Menyapa Pertiwi dari Ketinggian Gunung Kerinci

0
1532
Perjalanan Menuju Puncak.

Bukan masalah kekuatan, tapi masalah nyali. Inilah yang menjadi motivasi saya berangkat ke Gunung Kerinci. Menguntai tekad dan mimpi untuk menggapai Puncak Indrapura di ketinggian 3.805 mdpl.

Gunung Kerinci merupakan gunung tertinggi di Pulau Sumatera, sekaligus juga dinobatkan sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Selain itu, Gunung Kerinci juga menyandang gelar sebagai puncak tertinggi kedua di Indonesia setelah Carstenz, Jayawijaya.

Gunung Kerinci terletak di Provinsi Jambi yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat, di Pegunungan Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Kota Padang. Gunung ini dikelilingi hutan lebat Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang merupakan habitat dari harimau sumatera dan badak sumatera.

Kabupaten Kerinci hanya memiliki luas wilayah sekitar 3.328,14 km2, sehingga menjadi salah satu kabupaten dengan luas terkecil di Provinsi Jambi, dan sekitar 52% dari luas wilayahnya menjadi kawasan TNKS, selebihnya digunakan sebagai areal permukiman, persawahan, perkebunan, dan hutan produksi oleh masyarakat.

Pemandangan Pagi di Camp Site.

Puncak Gunung Kerinci yang berada pada ketinggian 3.805 mdpl memungkinkan pengunjung dapat melihat pemandangan indah Kota Jambi, Padang, serta Bengkulu yang membentang dari kejauhan. Bahkan Samudera Hindia yang luas pun dapat terlihat dengan jelas. Gunung Kerinci memiliki kawah seluas 400 x 120 m dan memiliki kedalaman 600 m. Pada sisi sebelah timur terdapat Rawa Bento, sebuah rawa dengan air tawar tertinggi di Sumatera. Di belakangnya, terdapat Gunung Tujuh dengan Danau Gunung Tujuhnya yang merupakan salah satu danau tertinggi di Indonesia yang berada di ketinggian sekitar 2000 mdpl.

Gunung Kerinci merupakan gunung berapi bertipe stratovolcano yang masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 2009. Gunung ini dapat dicapai melalui darat dari Jambi menuju Sungaipenuh melalui Bangko. Selain itu, dapat juga ditempuh dari Padang, Lubuk Linggau, dan Bengkulu. Dari Bandara Internasional Minangkabau, Padang, kita bisa menggunakan mobil travel untuk menuju ke basecamp pendakian Gunung Kerinci dengan lama perjalanan sekitar 8 jam.

Ada 2 jalur untuk melakukan pendakian ke Gunung Kerinci, jalur pertama via Kersik Tuo dan jalur kedua via Solok. Jalur pendakian Gunung Kerinci via Kersik Tuo merupakan jalur resmi yang banyak diminati oleh para pendaki, mengingat jalur pendakian via Solok jalurnya lebih ektrem dan susah.

Dari Desa Kersik Tuo, Kecamatan Kayu Aro yang berada pada ketinggian 1.400 mdpl kita menuju ke Pos penjagaan TNKS atau R10 pada ketinggian 1.611 mdpl dengan berjalan kaki sekitar 45 menit melintasi perkebunan teh Kayu Aro. Para pekerja perkebunan teh merupakan penduduk Kayu Aro keturunan Jawa, sehingga bahasa setempat yang dipergunakan adalah Bahasa Jawa.

Tugu Macan.

Perkebunan teh Kayu Aro merupakan perkebunan tertua dan terluas di dunia dengan luas 2.624,69 ha. Didirikan oleh sebuah perusahaan Belanda yang bernama Namblodse Venotschaaf Handle Vereniging Amsterdam (NVHVA) pada abad ke-19, tepatnya tahun 1925. Teh Kayu Aro telah menjadi teh keluarga bangsawan Eropa sejak dulu sampai sekarang. Di Eropa, Teh Kayu Aro dipasarkan melalui perusahaan produsen teh premium dunia.

Selain dengan berjalan kaki, untuk menuju pos penjagaan TNKS para pendaki juga bisa menggunakan ojek atau mobil pick-up yang sudah tersedia di basecamp. Setelah melakukan registrasi, pick-up akan berlanjut mengantar ke Pintu Rimba.

