Menjelajah Solo Raya Bersama Local Guide

0
1774
Menjelajah Solo Raya Bersama Local Guide.

Jangan ragukan lagi jaringan pertemanan dalam dunia ini. Dari yang tidak kenal menjadi kenal. Dari yang bukan siapa-siapa menjadi saudara. Semuanya bisa terjadi ketika kita menyambung tali silaturahmi. Kurang lebih seperti itulah yang saya rasakan selama lebih dari 4 tahun menulis di blog pribadi.

Saya menjadi mengenal bloger dari beberapa daerah di Indonesia hanya karena sering berkunjung atau Blog Walking satu sama lain. Keuntungan yang didapat banyak, salah satunya adalah, saya menjadi tidak bingung ketika menjelajah daerah lain karena punya jaringan pertemanan di sana. Seperti cerita kali ini ketika menjelajah Solo Raya dengan bantuan local guide, Halim Santoso.

Kami sudah kenal lama di dunia daring hingga akhirnya bisa kopi darat langsung setelah sebelumnya dia yang berkunjung ke kampung halaman saya, Banjarnegara. Akhirnya kunjungan balasan pun saya lakukan di bulan Maret 2018.

Berangkat dari Banjarnegara, saya memilih menggunakan transportasi mobil travel yang setiap hari melayani rute ke Solo. Terbatas memang pilihan transportasinya karena kalau tidak bis, maka mobil travel. Sementara untuk angkutan kereta api, harus menempuh perjalanan ke stasiun terdekat yaitu Purwokerto.

Siapa yang tidak mengenal Solo? Kota yang memiliki tagline pariwisata “The Spirit of Java” ini mempunyai banyak destinasi wisata yang menarik. Kota ini juga menjadi rumah bagi dua keraton dan kadipaten Jawa yaitu Keraton Kasunanan Surakarta dan juga Kadipaten Praja Mangkunegaran.

Ada banyak destinasi wisata yang bisa dikunjungi di Solo ini mulai dari wisata kuliner, sejarah, budaya dan yang lainnya. Namun, kali ini saya akan menceritakan pengalaman yang sedikit berbeda. Menjelajah Solo Raya dengan bantuan local guide tentu saja akan sangat menarik karena beberapa lokasi termasuk yang tidak biasa dan cocok dengan hobi saya yaitu wisata bangunan tua bersejarahnya.

Untuk urusan penginapan, saya tidak bingung karena dengan tangan terbuka mendapatkan tumpangan di rumah teman tadi yang lokasinya tak jauh dari Pasar Gede Hardjonagoro.

Menikmati Sarapan Nasi Liwet di Emperan Pasar Gede Hardjonagoro
Penjual Nasi Liwet di Pasar Hardjonagoro.

Beruntungnya saya karena menginap di lokasi yang masih satu komplek dengan keberadaan pasar bersejarah di Solo ini. Bahkan untuk urusan perut pun tinggal melangkah beberapa menit saja, karena lokasinya yang saling berdekatan.

Tujuan sarapan yang wajib dicoba adalah nasi liwet, sebuah sajian nasi yang dimasak dengan santan hingga tanak kemudian diberi tambahan sambal labu siam, potongan daging ayam kampung, telor pindang serta areh yang terbuat dari santan. Lokasinya berada di emperan pertokoan dan yang menjadi pilihan adalah Nasi Liwet Ibu Sri. Seporsinya hanya cukup membayar Rp. 9.000 saja.

Menurut Ahli Gastronomi dan juga peneliti di Pusat Studi Pangan dan Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Ibu Murdijati Gardjito. Memasak nasi dengan cara meliwetnya merupakan metode yang sudah umum dilakukan masyarakat kita pada zaman dahulu.

Salah satu bukti tertulis adalah yang terdapat pada Serat Centhini pada tahun 1819. Dan penyebarannya meliputi pulau Jawa dan Sumatera. Yang membedakannya adalah pada sajian lauk pauknya yang antara daerah satu dengan daerah lain berbeda.

Nasi liwet ini dibawa oleh para pedagang yang berasal dari suatu daerah bernama Desa Menuran, Kecamatan Baki, Kabupaten Sukoharjo. Mereka adalah para pedagang dari kalangan rakyat biasa yang menjual barang dagangannya hingga ke Solo dan menjadi dikenal banyak orang dengan sebutan Nasi Liwet Solo.

