Menyambangi Pasar Triwindu Ngarsopuro, Surganya Barang-Barang Antik

1
3619
Aneka patung ukiran kayu.

Sebagai warga Jakarta, bertandang ke Surakarta selalu menyajikan kesan tersendiri. Kota di sisi selatan Pulau Jawa ini memiliki kekayaan tradisi yang lahir dari perjalanan panjang sejarahnya. Selain keraton dan museum, ada beberapa loka lainnya yang tak boleh luput jika kita bertandang ke sana, salah satunya adalah Pasar Triwindu atau dikenal juga dengan sebutan Pasar Ngarsopuro.

Apa sih yang spesial dari pasar ini? 

Mulanya, saya pikir pasar ini tak ubahnya pasar-pasar lain pada umumnya yang menjual aneka kebutuhan sehari-sehari seperti sandang dan pangan. Namun, Pasar Ngarsopuro punya ciri khas yang berbeda. Ia tidak menjual sandang dan pangan, melainkan aneka perabotan kuno yang terjaga dari masa lampau, atau benda-benda lainnya yang dibuat menyerupai benda kuno.

Kios di lantai 2 Pasar Ngarsopuro.
Suasana lengang di lantai 1 Pasar Ngarsopuro.

Untuk sampai ke pasar ini, saya mengendarai sepeda motor melalui Jalan Raya Slamet Riyadi menuju ke arah Keraton Mangkunegaran. Pasar Antik Ngarsopuro berada di Jl. Diponegoro, tepat di sisi selatan keraton. Sepeda motor bisa diparkir di bagian belakang pasar. Suasana pasar hari itu sedang sepi, mungkin karena langit sedang mendung pekat. Bangunan pasar terdiri dari dua lantai. Saya memilih menjelajahinya dari lantai pertama terlebih dulu.

Pasar kuno untuk barang-barang kuno

Jika menilik sejarahnya, sebenarnya pasar ini memiliki nama asli sebagai Pasar Triwindu yang diambil dari kata tiga (tri) dan delapan (windu). Arti dari Trwindu adalah tiga windu alias 24 tahun. Pasar ini berdiri pada tahun 1939 sebagai tengara naik takhtanya KGPAA Mangkunegara VII berdiri di takhta Pura Mangkunegaran.

Aneka topeng kayu.

Hingga tahun 1966, barang-barang yang dijajakan di sini masih beragam. Ada pedagang yang menjual alat-alat sepeda motor dan mobil, alat pertukangan, perabotan rumah tangga, dan sedikit barang antik. Barulah sejak tahun 1970-an, terjadi spesialisasi komoditi yang dijual di sini. Barang-barang antik menjadi barang yang difokuskan penjualannya. Ada barang antik yang memang berasal dari masa lalu, namun ada pula benda-benda baru yang dibuat dengan model antik, seperti patung perunggu, lampu templok, bros, teko, gelas, dan sebagainya. Ada pula pedagang yang menjual uang-uang kuno.

Meski tujuan utama saya menyambangi pasar ini adalah untuk lihat-lihat saja, tapi benda-benda antik di sini begitu menggoda. Ketika menyambangi lantai dua, saya tertarik dengan sebuah lampu templok yang kehadirannya makin jarang dijumpai di rumah-rumah masa kini. Lampu templok ini biasa disebut juga lampu sempor. Bentuknya ada yang mungil, ada pula yang besar, tergantung kebutuhan. Ketika listrik belum ada, lampu templok ini dulu menjadi sumber penerangan di rumah.

Lampu templok yang saya beli seharga 30 ribu.

Seiring waktu, fungsinya bergeser. Tatkala listrik sudah semakin mudah dijumpai, lampu templok biasanya digunakan hanya sebagai lampu cadangan kala mati listrik saja. Tapi kini, lampu templok tak lagi populer semenjak kehadiran senter dan alat penerangan lainnya. Ketika mati listrik, mungkin yang akan kita lakukan pertama kali adalah menyalakan flash di ponsel, bukan mencari lampu templok yang untuk menyalakannya dibutuhkan minyak tanah yang kini semakin sulit dicari.

“Niki pinten bu?” saya bertanya berapa harganya dalam bahasa Jawa halus.

“40 ribu mawon, mas.”

Harga itu saya rasa terlalu mahal. Proses tawar menawar pun terjadi dan disepakatilah lampu templok mini itu saya beli seharga 30 ribu. Tabung minyak tanahnya berwarna kuning, dan di besi penyangganya terpatri potret wayang.

Aneka teko bercorak lawas.
Telepon jadul.

Selain membeli barang-barang, kita pun diperbolehkan untuk mengambil foto. Namun, perlu cermat sebab ada beberapa toko atau spot yang memasang larangan berfoto dikarenakan beberapa alasan. Tapi, jika merasa tertarik dan ingin mengabadikan momen foto, kita bisa meminta izin terlebih dulu kepada yang empunya toko. Pasar Antik Ngarsopuro buka setiap hari dari jam 9 hingga 5 sore. Ada kira-kira 150 kios di sini yang bisa membawa kita bernostalgi ke masa lalu.

Jam Buka:
Setiap Hari 09.00 - 17.00 Wib

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.