Menjelajahi Jejak Sejarah Penjajahan Belanda di Tiga Pulau Kepulauan Seribu

0
394
Penahan abrasi dari beton di Pulau Kelor.

Siapa bilang berlibur ke Pulau Seribu harus menginap satu malam karena harus menunggu kapal kembali ke pelabuhan di Jakarta? Tidak semua pulau perlu dikunjungi dalam waktu dua hari satu malam. Ada tiga pulau yang lokasinya sangat dekat dengan pelabuhan di Jakarta sehingga bisa dikunjungi dalam waktu hanya satu hari. Bahkan, mengunjungi tiga pulau ini seolah sesuai dengan pribahasa “sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui”. Apa saja nama pulaunya? Ada Pulau Kelor, Pulau Onrust, dan Pulau Cipir.

Jika ingin berkunjung ke tiga pulau tersebut, caranya cukup mudah. Banyak jasa trip di google atau instagram yang menawarkan paket hemat untuk berkunjung ke sana. Paket hemat yang biasa ditawarkan adalah paket tanpa makan siang, yaitu sebesar Rp75.000. Dengan harga itu, kita sudah diajak berkeliling tiga pulau sampai puas.  Kalau ingin sekalian satu paket dengan makan siang, kita dikenai biaya Rp100.000. Namun, banyak peserta trip yang memilih untuk wisata kuliner secara pribadi di Pantai Onrust. Menurut mereka, kebebasan pilih menu adalah kepuasan tersendiri. Bahkan dengan harga yang sama, kita bisa mendapatkan menu yang mungkin lebih baik.

Untuk bisa trip seharian ke tiga pulau, peserta trip diminta untuk berkumpul di Dermaga Muara Kamal, Penjaringan, Jakarta Utara pukul 07.00. Untuk mencapai lokasi ini, kita bisa menggunakan grabcar lalu patungan dengan yang lain atau bisa menggunakan transportasi umum, Transjakarta dari blok M lalu turun di halte Harmoni dan berganti rute dari Harmoni menuju Kali Deres dan turun di halte Rawa Buaya. Setelahnya masih harus naik angkutan umum warna merah.

Sesampainya di sana, semua peserta akan mendapatkan pita dengan warna yang disesuaikan dengan paket yang dipilih. Dengan naik sampan tradisional, peserta trip diarahkan menuju tiga pulau secara berurutan. Tentunya, semua wajib mengenakan pelampung selama perjalanan. Kira-kira setelah 30 menit perjalanan, kita akan sampai di pulau pertama, yaitu Pulau Kelor. Nama pulau ini sesuai dengan gambaran tentang pulau ini. Pulau ini memang kecil, seperti arti dari namanya. Pernah dengar pribahasa “hidup ini tak seluas daun kelor”. Nah, Pulau Kelor memang pulau yang tidak terlalu luas. Hanya ada beberapa meter tanah yang mengelilingi kebaradaan benteng di dalamnya.

Benteng Martello di Pulau Kelor.

Pada dasarnya, tiga pulau yang kami kunjungi ini memiliki kesamaan dari segi sejarah, mulai dari sejarah dari masa awal kedatangan orang Belanda, masa kolonial Belanda, penjajahan Jepang, hingga masa kemerdekaan. Sebenarnya, masih ada satu pulau lagi yang memiliki kesamaan sejarah, yaitu Pulau Bidadari. Namun, trip yang banyak disediakan oleh travel lebih banyak ke tiga pulau saja (Kelor, Onrust, dan Cipir). Oleh karena itu, di pulau-pulau ini terdapat Benteng Martello untuk mempertahankan pulau dari serangan musuh. Sayangnya, Benteng Martello yang masih utuh hanya di Pulau Kelor. Di pulau lain, bentuknya sudah berupa sisa fondasi.

Banteng Martello merupakan bangunan berbentuk lingkaran dengan diameter luar benteng 14 meter dengan tebal dinding 2,5 meter yang difungsikan untuk tujuan militer. Benteng itu menatap laut dari berbagai sisi dengan gagahnya. Bentuknya lingkaran dan terdapat lubang-lubang di setiap sisi. Lubang itu biasanya digunakan untuk meletakkan moncong senjata yang bisa berputar 360 derajat untuk menembaki musuh dan mengalahkannya. Tinggi benteng ini mencapai 9 meter dari permukaan laut. Benteng ini dibangun Belanda tahun 1850. Benteng ini dibuat antimeriam sehingga lebih kuat dalam menahan serangan karena bata merah yang digunakan adalah bata merah spesial.

