Menyantap Nasi Jamblang di Alun-Alun Kejaksan, Cirebon

0
1688
Nasi Jamblang yang Dibungkus Daun Jati.

Kunjungan saya ke Cirebon dalam rangka mencari sumber untuk mengenai buku traveling saya tidak terasa berada pada ujungnya. Setelah puas berjalan-jalan di Goa Sunyaragi, Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Kacirebonan, saya lantas memutuskan untuk berwisata kuliner. Di dekat penginapan saya pada daerah Tuparev, sebenarnya ada banyak pedagang Empal Gentong yang berjualan. Makanan khas Cirebon ini terdiri dari jeroan, usus, dan lain sebagainya.

Tapi saya ingin mencoba kuliner Cirebon lain yang begitu khas. Apalagi kalau bukan nasi jamblang. Sayangnya, di dekat penginapan saya tadi, pedagang nasi jamblang hanya berjualan saat pagi hari. Padahal, pagi hari saya sudah sarapan dari penginapan dan langsung berangkat untuk jalan-jalan. Makanya, saya bingung mencari nasi jamblang saat malam hari.

Untunglah, saat saya membutuhkan infromasi, ada sebuah akun wisata Cirebon yang sedang melakukan siaran langsung di Instagram. Lalu, saya pun bertanya mengenai hasrat saya yang ingin menyantap nasi jamblang. Ternyata, dari informasi admin akun tersebut, ada banyak pedagang nasi jamblang di Alun-Alun Kejaksan.

Alun-Alun Kejaksan Cirebon.

Tanpa pikir panjang, saya pun naik angkot menuju Alun-alun Kejaksan. Di sana, rupanya sudah banyak pengunjung yang menghabiskan sisa hari di akhir pekan itu. Rata-rata para keluarga yang membawa anak-anak mereka bermain mobil mainan elektrik yang disewa selama beberapa menit. Saya memutuskan untuk menikmati sejenak sisa senja di sana sambil menunggu maghrib tiba.

Selepas menunaikan shalat maghrib di Masjid Raya At-Taqwa Cirebon, perburuan pun saya mulai. Pada sisi utara alun-alun ini, sebenarnya banyak warung pedagang kali lima yang menjajakan aneka makanan. Namun, saya tidak menemukan satupun pedagang nasi jamblang di sana. Saya sempat ragu apakah benar ada pedagang nasi jamblang di sini.

Lalu, saya beralih menuju sisi timur alun-alun ini dan akhirnya menemukan beberapa pedagang nasi jamblang. Jadi, para pedagang nasi jamblang ini terkonsentrasi di bagian timur alun-alun. Saya memilih warung pedagang nasi jamblang yang cukup ramai. Biasanya, warung yang ramai rasa masakannya pasti enak dan murah.

Berbagai Pilihan Lauk yang Bisa Dipilih.

Warung yang saya pilih dikelola oleh seorang bapak tua. Tanpa banyak bicara, beliau langsung memberi saya sepiring nasi dan satu buah sendok. Beliau pun juga langsung membuatkan saya segelas teh hangat meski saya tak meminta. Rupanya saat memakan nasi jamblang ini, teh menjadi teman utama untuk menyantapnya.

Saya tak segera mengambil nasi dan lauk yang tersaji di depan saya. Saking banyaknya, saya sampai bingung akan memilih yang mana. Rata-rata, menu yang disajikan berupa seafood seperti udang, kerang, cumi, dan ikan. Namun, ada pula sate telur puyuh, telur dadar dan ceplok, tahu, serta tempe. Bapak penjual mengetahui saya masih bingung dan memberi informasi mengenai menu apa saja yang tersedia.

Akhirnya, saya memutuskan mengambil satu ikat nasi saja beserta lauk tempe, tahu, dan telur. Saya hanya ingin mencicipi dulu nasi jamblangnya agar tidak tercampur dengan rasa yang lain. Nah, keistimewaan nasi jamblang ini adalah dari bungkus yang digunakan. Sebenarnya, nasi jamblang ini mirip nasi kucing yang ada di Yogyakarta atau Solo. Bedanya adalah pembungkusnya tadi. Nasi jamblang dibungkus dengan daun jati, sehingga wangi nasi yang ada di dalamnya masih terasa. Bagi saya, keunikan nasi jamblang yang dibungkus daun jati ini juga bisa mengurangi produksi sampah anorganik yang bisa merusak lingkungan.

Nasi Jamblang yang Dibungkus Daun Jati.

Satu dua suap merasakan nasi jamblang membuat saya ketagihan. Selain wangi nasi yang masih terasa, ada semacam rasa gurih terkecap saat butiran nasi itu masuk ke mulut. Jadi, rasanya satu bungkus nasi jamblang pun kurang. Saya pun tambah lagi sebungkus nasi jamblang yang dihargai Rp. 2.000.

Dengan menambah nasi maka konsekuensinya adalah harus juga menambah lauk. Iseng-iseng saya mencoba cumi yang dibumbu dengan santan. Saya berani mengambilnya karena bapak pedagang menjamin rasanya tidak pedas, dan ternyata benar, rasa gurihlah yang mendominasi. Saking lahapnya, menu ini tidak sempat saya foto dan tiba-tiba habis begitu saja. Tapi sungguh, cumi yang tersaji di nasi jamblang ini sangat enak. Harganya pun juga murah, karena hanya dibandrol seharga Rp. 4.000 untuk sekali ambil.

Kalau saya tidak ingat dengan berat badan saya, pasti saya akan terus tambah lantaran pembeli boleh mengambil sendiri nasi jamblang dan lauknya. Selepas menghabiskan dua bungkus nasi jamblang, saya pun memutuskan berhenti. Saat membayar, saya begitu takjub dengan harga yang harus saya bayar yakni hanya Rp. 15.000 untuk semua makanan yang saya ambil. Murahnya harga nasi jamblang ini berkorelasi dengan sejarah keberadaannya yang ditujukan kepada kuli angkut di Pekalipan Kota Cirebon. Jadi, meskipun mengambil banyak, jangan kuatir akan membuat kantong jebol. Untuk itu, saya menandai nasi jamblang ini sebagai kuliner wajib saat berkunjung ke Cirebon.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.