Menyusuri Negeri Indah Kepingan Surga Bernama Danau Toba

0
957
Pemandangan Danau Toba dari Tele.

Liburan akhir semester memang liburan paling dinanti, karena inilah momen paling asyik untuk berlibur bersama keluarga tersayang ke tempat-tempat favorit. Selain menjadi momen mengunjungi keluarga jauh, juga untuk menjalin silaturahmi, dan saatnya untuk saling melepas rindu dengan keluarga yang ada di kampung halaman.

Kebetulan, keluarga dari istri dan juga keluarga dari keturunan ayah saya mayoritas berada di daerah Danau Toba, sehingga liburan akhir semester seperti ini sudah harus menjadi kewajiban untuk pulang kampung dan mengarungi keindahan Danau Toba, sekaligus melepas penat dan mencari suasana baru setelah berkutat di kota metropolitan sebesar kota Medan.

Liburan akhir semester 2019 adalah liburan yang berfungsi untuk mengganti suasana dan mencari inspirasi dengan mengunjungi Danau Toba, danau yang dinobatkan menjadi danau terbesar kedua di dunia setelah Danau Victoria di Afrika. Danau yang terbentuk dari letusan gunung berapi tekto-vulkanik ini memiliki keindahan alam tiada duanya di dunia maupun di Asia Tenggara.

Perayaan Adat di Dekat Danau Toba.

Dengan ukuran panjang sekitar 100 km dan lebar sekitar 30 km, dengan kedalaman hingga 1.600 m, Danau Toba telah menjadi sorotan dunia, apalagi setelah kejadian tenggelamnya kapal motor Sinar Bangun yang merenggut nyawa 146 penumpang, yang mengharuskan pemerintah turun tangan dan bersinergi dengan Pemda Samosir untuk membenahi transportasi di Danau Toba.

Benar saja, KMP Ihan Batak diluncurkan dan resmi beroperasi di Danau Toba untuk mengoptimalkan angkutan sehingga mengatasi kekurangan transportasi di Danau Toba. KMP berukuran 300 Gross Tonage (GT) ini dioperasikan untuk mengangkut penumpang dari Ajibata ke Ambarita, dan sebaliknya.

Kapal ini mampu menampung 280 penumpang dan kendaraan campuran sebanyak 32 unit, sehingga wisatawan yang berkunjung bisa merasa lebih nyaman dan aman saat melintasi Kabupaten Toba Samosir dan Kabupaten Samosir. Sehingga keindahan dari Negeri Indah Kepingan Surga dapat benar-benar dirasakan dan dinikmati oleh pengunjung dengan baik tanpa khawatir.

Pulau Samosir dan Danau Toba sangat mendunia dan telah melegenda memiliki sebuah gunung bernama Gunung Pusuk Buhit dengan ketinggian berkisar 1.800 mdpl yang menjadi ciri khas dari Negeri Indah Kepingan Surga, hasil kreasi Sang Pencipta yang wajib kita kunjungi dan rasakan keindahannya.

Pemandangan Ketika Menyebrang Menuju Samosir.

Rasanya tidak lengkap apabila tidak mengunjungi gunung yang sangat keramat ini dan pada tanggal 27 Juni 2019, kamipun memulai penjelajahan ke Danau Toba, Pulau Samosir, dan tentunya Gunung Pusuk Buhit Parsaktian ini.

Setelah semua dipersiapkan, kamipun tidak lupa untuk berdoa agar selamat selama perjalanan, karena inilah petualangan pertama kami menggunakan kendaraan pribadi, karena selama ini selalu mengandalkan kendaraan umum bernama SAMPRI yang sudah melegenda.

Dari Kota Medan menuju Pangururan, melintasi Tanjung Beringin, menuju Sumbul, Simpang Tiga, tembus Tele hingga Pangururan. Itulah perjalanan awal yang cukup membuat anak-anak kelelahan, namun mereka tidak menghiraukannya, karena liburan kali ini cukup membuat mereka rileks, tidak harus berdesakan seperti liburan sebelumnya.

