Menjelajahi Gili Trawangan, Lombok, Nusa Tenggara Barat

0
1558
Sunrise di Gili Trawangan

Pulau Lombok merupakan salah satu Pulau di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dibagi menjadi 4 Kabupaten dan 1 Kota, Kota Mataram, Kabupaten Lombok Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Utara. Dengan luas wilayah 5.435 km2, dan menempatkan Pulau Lombok sebagai peringkat 108 dari semua pulau di dunia berdasarkan luas wilayahnya. Travelingku kali ini ke Pulau Lombok, sebenarnya selain mau explore Pulau Lombok, juga sebenarnya penasaran dengan pulau kecil bernama Gili Trawangan, yang namanya sudah terkenal sampai ke mancanegara.

Pulau Gili Trawangan, merupakan salah satu pulau dari tiga gugusan pulau yang ada di sebelah barat laut lombok dan merupakan pulau terbesar di bandingkan pulau disebelahnya, yang bernama Gili Air dan Gili Meno. Nama Gili Trawangan sendiri diambil dari bahasa masyarakat setempat, Gili adalah Pulau dan Trawangan berasal dari kata “Terangang” yang berarti tempat bertelurnya penyu.

Sunset di Gili Trawangan

Dari Surabaya banyak maskapai yang sudah melayani direct flight menuju Pulau Lombok, di Bandar Udara International Lombok Praya, tidak perlu transit terlebih dahulu ke Bali. Pada saat itu saya memilih flight pagi dari Djuanda Surabaya. Sehingga lebih banyak waktu yang di habiskan di Pulau Lombok. Sesampainya di Bandar Udara Lombok Praya. Saya memilih naik Bus DAMRI menuju Terminal Mataram, dengan tarif yaah… sangat terjangkau untuk kantong backpacker seperti saya, dengan tarif kira-kira Rp. 20.000,- s/d Rp. 25.000,- . Kebetulan saya punya teman kuliah yang kebetulan asli Lombok dan kita sudah saling tukar kabar untuk bertemu di Terminal Bus DAMRI Mataram dan dia bersedia mengantar saya ke Pelabuhan Bangsal, untuk menyebrang dengan Public Boat ke Gili Trawangan. Perjalanan dari Mataram ke Pelabuhan Bangsal kira memakan waktu 1.5 Jam.  Saya disuguhkan pemandangan indah selama perjalanan. Melewati bukit-bukit dan pantai disepanjang jalan menuju Pelabuhan Bangsal.

Pelabuhan Bangsal beroperasi dari Pukul 08.00 s/d 17.00 WITA setiap harinya. Pelabuhan ini sangat ramai oleh para warga setempat yang akan menyebrang keluar atau masuk Gili. Saya sengaja menggunakan Public Boat untuk menuju Gili Trawangan selain harga nya murah, hanya Rp. 15.000,- selain itu saya juga bisa berinteraksi dengan penduduk lokal disana. Penyebrangan dari Pelabuhan Bangsal ke Gili Trawangan biasanya hanya ditempuh dengan waktu 25 s/d 35 menit, akan tetapi juga tergantung dengan besarnya ombak.

Saat menginjakkan kaki pertama kali di Gili Trawangan, saya sama sekali tidak melihat kendaraan bermotor disana dan setelah saya bertanya pada penduduk lokal, memang di Gili Trawangan kendaraan bermotor dilarang digunakan. Jadi masyarakat setempat biasanya menggunakan transportasi yang dinamakan Cidomo, semacam delman atau menggunakan sepeda kayuh dan bahkan berjalan kaki. Yah bagus juga sih peraturan yang diterapkan di Gili ini. Selain membuat Pulau ini bebas dari polusi juga menyehatkan, karena kemana-mana harus berjalan kaki. Gili Trawangan inipun tidak terlalu luas juga kok, hanya memiliki panjang 3 Km dan Lebar 2 Km.