Berjalan Kaki Menikmati Bangunan Bersejarah di Solo
Benteng Vastenburg di Solo.

Karena kami mempunyai kesamaan dalam hal wisata sejarah, tak lengkap rasanya ke Solo namun tidak mengunjungi bangunan bersejarahnya mulai dari Pasar Gede Hardjonagoro, Keraton Kasunanan Surakarta, Masjid Agung Keraton Surakarta, Pasar Klewer, Kawasan Permukiman di Loji Wetan, Benteng Vastenburg, Gereja-gereja tua bersejarah serta Ponten atau lokasi MCK (mandi, cuci, kakus) peninggalan Mangkunegaran.

Di pusat kota ini banyak sekali bangunan bersejarah yang selain akan menambah informasi beberapa bagiannya sangat instagramable untuk berfoto-foto.

Santap Siang Sate Kere Ditemani Minuman Es Campur Legendaris

Setelah puas menikmati bangunan tua bersejarah, saatnya mengisi perut dan kali ini pilihan jatuh pada Sajian Sate Kere. Sesuai namanya, sate ini menggunakan bahan-bahan yang mudah didapat seperti jerohan sapi, dan juga tempe gembus atau dalam bahasa Banjarnegara kami menyebutnya dengan “Ketepo”.

Orang-orang juga menyebut sate ini sebagai sate kere karena bahan-bahan yang digunakan berupa jerohan sapi dan juga ampas tahu yang pada zaman dahulu harganya sangat murah dan cocok untuk rakyat jelata yang tidak sanggup membeli daging. Namun kini jangan salah, sajian rakyat jelata ini malah menjadi incaran para wisatawan yang berkunjung ke Kota Solo.

Sebuah depot es campur sederhana terlihat, pemiliknya adalah seorang perempuan beretnis Tionghoa yang masih sangat produkif meskipun sekilas usianya sudah tidak muda lagi. Nah makan sate kere ini cocok sekali ditemani es campur ini.

Ada begitu banyak pilihan es campur yang dijual. Satu yang pasti namanya unik-unik dan mempunyai kisah sendiri kenapa dinamakan seperti itu. Sayangnya, saya lupa mencatat atau menghafal nama-namanya karena saat itu asyik mengobrol dengan si Ibu.

Intinya es campur tadi ada yang dinamakan sesuai dengan judul film di era 60-80an, nama judul lagu, serta nama yang bertepatan dengan peristiwa kelam masa lampau terhadap etnis Tionghoa di Indonesia. Semuanya unik-unik dan sarat akan makna.

Bermain Air di Umbul Tirto Mulyo
Berendam di Umbul Tirto Mulyo.

Setelah perut kenyang, perjalanan pun dilanjtukan kembali dan kali ini tujuannya adalah berupa wisata air atau lebih tepatnya berupa umbul di daerah Boyolali. Umbul dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah kolam yang mengeluarkan mata air dan digunakan untuk pemandian pribadi maupun umum. Lokasi Umbul Tirto Mulyo ini berada di Desa Kemasan, Kabupaten Boyolali atau kurang lebih berjarak 20 km dari Kota Solo.

Dulunya Umbul Tirto Mulyo ini merupakan lokasi sakral bagi Keraton Kasunan Surakarta khususnya untuk Sri Susuhunan Paku Buwono X. Tempat ini diyakini sebagai lokasi padusan/mandi menjelang bulan Ramadhan serta dijadikan juga sebagai lokasi tirakatan/semedi. Tak heran saat kami ke sini, pada beberapa bagian masih terlihat dupa yang masih terus menyala.

Wajib saat datang ke sini untuk berenang dengan mata air alami yang terus mengalir di dasar kolam. Selain jernih, seluruh area kolam ini dikelilingi oleh tembok batu bata yang bernuansa kerajaan, ya wajar saja aslinya ini memang tempat sakral bagi keraton sebelum akhirnya dibuka untuk wisata umum.

Untuk urusan perut, saat kami kembali ke kota, saya dipesankan berupa sajian tahu kupat (ketupat) Solo yang memiliki rasa gurih, manis. Tenang saja, lokasi berjualannya lagi-lagi tak jauh dari Pasar Gede Hardjonagoro.