Di depan Benteng Martello terdapat batu-batu pondasi yang merupakan sisa terjangan tsunami akibat letusan Gunung Krakatau. Bahkan, pemandu menjelaskan bahwa pulau ini sering disebut sebagai pulau kuburan karena banyak tahanan politik yang dikubur di Pulau Kelor setelah dihukum mati di Pulau Onrust atau Pulau Cipir. Orang pribumi yang meninggal karena sakit juga dikuburkan di pulau ini. Untuk menahan abrasi pantai agar tidak menenggelamkan Pulau Kelor, beberapa beton pemecah ombak dipasang di tepian pantai. Akibat abrasi, luas Pulau Kelor semakin mengecil.

Suasana pantai di Pulau Onrust.

Pukul 11.00, peserta trip diajak melanjutkan perjalanan ke pulau berikutnya, yaitu Pulau Onrust. Lama perjalanan yang ditempuh sekitar 10 menit. Di pulau itu, peserta hanya diberi waktu sekitar dua jam untuk mengeksplor keindahan Pulau Onrust beserta sejarahnya. Selain itu, peserta juga diberi waktu untuk makan siang dan salat duhur. Menurut saya, warung nasi dan masjid hanya tersedia di pulau ini. Pulau sebelum dan yang akan dikunjungi tidak tersedia tempat makan dan ibadah. Jadi, harus benar-benar dimanfaatkan meskipun kita harus mengikhlaskan waktu yang tersita oleh kebutuhan itu. Banyak juga peserta trip yang sudah membawa bekal dari rumah sehingga mereka menggelar tikar plastik di atas pasir seolah piknik di pantai. Tidak perlu khawatir perihal kebersihan tempat dan air yang digunakan. Di pulau ini, semuanya bersih hanya saja memang air yang digunakan bukan air tawar, melainkan air laut. Jadi, asin dan bikin gatal di muka.

Pulau Onrust lebih luas dari Pulau Kelor. Pulau ini berisi reruntuhan bangunan yang dulunya dipakai sebagai tempat karantina haji. Ada pula museum arkeologi yang bisa dikunjungi. Di museum ini, kita akan mendapatkan pengetahuan tentang sejarah Pulau Onrust dan menyaksikan langsung benda-benda penggalian arkeologi yang dilakukan dalam kurun waktu 10 tahun (1979—1989). Pemandu wisata menjelaskan bahwa Pangeran Jayakarya memberi izin VOC untuk menjadikan Pulau Onrust sebagai tempat perbaikan kapal dan pernyimpanan rempah-rempah. Setelah puas berwisata sejarah, jangan lupa untuk menyempatkan diri untuk berfoto di pinggir pantai lalu menikmati sejuknya angin pantai dengan duduk-duduk santai di pinggir pantai.

Sisa kamar mandi rumah sakit di Pulau Cipir.

Berbeda dengan dua pulau sebelumnya, Pulau Cipir menyisakan bekas bangunan rumah sakit. Hal itu terlihat dari keberadaan kamar mandi, WC, dan barak. Bahkan, kita juga menjumpai meriam besar di dekat pantai. Selain berfoto dengan sisa-sisa bangunan, aktivitas lain yang bisa dilakukan di pantai ini adalah camping pinggir pantai, bermain air laut, berenang, dan menyewa banana boat dengan hanya membayar Rp35.000,00. Untuk kuliner, menu yang terkenal tetap sama di Indonesia. Apa lagi kalau bukan indomie rebus. Suasana pinggir pantai dengan suara deburan ombak membuat mi dadak yang kita santap semakin nikmat. Bahkan, ada yang foto prewedding di pulai ini lho. Bikin baper jadinya kan.

Tepat pukul 15.45 kita perjalanan kembali ke Dermaga Muara Kamal.  Selama perjalanan kita akan melewati bagan-bagan ikan yang menambah keindahan perpaduan gelombang air laut dengan langit yang biru. Perjalanan ke tiga pulau ini tidak hanya menikmati keindahan pantai, tetapi kita juga menikmati keindahan sejarah sehingga tiga pulau ini lebih indah untuk dikenang dan dikunjungi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.