Saya pun memilih penginapan yang dekat dengan pantai, dengan harga yang juga tidak terlalu mahal, sekitar Rp. 350.000,- per malam. Banyak juga sih sebenarnya penginapan-penginapan di Gili Trawangan ini yang menawarkan harga per malam yang relatif murah. Tapi saya sarankan sebaiknya  sudah book jauh-jauh hari sebelumnya sebelum datang ke Gili Trawangan  untuk mendapat harga yang agak lega di kantong (tips ala-ala backpacker yang selalu berburu harga murah). Pada awalnya sih saya memutuskan untuk hanya menginap selama 2 hari di Gili Trawangan, akan tetapi karena terbius dengan pesona alam dan keinginan untuk menjelajah seluruh Gili Trawangan, akhirnya saya memutuskan untuk tinggal lebih lama.

Di Gili Trawangan ternyata bisa menikmati pemandangan matahari terbit dan matahari terbenam sekaligus loh. Untuk spot matahari terbit, waktu itu saya sengaja datang ke dekat dermaga penyeberangan karena menurut saya, itu spot sunrise yang paling kece, sambil melihat aktivitas penduduk setempat memancing dan menjala ikan dan cumi-cumi yang jumlahnya banyak sekali dan bisa dilihat dengan mata telanjang, karena air lautnya sangat bening sekali. Untuk berkeliling pulau, saya memutuskan untuk menyewa sepeda kayuh yang disewakan oleh penduduk lokal untuk para wisatawan dengan harga standar sekitar Rp. 50.000,- / per hari, saya mengayuh sepeda berkeliling pulau untuk  berburu matahari terbenam, dan setiap spot matahari terbenam di gili trawangan itu punya sensasi yang berbeda, amazing dan sangat indah!

Sunrise di Gili Trawangan

Gili Trawangan juga terkenal dengan night marketnya. Letaknya dekat dengan dermaga. Disini dijual segala macam kuliner dan seafood yang masih sangat fresh, berasal dari hasil tangkapan para penduduk setempat yang memancing dan menjala hasil laut di dermaga. Night Market merupakan salah satu tempat yang harus didatangi saat travelling ke Gili Trawangan, disini dijual ikan bakar, sate ikan dan kuliner khas lain. Tapi dibutuhkan banyak kesabaran yaa… hanya untuk sekedar memesan makanan, karena sangat ramai, dan juga kejelian untuk mencari tempat duduk untuk makan, tapi keramaian dan hiruk pikuknya sangat menyenangkan, karena semua berbaur antara penduduk lokal, wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara.

Sate ikan di night market

Saya juga sempat mencoba snorkling keliling ke 3 gili, yaitu Gili Trawangan, Gili Air dan Gili Meno dengan mengikuti open trip dengan para wisatawan yang lain, yang kebanyakan memang wisatawan mancanegara. Gili Air dan Gili Meno relatif lebih sepi dari Gili Trawangan. Pada saat mampir di Gili Air saya sempatkan membeli Gelato, oh iya, di 3 Gili ini juga terkenal dengan gelatonya loohh… yang terkenal dengan nama Gili Gelato, saya sempat penasaran juga sih, kenapa di gili ini banyak counter-counter yang menjual gelato, bukannya gelato itu adalah bahasa italia, kenapa istilah tersebut malah digunakan disini. Ternyata memang Gili Gelato ini adalah sebuah franchise dan pemiliknya adalah orang italia. hmmm pantas saja namanya gelato, dan memang gili gelato ini sangat pas dinikmati di suasana pantai yang panas terik.

Sangat berkesan sekali mengunjungi ketiga gili ini. Selain karena penduduk lokalnya yang sangat ramah dan saling bertoleransi menjalankan kewajiban agamanya masing-masing, tapi yang paling sulit saya lupakan adalah tentang peraturan di pelarangan kendaraan bermotor yang masih sangat dipatuhi, baik oleh penduduk lokal maupun oleh hotel-hotel dan provider wisata yang ada disana.  Every traveller must put Gili Trawangan one of their bucketlist.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.