Munggahan, Tradisi Sunda yang Selalu Ada Untuk Menyambut Ramadan

0
1333
Botram, salah satu kegiatan munggahan (sumber: flickr.com/Annie)

Banyak tradisi menjelang, saat, hingga puasa telah usai di berbagai belahan Indonesia. Tradisi yang dibudayakan oleh setiap adat di Indonesia sebenarnya merupakan bentuk rasa syukur dan kegembiraan umat muslim di Indonesia. Termasuk budaya Sunda pun memiliki tradisi sendiri untuk mengungkapkan rasa syukur menyambut bulan ramadan. Masyarakat Sunda kerap melakukan tradisi “Munggahan” sesaat sebelum puasa, bahkan tidak jarang berbagai tempat ramai, termasuk tempat makan dipadati oleh masyarakat Sunda untuk melakukan Munggahan. Sebenarnya, Munggahan itu apa sih?

Secara terminologi, munggahan diambil dari bahasa Sunda “unggah” yang berarti naik ke tempat yang lebih tinggi atau orang Sunda menyebutnya “naek ka tempat nu leuwih luhur.” Masyarakat Sunda biasanya mengadakan munggahan setiap dua atau sehari sebelum bulan Ramadan. Umumnya, orang yang mengadakan munggahan mengisi kegiatannya dengan makan bersama atau orang Sunda biasa mengenalnya dengan sebutan “Botram” yaitu makan bersama dengan keluarga, tetangga, ataupun sanak saudara. Biasanya Botram dilakukan baik itu di rumah, resto, ataupun café. Ada hidangan khusus pula yang biasa disajikan saat botram di hari munggahan, yaitu Nasi Liwet ditemani dengan lalapan.

Namun bukan berarti kegiatan munggahan terbatas hanya makan bersama sanak keluarga dan kerabat, munggahan pun biasanya diisi dengan kegiatan lain. Sebut saja hiking dan bersih-bersih atau orang Sunda menyebutnya dengan bebersih. Kalau hiking mungkin sudah biasa mendengar bahkan melakukannya dengan kerabat, namun bagaimana maksud dari bebersih? Dalam hal ini bebersih bukan berarti bebersih rumah. Bebersih menurut kegiatan munggahan ini adalah mandi besar atau keramas yang memiliki simbol dari menyucikan diri sebelum Ramadan tiba. Kegiatan bebersih ini pun bukan berarti kamu lakukan di rumah saja, masyarakat Sunda pun biasanya bebersih di tempat pemandian air panas, main-main air di sungai ataupun di pantai.

Kegiatan pun tidak terbatas hanya itu saja, beberapa tradisi munggahan yang dilakukan masyarakat Sunda masih ada seperti ziarah, pengajian, bahkan ada yang mengisinya dengan kumpul keluarga. Banyaknya kegiatan yang dilakukan saat munggahan, sebenarnya memiliki satu tujuan yang sama yaitu menguatkan tali silaturahim dan bisa dimanfaatkan sebagai rangka untuk saling memaafkan.

Jangan bingung dengan tradisi munggahan yang dilakukan adat Betawi, karena masyarakat betawi pun ikut mengadakan tradisi munggahan. Pasalnya, adat betawi begitu erat kaitannya dengan tradisi sunda karena betawi sendiri merupakan perpaduan dari berbagai suku yang membentuk budaya baru. Kegiatan yang dilakukan masyarakat betawi saat munggahan pun serupa dengan masyarakat sunda lakukan yaitu ziarah makam atau ngored, rowahan atau selametan, keramas dengan merang atau padi yang dibakar, atau kumpul bersama sanak keluarga atau saudara. Maksud dari munggahannya pun relatif sama, yaitu untuk mengeratkan tali silaturahim.

 

Penulis: Nadia Khalishah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.