Dari Pintu Rimba, perjalanan dimulai untuk menuju Pos 1 yang diberi nama Bangku Panjang dan berada di ketinggian 1.890 mdpl. Lama perjalanan pendakian bervariasi. Tergantung kemampuan masing-masing pendaki dan di shelter berapa akan mendirikan tenda, yang harus dihindari para pendaki adalah pendirian tenda di Pos 1 – Pos 3 karena merupakan daerah perlintasan harimau sumatera. Jika para pendaki ingin lebih dekat dengan puncak, maka mendirikan tenda di Shelter 3 menjadi pilihan yang tepat.

Summit Attack ke Puncak Indrapura.

Dari Pos 1 kemudian dilanjutkan ke Pos 2 yang diberi nama Batu Lumut, berada di ketinggian 2.010 mdpl. Jalur yang harus dilewati adalah jalur sempit yang didominasi oleh tanah padat. Tingkat kemiringan perlahan meningkat, dan tanjakan mulai terasa.

Perjalanan berlanjut ke Pos 3 yang berada di ketinggian 2.225 mdpl dan diberi nama Pondok Panorama. Jarak antara Pos 2 ke Pos 3 lumayan panjang. Hampir dua kali lipat jarak dari Pos 1 ke Pos 2. Tingkat kemiringan tanah pun semakin meningkat, selain itu, jalur masih didominasi tanah padat dan pohon-pohon kecil yang roboh. Perjalanan ini akan sangat berat jika di lakukan di musim penghujan. Sebab, jalur akan sangat licin, basah, dan becek.

Selepas Pos 3, perjalanan diteruskan sampai ke Shelter 1 yang berada di ketinggian 2.505 mdpl. Di Shelter 1 ini terdapat sumber air yang bisa digunakan untuk perbekalan pendakian. Perjalanan yang akan ditempuh menuju Shelter 2 sangatlah berat dan panjang, maka di Shelter 1 inilah para pendaki sebaiknya memanfaatkannya untuk beristirahat.

Shelter 2 sendiri merupakan sebuah tempat yang berada di ketinggian 3.056 mdpl. Perjalanan menuju Shelter 2 adalah perjalanan paling panjang selama proses pendakian. Mendekati Shelter 2 terdapat sebuah pos bayangan yang memiliki area tanah datar yang cukup luas, bisa difungsikan sebagai tempat beristirahat.

Perjalanan menuju Shelter 3 tidak terlalu panjang, namun rintangan yang harus dilewati membuat perjalanan ini terasa lama. Tingkat kemiringan mencapai 70 derajat dengan jalur yang didominasi akar pepohonan. Shelter 3 berada di ketinggian 3.291 mdpl, merupakan tempat paling ideal untuk mendirikan tenda karena lahannya luas, memiliki pemandangan alam yang mengagumkan, berada tidak terlalu jauh dari puncak, terdapat sumber air, dan merupakan tempat camp terakhir.

Tugu Yudha.

Shelter 3 merupakan batas vegetasi. Untuk menuju Puncak Indrapura 3.805 mdpl terlebih dahulu kita harus melewati jalur menanjak yang didominasi oleh batu-batu besar dan kerikil layaknya gunung berapi pada umumnya. Sebelum sampai di puncak, kita akan melewati Tugu Yudha. Tugu Yudha merupakan sebuah penghormatan untuk sosok Yudha, seorang pemuda pecinta alam yang menghilang di Gunung Kerinci pada tanggal 23 Juni 1990.

Di dekat Tugu Yudha juga ada satu memoriam lagi. Sebuah memoriam bertuliskan, “Di sini jejakmu tertinggal. Namun jiwa kstariamu selalu bersama kami”, untuk mengenang Adi Permana Atje, seorang pendaki yang meninggal di Gunung Kerinci pada tahun 1983.

Selepas Tugu Yudha, Puncak Indrapura kelihatan semakin dekat di mata, meskipun sejatinya terasa jauh di langkah. Berada di ketinggian 3.805 mdpl, Puncak Indrapura merupakan puncak dari Gunung Kerinci. Di sini kita bisa mendapati sebuah kawah aktif dengan kepulan belerangnya. Dari Puncak Indrapura kita juga bisa melihat pemandangan yang sangat mengagumkan. Hamparan keindahan Kota Padang, Jambi, juga Bengkulu terpampang di depan mata. Hamparan pegunungan lain yang memagari, serta bentangan Samudera Hindia pun terlihat jelas dari Puncak Indrapura.

Setiap pendakian pasti akan meninggalkan jejak, cerita, serta kenangan. Tujuan mendaki bukan untuk sebuah penakhlukan. Tujuan pendakian adalah sebuah pembelajaran. Kesuksesan dari sebuah pendakian bukanlah puncak, kesuksesan sebuah pendakian yang sebenarnya adalah pulang ke rumah dengan selamat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.