Mitos di Gunung Arjuno

0
176
View yang indah di sebelah pasar dieng yang angker.

Beberapa bulan lalu saya melakukan pendakian ke Gunung Arjuno dan saya menerima banyak masukan dari pendaki lain, salah satunya adalah beberapa mitos yang ada di Gunung Arjuno. Dan ini adalah beberapa mitos yang ada di Gunung Arjuno

Mitos Tidak Bolehnya Mendaki dengan Jumlah Pendaki Ganjil

Mitos pertama bahwa yang harus untuk kawan kawan tahu tentang gunung ini adalah bahwa kita tidak diperbolehkan untuk mendaki gunung dengan jumlah ganjil. Ini adalah mitos yang harus untuk dipatuhi jika tidak ingin hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Jadi disarankan ketika kawan-kawan ingin mendaki gunung ini dengan jumlah genap akan lebih baik. Hal ini bukan tanpa alasan, karena diyakini jika pendaki dalam jumlah ganjil, maka ada makhluk lain yang akan mengenapkan jumlah pendaki.

Daripada terjadi hal yang tidak diinginkan, lebih baik untuk kita patuhi mitos ini. Selain itu kehadiran Gunung Arjuno sendiri sudah ada sejak dahulu kala. Sejak hari-hari tablet kerajaan Majapahit.

Sabana gunung Arjuno.
Mitos di Alas Lali Jiwo

Mendaki ke Gunung Arjuno akan ada satu jalur yang menarik adalah Alas Lali Jiwo, yakni hutan dipenuhi oleh pohon-pohon pinus yang tumbuh subur di Alas Lali Jiwo menjadikan track ini menjadi cantik tetapi menyeramkan.

Mitos yang berkembang di jalur ini adalah ketika kawan-kawan melewati titik ini pendaki tidak boleh memilih niat buruk di hatinya. Kepercayaan jika pendaki memiliki niat buruk, maka pendaki bisa tersesat di jalan ini dan mendapatkan gangguan dari ‘penunggu’ Alas Lali Jiwo.

Meskipun kedengarannya klise, tapi sudah menjadi mitos di sana dan banyak kejadian hilangnya pendaki saat melewati Alas Lali Jiwo. Ambil sisi baiknya saja, mungkin memang ketika kawan-kawan melakukan pendakian ke gunung ini harus memiliki pemikiran positif dan dengan hati senang.

Mitos Pasar Setan

Mitos tentang Gunung Arjuno tidak berhenti di situ saja, orang-orang mengatakan ada pasar yang tiba-tiba muncul di malam hari dan menghilang pada hari berikutnya (siang hari). Cukup membuat kawan-kawan merinding bukan? Jika dipikir-pikir mana ada pasar di gunung dengan ketinggian yang cukup ekstrim ini?

Ternyata banyak pendaki yang sering mendengar suara-suara seperti keramain di pasar saat mendaki di gunung. Tak heran jika mitos bertahan sampai sekarang.

Dikatakan bahwa daerah yang dianggap lokasi pasar setan ini berada di trek di savana Gunung Arjuno yang luas. Untuk kawan-kawan yang ingin membuktikan kebenaran mitos ini, cukup tidur di wilayah tersebut dan kawan-kawan rasakan apa yang terjadi di sana.

Puncak gunung Arjuno.
Mitos Banyaknya Petilasan di Gunung Arjuno

Mitos yang menarik perhatian ketika berbicara tentang gunung ini adalah jumlah peninggalan Kerajaan Majapahit dan Singosari. Dengan kata lain, tidak hanya keindahan lanskap yang bisa kawan-kawan nikmati di gunung ini.

Kawan-kawan harus tahu juga, bahwa gunung ini ternyata menjadi tempat yang penting dalam perjalanan dua kerajaan tersebut. Tidak heran bahwa banyak pendaki yang tertarik untuk membuktikan mitos yang satu ini.

Peninggalan di gunung ini pun cukup banyak, mulai dari petilasan Eyang Antaboga, Eyang Abiyasa, Eyang Sekutram, Eyang Sakri, Eyang Semar, Eyang Sri Makutharama, dan reruntuhan Sepilar. Namun, harus selalu diingat untuk pelestarian peninggalan itu. Karena akan sangat disayangkan jika peninggalan itu rusak karena kelalaian pendaki

Mitos Suara Gamelan Ngunduh Mantu

Berikutnya pada mitos yang ada di Gunung Arjuno adalah suara gamelan sering terdengar. Bahkan, itu sudah memiliki banyak saksi, termasuk penduduk setempat. Tak heran jika mitos ini sangat dipercaya.

Menurut warga setempat, para pendaki disarankan untuk berhenti ketika mereka mendengar alunan gamelan seperti saat ngunsuh mantu atau proses pernikahan Jawa. Memang banyak pendaki yang bingung karena tidak mengetahui mitos tersebut, jadi ketika kawan-kawan mendengar suara gamelan yang lebih taat adalah seperti apa yang dikatakan warga setempat.

Tentu saja, dari beberapa mitos yang ada di Gunung Arjuno memiliki banyak arti. Kurang lebih, untuk selalu menghormati apa yang telah pergi dari zaman dahulu.

Tidak mempercayai bukan berarti tidak menghormati kan? Maka lakukanlah apa yang di anjurkan oleh warga setempat selama itu tidak melanggar hukum agama.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.