Museum De Tjolomadoe, Pabrik Tua yang Kini Menjadi Tempat Wisata

0
515
Tampak dari bagian depan Museum De'Tjolomadoe.

Beberapa bulan terakhir ini saya sering sekali pulang pergi dari Semarang-Solo dan kembali lagi Solo-Semarang karena ada urusan yang ingin saya selesaikan, setiap saya pergi maupun pulang selalu melewati De Tjoloemadoe. Pabrik ini seperti memberikan daya tarik tersendiri untuk saya kunjungi. Setelah sekian lama yang awalnya hanya melewati saja, akhirnya saya kesampaian berkunjung ke De Tjolomadoe eks-Pabrik Gula Colomadu yang sudah berhenti beroperasi pada tahun 1998.

Jika kalian sedang berada di daerah Solo atau sekitarnya, sempatkan berkunjung ke Museum De Tjolomadoe untuk menikmati sensasi liburan yang berbeda. Lokasi Museum De Tjolomadoe tidak terlalu jauh dari pusat Kota Solo sekitar 12 KM, tepatnya berada di Jalan Adi Sucipto, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar.

Setelah saya membeli tiket masuk dengan harga Rp25.000, saya langsung menuju pintu masuk. Pertama kali masuk ke dalam De Tjolomadoe, saya sudah dikejutkan dengan pemandangan stasiun penggiling yang begitu besar bekas peninggalan pabrik gula ini, masih kokoh berdiri di dalam De Tjolomadoe. Selain itu, ada juga beberapa foto-foto lama saat pabrik gula masih beroperasi. Selain stasiun penggiling, ternyata masih ada stasiun-stasiun lain yang masih berdiri kokoh seperti stasiun penguapan, stasiun masakan, stasiun listrik, stasiun ketelan, dan stasiun karbonatasi.

Stasiun Gilingan.

Puas melihat stasiun-stasiun yang masih berdiri kokoh, akhirnya saya masuk ke dalam Museum De Tjolomadoe yang memang diberikan ruangan khusus untuk mengetahui sejarah perkembangan De Tjolomadoe. Di ruangan pertama terdapat kronologi perkembangan Pabrik Gula Colomadu dari tahun 1830 sampai 2016 beserta penjelasannya. Selain itu juga dijelaskan sejarah singkat pabrik-pabrik gula yang ada di Jawa, dan jalur kedatangan gula pada masa Hindia Belanda beserta peta agar mudah untuk dipahami.

Masuk ke ruangan kedua, terdapat miniatur yang menjelaskan proses masuknya tebu ke dalam pabrik sampai ke proses penggilingan tebu menjadi gula. Selain itu, ada penjelasan tradisi musim giling yang biasa disebut Cembengen, hasil produksi Pabrik Gula Colomadu tahun 1900 sampai 1935, grafik keuntungan Pabrik Colomadu tahun 1889 sampai 1917.

Masuk ke ruangan ketiga, terdapat desain arsitektur Colomadu di tahun 1998, poster-poster yang menjelaskan proses penggilingan tebu sampai pada pengemasan gula, dan pemutaran video yang berisikan penjelasan rekonstruksi Pabrik Gula Colomadu menjadi Museum De Tjolomadoe.

Miniatur yang menjelaskan proses penggilingan tebu.

Sekitar 2 jam saya ada di dalam De Tjolomadoe melihat, membaca, dan memahami yang ada di De Tjolomadoe, membuat saya paham akan sejarah industri gula di Jawa khususnya perkembangan Pabrik Gula Colomadu dari awal berdiri, kejayaannya, dan sampai penutupan pabrik akibat kekurangan bahan baku, juga karena krisis ekonomi tahun 1998.

Ternyata Pabrik Gula Colomadu didirikan pada tahun 1861, oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara IV. Pada tahun 1861, Mangkunegara IV mengajukan rencana mengenai berdirinya sebuah pabrik gula kepada Residen Surakarta yang bernama Nieuwenhuysen. Sejak beberapa waktu sebelumnya, Mangkunegara IV telah memilih tempat di Desa Malangjiwan Karanganyar di atas tanah seluas 6,4 Ha, suatu tempat yang baik, karena adanya tanah-tanah yang subur, air mengalir, dan hutan-hutan. Tempat tersebut beliau anggap paling cocok untuk perkebunan tebu.

Proses mendirikan bangunan dan pelaksanaan industri di bawah pimpinan seorang ahli dari Jerman yang bernama R. Kamp. Pabrik ini pertama kali bekerja dengan menggunakan mesin uap. Mesin-mesin tersebut dipesan dari Eropa. Mangkunegara IV mendapat pinjaman dari Pemerintah Hindia Belanda dan dibantu Be Biauw Tjoan seorang mayor di Cina untuk mendirikan pabrik gula.

Saya pribadi sangat puas bisa berkunjung ke sini banyak sekali ilmu yang saya dapatkan dari Museum De Tjolomadoe, mungkin wisata seperti ini hanya ada satu di Indonesia sebab saya belum pernah mendengar bahwa ada pabrik gula disulap menjadi museum, selain Pabrik Gula Colomadu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.