, terdapat aula besar yang biasa dipakai untuk berbagai event dan pertemuan. Ketika saya berkunjung ke museum, aula sedang digunakan untuk pameran foto jurnalistik. Belasan foto jurnalistik dengan latar belakang Kota Surakarta pun dipajang di berbagai sisi aula museum sehingga pengunjung bisa bebas melihat-lihat foto jurnalistik yang ada. Adapun di sisi aula terdapat lima patung tokoh berpengaruh di dunia jurnalistik Indonesia, yakni Dr. GSSJ Ratulangi, R.M. Tirto Adhi Soerjo, R. Darmosoegito, R.M. Soedarjo Tjokrosisworo, dan Djamaluddin Adinegoro. Tak lupa penjelasan sejarah masing-masing tokoh pun terpampang di bagian bawah patung. Di sisi sayap kanan dekat dengan pintu masuk, pengunjung disuguhi sejarah gedung museum berdiri, mulai dari awal dibangun, berbagai peristiwa sejarah yang terjadi di gedung ini, hingga renovasi-renovasi yang dilakukan untuk merevitalisasi gedung ini.

Masuk ke sayap kiri gedung, terdapat sebuah ruangan yang mengupas sejarah pers di Indonesia, mulai dari sejarah terjadinya pers dan jurnalistik di Indonesia dari zaman kolonial hingga perkembangan pers di Indonesia hingga saat ini. Masuk ke ruangan ini bagaikan sedang menapak tilas sejarah perkembangan pers di Indonesia. Selain memuat berbagai penjelasan yang terpampang di dinding-dinding yang disusun mengitari ruangan, ruangan ini juga dilengkapi berbagai koleksi sejarah yang lengkap dan teknologi interaktif sehingga membuat pengunjung tertarik dan lebih memahami pesan sejarah yang ingin disampaikan. Di ruangan ini juga dipajang beberapa artefak milik para jurnalis dari berbagai zaman, seperti mesin TIK milik Bakrie Soeraatmadja, hingga kamera milik jurnalis surat kabar harian Bernas yang ditangkap saat meliput skandal korupsi tahun 1985. Tidak hanya sejarah perkembangan, ruangan ini juga mengupas tuntas sejarah kelam kisah pembunuhan beberapa jurnalis yang pernah terjadi di masa lalu.

Mesin Tik milik Bakrie Soeraatmadja.

Selain itu, museum pers nasional juga menyimpan ribuan koleksi buku, koran, dan majalah yang berada di fasilitas Perpustakaan Museum Pers Nasional. Perpustakaan ini berada di gedung bagian belakang museum, dan dapat diakses oleh seluruh pengunjung. Umumnya perpustakaan ini dipenuhi oleh mahasiswa dan pelajar yang ingin mencari referensi tugas, tapi ada pula yang sekedar ingin melihat-lihat koleksi yang ada. Kerennya, koleksi koran dan majalah yang dimiliki perpustakaan ini sangat lengkap lho! Mulai dari orde lama, orde baru, hingga di orde reformasi seperti sekarang ini. Adapun dikarenakan kondisi usia kertas yang sudah sangat lama, untuk seluruh koleksi orde lama sudah didigitalisasi sehingga hanya bisa diakses melalui komputer khusus yang tersedia saja.

Bagi Anda yang tertarik dengan perkembangan pers dan jurnalistik, mengunjungi Museum Pers Nasional wajib untuk dikunjungi! Selain mengedukasi, museum ini juga tidak memungut biaya apapun alias gratis. Jadi, tertarik napak tilas dunia jurnalistik di Museum Pers Nasional?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.