Menyaksikan Parade Budaya Nyongkolan Ala Adat Sasak, Lombok

0
340
Atraksi Gendang Beleq ala budaya Sasak.

Travelovers pasti pernah mendengar salah satu pepatah yang mengatakan, “Jangan pernah ke Lombok nanti gak mau pulang”. Pepatah itu di-booming-kan oleh masyarakat luar Pulau Lombok. Alasannya, Pulau Lombok memiliki beragam wisata, budaya, dan khas perilaku sosial yang bisa menambah wawasan Travelovers untuk menyusuri beragam budaya khas nusantara.

Selain bisa mengunjungi tempat-tempat wisata, baik wisata alam dan kuliner, Travelovers juga bisa menyaksikan wisata budaya di Pulau Lombok. Pulau Lombok sendiri memiliki beragam budaya yang bisa ditonton dan dinikmati para wisatawan, baik lokal, nasional dan internasional.

Penampilan pengantar pria pada budaya Nyongkolan.

Dalam bahasa khas suku Sasak, Pulau Lombok sebenarnya berarti “lomboq” yang berarti lurus. Bukan cabai lho artinya Travelovers. Banyak dari teman-teman yang berasal dari luar pulau Lombok menyebutkan arti Lombok adalah cabai itu keliru. Bahwa sebenarnya, Pulau Lombok dalam bahasa Suku Sasak berarti lempeng atau lurus karena jalan di Pulau Lombok lempeng dan lurus.

Masyarakat Pulau Lombok sendiri memiliki beragam budaya yang bisa dikatakan unik. Salah satu budaya yang sangat tenar di Pulau Lombok adalah budaya adat Nyongkolan. Jika Travelovers mengunjungi pulau yang mungil ini, maka sempatkanlah untuk menyaksikan parade budaya Nyongkolan ala masyarakat Suku Sasak Pulau Lombok.

Parade budaya Nyongkolan adalah budaya adat Suku Sasak Lombok Nusa Tenggara Barat cukup tenar di telinga wisatawan. Budaya Nyongkolan merupakan acara perayaan hari pernikahan antara mempelai wanita dan mempelai pria masyarakat Pulau Lombok. Pada budaya Nyongkolan, diiringi oleh lantunan musik cilokaq atau gendang beleq (rebana) dan kecimol (koplo ala lombok). Pada saat Nyongkolan sendiri, selalu diiringi oleh seluruh peserta/masyarakat yang mengenakan baju adat khas Suku Sasak Pulau Lombok.

Capuk khas Sasak.

Menyaksikan parade budaya Nyongkolan di Pulau Lombok tidaklah sulit. Sangat mudah menemukan acara parade budaya Nyongkolan di Lombok Travelovers. Biasanya, Travelovers akan menemukan gelaran parade budaya Nyongkolan pada hari Sabtu dan Minggu. Hampir semua masyarakat Pulau Lombok yang melakukan acara pernikahan sudah pasti merayakan hari pernikahannya dengan cara adat Nyongkolan.

Menyaksikan parade budaya Nyongkolan di Pulau Lombok, pasti mengasikkan Travelovers. Bagaimana tidak, saya selaku masyarakat Lombok sendiri, tidak pernah bosan melihat parade budaya adat Nyongkolan di Lombok. Biasanya, jika sedang berlangsung, budaya Nyongkolan biasanya dilakukan di tengah jalan raya. Sehingga, jika sedang berlangsung parade budaya Nyongkolan, jalanan yang dilalui oleh parade budaya Nyongkolan ini seketika mengalami macet. Hehe

Biasanya parade budaya Nyongkolan dilakukan pada sore hari selepas sholat Ashar. Biasanya, berangkat dari rumah mempelai pria, seluruh keluarga pihak pria mengantarkan mempelai ke depan rumah mempelai wanita dengan iringan musik cilokaq dan kecimol. Itu bertujuan untuk memeriahkan dan memberi selamat kepada kedua mempelai yang melangsungkan pernikahan.

Pengantin wanita dan pakaian pengantar wanita.

Perbedaan antara cilokaq dan kecimol dapat dilihat dari gaya musik yang dilantunkan. Biasanya musik cilokaq menggunakan bahasa Sasak dan mirip dengan musik rebana. Untuk musik kecimol sendiri, umumnya menggunakan organ tunggal yang lebih modern. Selain itu, musik kecimol diikuti oleh perlengkapan musikal pada umumnya. Personel cilokaq lebih banyak dari kecimol, bisa mencapai 20 orang. Akan tetapi, untuk personel kecimol, sering kali berjumlah 10 sampai 12 orang personel. Dari ongkos sewa kecimol sendiri berbeda dengan cilokaq atau gendang beleq. Untuk menyewa kecimol biasanya masyarakat Lombok mengeluarkan dana sekitar 2 hingga 5 juta rupiah. Untuk menyewa cilokaq sendiri rata-rata bisa mencapai sekitar 4 hingga 8 juta rupiah untuk sekali antar dari siang hingga menjelang magrib.

Sebelum masyarakat Lombok melangsungkan parade budaya Nyongkolan, umumnya mempelai pria mengadakan acara makan bersama atau dalam bahasa Sasak disebut begawe. Begawe sendiri dilakukan bertepatan dengan hari Nyongkolan. Sebelum Nyongkolan, semua masyarakat kampung di rumah mempelai pria mengadakan begawe untuk memeriahkan sebelum melakukan parade budaya Nyongkolan tersebut.

Dalam parade budaya Nyongkolan, dedare (gadis) dan terune (bujang) dan semua pengantar  yang mengarak mempelai pria dan wanita pada perayaan tersebut, semua  mengenakan baju adat Sasak yaitu kebaya untuk wanita. Baju lambung kebaya dan kereng nine (kain songket perempuan) merupakan satung khas Lombok yang biasa dipakai pengantar wanita. Sanggul serta penghias kepala, anting dan aksesoris lainnya juga dikenakan pengantar wanita.

Arak-arak pengantin pada Parade budaya Nyongkolan.

Untuk pakaian adat pria sendiri, biasanya mereka mengenakan jas warna hitam atau variasi. Yang khas dari pakaian adat pria ialah baju adat tegodek nongkek, kereng selewoq poto namanya. Tak lupa juga, pengantar pria pasti mengenakan capuk seperti khas capuk Bali Travelovers.

Bagi Travelovers yang ingin menyaksikan parade budaya Nyongkolan bisa mengunjungi pulau Lombok sebulan pasca lebaran Idul Fitri. Pasti, banyak dari bujang dan gadis di pulau Lombok melangsungkan pernikahannya. Akan tetapi, tidak selalu pada waktu tersebut, hampir setiap bulan bahkan setiap minggu ada saja masyarakat pulau Lombok yang melangsungkan pernikahan dengan melangsungkan parade budaya Nyongkolan. Seru lho Travelovers. Yuk, ke Lombok Travelovers!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.