Menjelajah Wisata Seribu Batu Songgo Langit Bantul

0
580
Spot rumah kayu.

Beberapa rekan saya asal Malang tiba-tiba berencana untuk berlibur ke Jogja di suatu akhir pekan. Sayangnya, mereka tidak memiliki rencana pasti akan ke mana. Berhubung ada mobil yang dibawa dari Malang, maka kami memutuskan berjalan dahulu ke arah Imogiri.

Di sana akan ada banyak tempat wisata yang menarik minat kami sambil memilih tempat mana saja yang bisa dikunjungi. Selepas mobil yang kami kendarai tiba di daerah Mangunan, Dlingo, Kabupaten Bantul, akhirnya kami menemukan sebuah tempat yang tak terlalu ramai. Tempat tersebut bernama Seribu Batu Songgo Langit.

Penasaran dengan apa yang ada di dalamnya, kami pun memakirkan mobil kami. Kami masuk dengan membayar tiket seharga Rp. 2.500. Harga yang cukup murah untuk sebuah tempat wisata yang memiliki kesejukan udara dan beberapa fasilitas di dalamnya.

Jembatan menuju rumah kayu.

Salah satu fasilitas yang ada adalah rumah kayu. Fasilitas ini berupa gapura kecil yang terbuat dari pohon pinus disusun sedemikian rupa sehingga tampak elok. Hiasan bekas batang kayu yang dijajar rapi menambah keeksotisan rumah kayu tersebut. Saya jadi ingin berfoto sebentar sebelum memasuki fasilitas lain.

Setelah puas berfoto di rumah kayu, kami lalu menuruni anak tangga menuju ke sebuah tanah lapang. Di tengah perjalanan, kami masih terus berfoto bersama karena pemandangannya yang cukup asyik. Tangga-tangga ini disusun sedemikian rupa sehingga berjajar rapi dan bermuara ke sebuah jembatan kayu. Banyak juga pengunjung yang berfoto di sini. Jadi, kami harus sabar menanti mereka menyelesaikan kegiatan tersebut.

Setelah melewati jembatan, kami pun tiba di sebuah tanah lapang dengan beberapa rumah kecil mengelilinginya. Oh ini rupanya yang disebut sebagai rumah seribu kayu. Memang, jika diamati secara seksama, rumah ini berdinding kayu pinus yang menjadi komoditas utama tanaman di sekitar Mangunan. Uniknya, rumah ini juga beratapkan kayu yang membuat suasana etnik semakin terasa.

Bersantai seperti di kafe.

Sayangnya, ukuran rumah ini cukup kecil sehingga tak mampu dimasuki kami bertujuh. Meski demikian, kami masih bisa berfoto bersama sambil duduk di depan rumah tersebut. Susunan rumah yang ditata bertingkat mengikuti kontur tanah menjadi spot teristimewa di wisata ini.

Sebenarnya, ada satu spot lagi yang juga tak kalah seru. Spot tersebut adalah rumah hobbit alias rumah para kurcaci yang juga terbuat dari kayu. Sayangnya, pengunjung Wisata Seribu Batu Songgo Langit yang cukup ramai membuat kami tak bisa berfoto dengan leluasa. Kami harus menunggu lama sedangkan rekan saya mulai kelaparan, jadinya kami mengurungkan niat tersebut.

Kami pun menuju spot lain berupa  beberapa kursi panjang dan meja dari kayu yang ditata seperti di sebuah kafe terbuka. Kami berfoto bersama sambil bercengkerama layaknya sedang berada di sebuah kafe. Selain spot rumah kayu tadi, spot ini juga menjadi favorit saya.

Spot rumah kayu.

Sayangnya, ketika kami datang ke sana, kondisi cuaca baru saja turun hujan. Tanah pun menjadi becek dan banyak lumpur yang menempel di alas kaki kami. Itu juga belum termasuk semut-semut merah yang cukup banyak saat kami duduk di kursi yang kami gunakan. Jadi, kami harus berhati-hati saat berada di sana.

Selain spot foto, wana wisata ini juga menyediakan wahana flying fox bagi anak-anak. Namun, fasilitas yang saya suka adalah warung-warung yang menjual aneka makanan khas Jogja dengan harga yang sangat terjangkau, antara Rp. 8.000 hingga Rp. 10.000. Di sini juga disediakan fasilitas mushala dan aula yang juga terbuat dari kayu pinus sehingga sangat cocok digunakan sebagai ajang rekreasi bersama keluarga atau teman kantor. Jadi, tunggu apa lagi? Datang ke Dlingo dan nikmati wisata Seribu Batu Songgo Langit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.