Menjelajahi Benteng Vastenburg di Solo

0
155
Pintu masuk sebelah barat lebih populer untuk wisatawan.

Kunjungan saya ke Vastenburg awalnya tidak sengaja. Alasan utamanya karena waktu itu saya sedang ingin makan nasi dengan sayur bening plus sambel bawang. Menu sederhana yang semakin sulit dijumpai diantara menu daging-dagingan yang menjamur. Dan ternyata, di kompleks parkir Benteng Vastenburg ada seorang penjual yang menyajikan menu istimewa itu dengan harga Rp 10.000 plus es teh manis. Harga yang murah untuk ukuran masyarakat umum Solo.

Tempat parkir ini multifungsi, biasanya menjadi tempat parkir bus pariwisata luar kota yang sedang berlibur di Solo. Mereka biasanya mengunjungi keraton dan belanja di Pusat Grosir Solo, Beteng Plaza dan tentu saja Pasar Klewer yang legendaris itu.

Di sebelah timur termpat parkir inilah Benteng Vastenburg berdiri. Bangunan ini merupakan peninggalan bangsa Belanda. Mereka membangunnya dengan tujuan untuk mengawasi gerak-gerak keraton dan masyarakat Solo pada umumnya. Taktik ini sama persis dengan apa yang telah mereka lakukan pada keraton Yogyakarta dengan cara membangun Benteng Vredeburgnya.

Selain Belanda membangun benteng, mereka juga masih mendirikan tiga bangunan lagi yang terletak di sebelah barat benteng. Lebih tepatnya di seberang jalan. Ketiganya sekarang beralih fungsi menjadi kantor pos, Bank Indonesia, dan Kantor Walikota Solo sebagai titik nol kilometer Kota Bengawan ini.

Pintu masuk sebelah timur yang sejuk dan rindang.

Karena memiliki arsitektur unik khas Eropa yang sangat mencolok dibandingkan dengan bangunan masa kini, maka ketiganya menjadi langganan objek foto wisatawan. Sepertinya kurang afdol jika tidak berpose dengan latar belakang bangunan megah itu.

Dahulu, kondisi benteng ini sangat memprihatinkan setelah tidak ada kegiatan sama sekali di dalamnya. Hal ini menjadikan pohon dan semak belukar banyak tumbuh di sekitarnya, sehingga menutupi kemegahan bangunan yang terbuat dari bata itu. Parit yang mengelilingi benteng pun tidak lagi mengalirkan air karena tersumbat tanah dan sampah. Jembatan jungkit yang menjadi ciri khas benteng pun juga tidak lagi berfungsi seperti semula.

Kemudian pemerintah kota Solo mulai membenahi situs-situs peninggalan keraton dan Belanda. Akhirnya, dengan melalui pertimbangan ahli, mereka memasukan Benteng Vastenburg sebagai salah satu cagar budaya nasional. Karena memiliki hubungan erat dengan perjuangan bangsa untuk meraih kemerdekaan.

Benteng yang bercat putih ini mempunyai dua pintu gerbang, satu disebelah barat dengan tulisan Benteng Vastenburg dan yang satunya lagi berada di sisi timur. Di bagian inilah banyak terdapat pohon dan suasananya sangat nyaman untuk menyepi. Pohon yang tumbuh di sekitar sini berusia sangat tua. Pada malam hari kamu akan melihat bentuknya yang besar menjadi lebih menyeramkan.

Pintu masuk bagian benteng yang berbentuk bujur sangkar.

Di bagian dalam benteng kamu tidak akan menemukan apa-apa, kecuali sebuah lapangan luas yang dihuni oleh empat buah pohon beringin di tengahnya. Selain itu kamu juga akan menjumpai banyak kambing yang sedang makan rumput dengan tenang di sini.  Pada bagian sisinya terdapat beberapa tangga untuk memberikan akses serdadu ke bagian atas ke arah meriam yang dulu terpasang di sana. Di sisi inilah kamu bisa berjalan-jalan mengitari kompleks benteng yang berbentuk bujur sangkar dengan empat tonjolan pada ujungnya.

Untuk saat ini Benteng Vastenburg sering digunakan untuk kegiatan yang membutuhkan tempat yang luas. Misalkan Culinary Festival, Festival Keroncong, Konser Gamelan Akbar dan masih banyak perhelatan yang telah mereka selenggarakan di sini.

Untuk memasukinya, kamu tidak perlu mengeluarkan biaya. Selain gratis, pada bagian area ini kamu juga bisa mengakses layanan wifi gratis yang disediakan oleh pemerintah Kkota Solo. Kamu tidak perlu melakukan registrasi apapun untuk bisa menikmati fasilitas ini. Maka tidak heran, banyak masyarakat yang suka berlama-lama di sini.

Itulah mengenai Benteng Vastenburg yang memiliki arti dalam Bahasa Indonesia sebagai “teguh”. Benteng peninggalan Belanda ini sekarang menjadi objek wisata kebanggaan warga Solo dan sekitarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.