Menyusuri Kanal Kota Alkmaar, Belanda

0
256
Sampan bermotor yang dimiliki warga setempat.

Sebagai sebuah kota kecil di provinsi Noord Holland, kota Alkmaar memang bukan kota yang akrab di telinga wisatawan asing, terutama wisatawan dari Indonesia. Ditambah letak kota ini yang cukup jauh dari Amsterdam (sekitar 45 km). Meski Alkmaar lebih berfokus pada pertanian sebagai sektor utamanya, namun kota ini tetap memiliki daya tarik tersendiri sebagai destinasi wisata.

Terutama bagi kamu yang ingin sekedar berkeliling kota menikmati eksotisme suasana Belanda, Alkmaar adalah destinasi yang tepat. Tidak seperti Amsterdam atau Rotterdam yang ramai dengan masyarakat maupun wisatawan, suasana kota Alkmaar cenderung tenang. Kamu bisa berkeliling kota dengan menaiki bus, bersepeda, hingga sampan dan naik kayak. Ya, sebagai negara yang memiliki kanal di seluruh kota membuat kota-kota Belanda bisa dinikmati melalui kanalnya. Beberapa kanal bahkan membeku di musim dingin, membuatnya bisa digunakan sebagai arena ice skating!

Menyusuri Kanal Alkmaar

Sore itu di musim panas, saya diajak oleh Steve, teman saya di Belanda untuk mengelilingi kota Alkmaar dengan kapal kecil (sampan) bermotor. Ini adalah pengalaman pertama saya menaiki sampan di sungai. Tidak seperti sungai di Indonesia yang memiliki arus dan berbatu, kanal di Belanda tidak memiliki arus. Hal ini dikarenakan kondisi tanah di Belanda yang lebih rendah dibanding permukaan laut. Jalur kanal yang tersebar di seluruh kota dimanfaatkan penduduk sekitar sebagai sarana transportasi dan hiburan, termasuk menaiki sampan bermotor untuk berkeliling kota.

Di berbagai lokasi sepanjang jalur kanal, terdapat penyewaan kapal kecil (sampan) hingga kayak yang bisa kami sewa. Harga sewanya bervariasi, untuk sebuah sampan bermotor kami dikenakan tarif sebesar 25 euro per jam. Karena Steve yang mengajak, saya tidak perlu membayar sepeserpun, hehehe.

Arus kanal yang sangat tenang seharusnya tidak akan membuat kami mudah tenggelam, namun saya tetap saja merasa deg-degan. Ketika kami berselisih jalan dengan sampan bermotor lain, arus yang muncul membuat sampan kami bergoyang-goyang. Sepuluh menit berkeliling akhirnya membuat saya terbiasa. Ternyata, menikmati pemandangan klasik kota Alkmaar dari kanal memberikan sensasi yang berbeda dibandingkan sambil bersepeda. Saya cukup duduk sambil menikmati pemandangan gedung Kota Alkmaar yang terlihat kekar, tidak perlu capek mengayuh karena kami menggunakan sampan bermotor. Cipratan air yang mengenai saya memberikan rasa segar tersendiri.

Duck!
Jangan lupa merunduk!

Tantangan menelusuri kanal Alkmaar bukan hanya dari arusnya, namun juga jembatan yang tersebar sepanjang kanal. Selain memberikan sensasi berperahu melewati bagian bawah jembatan, tidak semua jembatan yang kami lewati memliki kolong yang tinggi. Tidak jarang kami harus merunduk sedalam-dalamnya karena kolong jembatan yang kami lewati sangat rendah. “Duck!” (merunduk)kata Steve. Meleng sedikit, siap-siap kepala benjol!

Memesan Es Krim dari Pinggir Kanal
Memesan ijs (es krim) dari pinggir kanal.

Tidak hanya berkeliling kota Alkmaar, teman saya mengajak untuk mencicipi es krim. Uniknya, untuk membeli es krim kami tidak harus keluar dari sampan. Beberapa toko es krim menyediakan bel khusus di tepi kanal untuk pelanggan yang ingin memesan dari kanal. Kami cukup membunyikan bel tersebut untuk memanggil pramusaji dan es krim yang kami inginkan pun datang. Unik ya!

Saatnya Naik Kayak!
Kapan lagi kan bisa keliling kota dengan kayak?

Keesokan harinya, Steve kembali mengajak saya untuk berkeliling kota dari kanal. Namun kali ini tidak dengan sampan, melainkan kayak! Dengan semangat saya sambut ajakannya meski sedikit deg-degan. Maklum, saya belum pernah menaiki kayak sebelumnya. Terbayang jika saya jatuh dari kayak dan harus basah-basahan. Untung bisa berenang!, pikir saya.

Ternyata, menaiki kayak lebih asyik dari yang saya bayangkan. Sebelum berkeliling kota Steve sempat mengajari saya beberapa teknik dasar dalam mengendarai kayak, seperti mendayung lurus hingga berputar ke kanan atau ke kiri. Perasaan akan jatuh atau tenggelam juga menghilang, karena kayak yang saya naiki cukup stabil meski kadang saya bergoyang kebingungan menentukan arah mendayung. Saking bingung dengan cara berbeloknya, terkadang saya terjebak di semak-semak di pinggir kanal, membuat Steve tertawa terbahak-bahak.

Dua jam berkeliling kota dengan kayak cukup membuat tangan saya pegal. Meskipun terasa lelah, indahnya pemandangan kota Alkmaar di sore hari seolah membuat rasa lelah saya terasa impas!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.