Menutup Malam di Pagelaran Wayang Orang Sriwedari
Menikmati Pagelaran Wayang Orang Sriwedari.

Setelah bebersih diri dan istirahat sebentar, malamnya kami pun melanjutkan jelajah Solo dengan terlebih dahulu membungkus nasi goreng. Kali ini kami akan wisata budaya berupa kesenian wayang orang yang legendaris yaitu Wayang Orang Sriwedari.

Lokasi Wayang Orang Sriwedari sesuai namanya berada di kawasan Taman Sriwedari yang legendaris itu. Saya mengenal nama ini justru dari salah satu merek rokok kretek zaman dahulu yang pernah eksis di kampung.

Saat kami ke sini, akses menuju lokasi memang lumayan gelap, jalanan yang tidak mulus serta terlihat beberapa bagian dalam perbaikan.

Tak ada yang istimewa dari gedung pertunjukan ini sekilas nampak depan. Hanya ada sebuah beranda yang pada beberapa bagian terdapat patung wayang orang. Sementara di sisi lainnya terdapat sebuah loket tempat pembelian karcis pertunjukan.

Sekedar informasi, berikut harga tiket pertunjukan serta alamat lengkap bagi kalian yang mungkin penasaran ingin menyaksikan.

Pentas Wayang Orang setiap hari Senin – Sabtu, jam 20.00 WIB.

Harga Tiket: Ekonomi Rp. 5.000, Balkon Rp. 5.000, Reguler Rp. 7.500, VIP Rp.10.000.

Tempat: Gedung Wayang Wong Sriwedari Kota Solo

Di depan sana terdapat panggung yang lumayan megah dengan tirai khas serta background lukisan yang bisa ditarik ulur sesuai dengan setting cerita. Di depannya terdapat area untuk menabuh gamelan. Sementara di sisi kiri panggung terdapat layar monitor yang digunakan untuk menampilkan teks mengenai jalannya cerita secara umum.

Oh iya, semua yang ditampilkan dalam wayang orang ini menggunakan bahasa jawa krama sehingga saya sendiri pun kesulitan untuk memahaminya.

Sebelum pentas dimulai, para penabuh gamelan akan memainkan mars dari Kota Solo atau Surakarta yang berjudul “Solo Berseri”.

Tak berapa lama rangkaian cerita pun dimulai dengan masuknya satu persatu para pemain yang telah mengenakan kostum serta riasan yang paripurna.

Saya sendiri lupa dengan cerita yang dimainkan saat itu. Hanya saja saya merasa terhibur ketika sesi adegan para pendukung wayang orang sedang beraksi menghibur penonton dengan dagelannya yang kocak. Mulai dari mendapat lemparan/saweran hingga permintaan lagu dari penonton.

Belanja Oleh-Oleh Intip di Pasar Hardjonagoro

Setelah puas menjelajahi Solo Raya, tak lengkap rasanya kalau pulang namun tidak membawa buah tangan istimewa. Nah paginya sebelum beranjak pulang ke Banjarnegara saya menyempatkan belanja oleh-oleh. Tak perlu bingung, di Pasar Gede ini banyak sekali penjual yang menawarkan oleh-oleh. Salah satu yang waji berupa sajian Intip (kerak sisa nasi liwet yang dikeringkan untuk kemudian digoreng dan diberi topping gula jawa cair).

Tak banyak memang oleh-oleh yang saya bawa pulang karena untuk satu intip saja ukurannya lumayan besar dan akan memakan tempat saat dibawa pulang.

Cukup melelahkan memang karena sehari semalam menjelajahi Solo Raya hingga gempor dan puas namun kapan lagi, mumpung tubuh masih sehat dan waktu serta biaya masih ada. Sepadan rasanya untuk tidak dilewatkan saat ke sini.

Ah, Solo kota yang penuh dengan wisata yang memanjakan mata, pikiran, pengetahuan serta lidah hingga membuat perut kenyang. Rasanya tak kapok dan akan kembali lagi ke kota ini suatu saat nanti. Terima kasih sobat local guide saya yaitu Halim Santoso atas foto-fotonya yang ciamik serta sambutan yang luar biasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.