Menyingkap Tabir 3 Danau di Atas Danau Toba, Pulau Samosir

0
2676
Pemandangan Danau Sidihoni.

Negeri Indah Kepingan Surga, sebuah julukan untuk Pulau Samosir di Sumatera Utara. Memang, bongkahan daratan yang memiliki luas sekitar 630 km2 ini memiliki keindahan alam yang memukau. Bahkan, Pulau Samosir dan Danau Toba telah ditetapkan menjadi destinasi andalan di republik ini.

Tidak hanya menawarkan wisata alam nan eksotis, berbagai peninggalan budaya Batak seperti rumat adat dan aksesoris zaman dulu masih terawat baik di sini. Ragam atraksi budaya juga masih bisa dijumpai. Apalagi pemerintah juga sering menggelar berbagai kegiatan budaya saat ini. Seperti Festival Danau Toba, Festival Sigale-gale yang terus digencarkan.

Meski begitu, Pulau Samosir yang bisa ditempuh sekitar 7 jam dari Ibukota Medan via darat ini, menyimpan destinasi yang masih asri dan belum tergarap maksimal, yakni keberadaan danau di Pulau Samosir. Berdasarkan penelurusan penulis ketika pulang kampung beberapa waktu lalu, setidaknya ada tiga danau yang mendiami Pulau Samosir.

Ketiga danau ini bisa dikunjungi sekali jalan jika ingin mengitari Pulau Samosir dengan mobil maupun sepeda motor. Namun, disarankan kondisi moda transportasi dalam keadaan prima. Pasalnya, kondisi jalan yang akan ditempuh cukup terjal dengan banyaknya tanjakan. Maklum, Pulau Samosir berada di ketiggian 1.000 mdpl. Dan tentunya, jangan lupa membawa jaket, karena selain cuaca yang cukup dingin juga sulit ditebak.

Penulis akan menguraikan tiga danau yang sempat disinggahi berdasarkan urutan jika memulai perjalanan dari Ibukota Samosir, Pangururan.

Danau Sidihoni
Pemandangan Danau Sidihoni.

Sidihoni beberapa tahun belakangan sudah menjadi destinasi yang sering disinggahi para wisatawan jika ke Samosir. Kawasan Danau yang memiliki luas kurang lebih 5 hektar ini bisa ditempuh dari Panguruan sekitar 20 menit. Sidihoni disebut mempunyai dasar yang cukup dalam. Oleh karena itu, para pengunjung tidak disarankan untuk mandi disini.

Keindahan Sidihoni ini ialah lanskap yang begitu memanjakan mata. Sidihoni dikelilingi tanah lapang hijau yang dijadikan masyarakat sekitar untuk menggembalakan kerbau. Lalu, diikuti deretan varietas pepohonan yang menjulang tinggi. Sambil menikmati alam Sidihoni, pengunjung juga bisa bersantai di kawasan ini.

Mengutip dari salah satu media, dulunya Sidihoni merupakan kawasan hutan dan rawa-rawa. Dikarenakan pohon-pohon itu ditebangi sehingga membuat tanah di sekitarnya longsor. Seiring berjalannya waktu, lokasi itu berubah menjadi cekung dan diisi air.

Danau Sipalionggang
Pemandangan Danau Sipalionggang.

Beranjak dari Sidihoni, sekitar 30 menit, kita akan memasuki Kecamatan Ronggur Ni Huta. Daerah ini dikenal dengan sebutan Desa Pestir, karena lokasinya merupakan puncak dari Pulau Samosir sehingga kilatan petir tampak jelas dari sini.

Ketika menyusuri Ronggur Ni Huta, terdapat kubangan air yang cukup luas. Masyarakat disana menamainya Danau Sipalionggang. Danau ini tak jauh berbeda dengan Sidihoni. Dikelilingi padang rumput dan beragam jenis pepohanan, dengan sisi kiri dan kanan danau terdapat Gereja. Sementara di ujung danau ini terlihat perkampungan warga dengan rumah adat batak. Sungguh pemandangan yang menggiurkan.

Dibalik keindahan Sipalionggang, ada cerita menarik yang tersimpan. Menurut pengakuan Kakak Simbolon yang merupakan istri sepupu penulis dan sudah lahir di daerah sana, Sipalionggang dijaga oleh Seekor Ular Besar.

“Ada waktunya danau ini akan kering-sekeringnya di malam hari. Lalu, saat matahari mulai menunjukkan batang hidungnya, kubangan ini akan kembali digenangi air. Menurut cerita, air itu habis dihisap oleh ular di bawah sana,” kata dia.

Meski begitu, perempuan yang berprofesi sebagai guru ini juga tak terlalu mempercayai cerita tersebut. Menurutnya, hal seperti itu bisa dijelaskan secara keillmuan.

“Itu kan secara cerita rakyat saja. Dari sudut pandang ilmiahnya, kata kawan kakak, itu fenomena alam biasa. Di luar negeri sana banyak yang seperti itu, tapi menarik lah kalau ada kawan kamu yang jurusan Geografi untuk melakukan penelitian di sini,” timpalnya.

Cukup menarik jika anda berkesempatan bertemu warga setempat lalu mengulik cerita kubangan ini lebih lanjut, apalagi literasi dan cerita Danau Sipalionggang masih terbilang minim di kalangan wisatawan.

Danau Aek Natonang
Pemandangan Aek Natonang.

Dari Ronggur Ni Huta, kita akan memasuki Kecamatan Simanindo. Memakan waktu sekitar 20 menit, lagi-lagi kita akan terpukau dengan keindahan alam Pulau Samosir. Deretan pepohonan hijau akan menemani perjalanan kita menuju Aek Natonang. Cuaca yang sejuk semakin mengurung niat untuk tidak beranjak dari Samosir.

Aek Natonang bisa diartikan sebagai Air yang Tenang. Kawasan seluas sekitar 105 hektar ini juga sudah cukup dikenal luas dikalangan wisata. Oleh karena itu, Aek Natonang yang dikelilingi pepohonan ini mendapat perhatian yang lebih dari pemerintah setempat. Akses jalan yang sudah baik hingga berbagai fasilitas seperti restoran juga telah tersedia di kawasan ini.

Kubangan air yang cukup luas ini juga dipercantik dengan gugusan pulau kecil di tengah danau. Di kawasan ini kamu juga bisa camping. Tentunya seizin pengelola setempat.

Sebagai informasi tambahan, masih banyak kubangan air lainnya yang mendiami Pulau Samosir. Entah berukuran besar maupun kecil. Hal tersebut senada dengan peneliti dan praktisi pertanian dari USU yang sudah meneliti tipografi tanah Samosir selama puluhan tahun.

Erwin menyebutkan, ada sungai bawah berupa jalur rekahan dari peristiwa ledakan Gunung Toba di perut Pulau Samosir. Bila terjadi gempa akan membuat tanah di atasnya berguguran. Oleh sebab itu, tipografi dasar tanah di Pulau Samosir itu terdapat banyak sumur-sumur. Tidak heran bila ada kalanya Samosir mengalami kekeringan meskipun curah hujan sedang tinggi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.