Dari Simpang Tiga menuju Tele adalah rute yang paling memacu adrenalin, kenapa? Karena disamping jalannya yang berliku-liku seperti liukan ular, juga dikenal dengan medan yang curam, belum lagi batu-batu yang terkikis dari tebing suatu saat bisa meluncur dari atas, itulah rute yang harus dilewati jika menggunakan jalur darat.

Wisatawan Asing Ikut Melestarikan Alam di Danau Toba.

Dalam perjalanan di Tele, suasana macet, karena di Tele ada objek wisata bernama Panatapan. Di sana terdapat sebuah menara tinggi bernama Menara Tele yang selalu ramai dikunjungi, dari tempat ini kita bisa menatap indahnya Danau Toba dengan air, pegunungan, alam yang asri layaknya Lukisan dari Sang Pencipta tiada duanya di dunia ini.

Mobil terus melaju menapaki turunan yang berbatasan dengan jurang menuju Kota Pangururan. Sampai di Pangururan, kami keliling ibukota dari Samosir ini untuk mencari tempat makan enak mengisi perut yang sudah keroncongan sembari melepas lelah. Akhirnya kami mendapatkan rumah makan khas Batak dan kami memesan makanan dengan selera masing-masing. Kami lalu melanjutkan perjalanan ke Simpang Tamba.

Setelah sampai di Simpang Tamba, kami turun dan akan bersiap menyeberang naik kapal ferry ataupun kapal boat kecil sebagai sarana transportasi untuk menyeberang menuju Desa Haranggasan, Kampung Tamba yang terkenal dengan Padi bernama Eme Sitambatua (Padi khas dari Desa Tamba).

Setelah menyeberang, kita akan bersiap menanjak tinggi menuju Perkampungan Tamba, tempat wisata yang sangat menarik karena disamping kita bisa menemukan budaya Batak asli, juga Rumah Adat Batak masih terpelihara dengan baik, ada juga situs-situs Budaya asal mula Raja Sitambatua masih terawat dengan baik.

Pemandangan Danau Toba dari Tele.

Juga adrenalin kita akan dipacu saat menapaki jalan yang menanjak ke atas dan untungnya sudah bagus berkat Dana Desa sehingga urat nadi perekonomian tumbuh dan menggeliat dengan baik, karena sarana transportasi sudah bagus, tikungan tajam harus dirasakan untuk sampai ke Kampung yang terkenal dengan Beras Merah, legenda Tagan-Tagan Dairi, Ompu Datu Parngongo, hingga hasil pertanian lainnya sebagai objek wisata unggulan kedepannya yang mempunyai nilai jual tinggi.

Melihat masyarakat yang masih memegang erat adat istiadatnya ini, menjadikan petualangan ke Kampung Tamba ini sangat spesial untuk dinikmati dan diresapi. Apalagi sekarang, jalan ke daerah Tamba ini sudah bagus berkat dana desa, sehingga saya yakin bahwa daerah ini akan makin sangat ramai dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

Setelah sampai di rumah mertua yang bentuk rumahnya masih khas Rumah Batak, sehingga sering dijadikan sebagai objek wisata oleh para pendatang dan menjadi rumah persinggahan bagi pengunjung, kami disambut dengan senyuman dari Mertua, Oppung, dan seluruh sanak famili yang berada di sekitar rumah.

Kami bahagia masih dapat menghirup udara segar Perkampungan Tamba, keakraban terjalin, acara selanjutnya memasak makanan khas Batak bernama Napinadar (Ayam Kampung yang di gulai khas Batak), membakar ikan Mas dan Mujahir langsung dari Danau Toba, menjadikan liburan kali ini sangat spesial, karena kami sekeluarga masih bisa ber-wisata jasmani dan rohani ke Danau Toba – Negeri Indah Kepingan Surga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.