Menyinggahi Tugu Payan Mas, Ikon Kota Bumi Lampung Utara

0
943
Tugu Payan Mas Kota Bumi Lampung Utara.

Berkunjung ke Yogyakarta belum afdol jika belum menilik bangunan Tugu nol kilometer. Begitu juga di Jakarta, belum lengkap jika tidak melintasi Bundaran Hotel Indonesia dan bersapa dengan Patung Selamat Datang yang ada di tengahnya. Setiap kota mempunyai ikon yang bisa dikatakan belum lengkap perjalanan bila belum mengunjunginya. Terkadang, dengan menyambangi ikon itu kita baru bisa dibilang telah bertandang ke daerah tersebut.

Ketika saya berkesempatan mengunjungi Lampung Utara, saya pun tak ingin melewatkan image lokal daerah tersebut. Dari tuan rumah di Abung Selatan, saya mendapat rekomendasi jalan-jalan ke Tugu Payan Mas di Kota Bumi, Lampung Utara.

Kata “payan” yang asing di telinga berhasil membuat saya terusik. Secara singkat, ia mengatakan Payan Mas mirip mahkota yang dipakai mempelai pria di acara pernikahan yang sedang saya hadiri. Tempat tersebut merupakan lokasi nongkrong masyarakat Kota Bumi. Semakin malam akan kian ramai, katanya.

Tak butuh waktu lama, kami bersegera meluncur menuju lokasi yang ditempuh sekitar 30 menit dari Kecamatan Abung Selatan menggunakan kendaraan pribadi atau dua jam perjalanan keluar tol Terbanggi Besar menuju Jalan Lintas Tengah Sumatera arah Palembang.

Tugu Payan Mas terletak di tengah bundaran pusat Kota Bumi, Lampung Utara. Tepatnya di Kota Gapura yang mempertemukan antara Jalan Jendral Sudirman, Jalan Lintas Tengah Sumatera, Jalan A. Akuan, dan Jalan Soekarno Hatta. Asyiknya, di kanan kiri terdapat taman sehingga kita bisa menikmati tugu dan mengambil foto tanpa menganggu lalu lintas.

Ornamen gading gajah di taman seberang Tugu Payan Mas.

Taman di sebelah kanan (dari arah Abung Selatan) terdapat banyak penjaja makanan dan bangku-bangku untuk bersantai. Menariknya taman ini dihiasi dengan replika gading gajah. Ini mengingatkan saya jika di Lampung terdapat sekolah gajah Way Kambas. Sayang, keinginan mengunjungi tempat penangkaran dan pendidikan gajah harus tertunda, sebab katanya dari Kota Bumi masih setengah hari untuk menuju ke sana.

Oh ya, dari taman ini saya mendengar suara kereta api melintas. Awalnya memang agak ragu. Karena sepertinya kereta api bukan moda transportasi primadona di pulau ini. Tapi ternyata di belakang taman ini merupakan jalur kereta api Palembang-Bandar Lampung.

Sembari menunggu pesanan minuman, tak lupa saya bertanya arti Payan Mas kepada pedagang kaki lima di taman. Payan berasal dari Bahasa Lampung yang berarti tombak. Payan Mas merupakan senjata tradisional masyarakat Lampung.

Ketika saya melihat lebih lanjut, tugu ini memang menyerupai tombak raksasa. Ujung tombak berwarna keemasan dengan gagang panjang berwarna kuning gading. Di bagian bawah terdapat penyangga sembilan perisai. Hal ini menandakan sembilan Marga Pepadun yang ada di Lampung. Di bagian tengah terdapat lima mahkota yang ditopang (mirip) gading gajah. Mungkin mahkota inilah yang dimaksud Tuan Rumah tadi, bentuknya seperti yang biasa dipakai sebagai perhiasan di kepala laki-laki yang mengenakan pakaian adat Lampung.

Taman Kota Bumi BETTAH.

Tugu Payan Mas merupakan hasil renovasi menggantikan Tugu Kayu Aro. Tombak Mas dipilih karena melambangkan kebangkitan masyarakat Lampung Utara. Pembangunannya dilaksanakan di masa kepemimpinan Bupati Zainal Abidin (2009-2014) yang konon menelan biaya hampir dua milyar Rupiah. Nilai yang memang cukup fantatis dan mungkin sebanding dengan kemegahan bangunan ikonik ini.

Menyeberangi jalan, saya menyusuri Taman bertulis Kota Bumi BETTAH. Bettah tadinya saya pikir berarti saya (beta). Bettah yang dimaksud di sini merupakan singkatan dari motto Kota Bumi yaitu Bersih, Elok, Tenteram, Taqwa, Aman, dan Hidup. Sesuai dengan mottonya, taman ini sangat bersih dan ketika saya datang banyak pasangan muda-mudi yang tengah menghabiskan waktu di sini.

Sayang sekali, waktu saya tidak cukup banyak untuk menunggu hingga petang tiba. Saat malam Tugu Payan Mas dikatakan semakin eksotis karena gemerlap sorot lampu. Mengunjungi Tugu Payan Mas cocok bagi pejalan yang memiliki waktu singkat seperti saya karena tidak mempunyai cukup banyak waktu untuk menjangkau lebih jauh. Namun, ingin memiliki kenang-kenangan bahwa kita memang pernah menginjakkan kaki di Kota Bumi, Lampung Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.