Menjejak Kebudayaan Jawa di Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari

0
454
Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.

Solo adalah kota yang menjadi salah satu favorit saya ketika jalan-jalan. Menjadi pusat kebudayaan Jawa, Solo menghadirkan aneka pesona budaya yang tak dimiliki oleh daerah lain, salah satunya adalah pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.

Beberapa hari yang lalu, saya berkesempatan mengunjungi kota ini seorang diri. Pastinya, saya tidak menyia-nyiakan untuk melihat kembali pertunjukan wayang orang yang digagas oleh Mangkunegara I tersebut. Kurang lengkap apabila kita ke Solo tanpa melihat pertunjukan wayang orang ini.

Namun, saat saya menuju gedung pertunjukan wayang bersama pengemudi ojek online, ada sedikit kendala, lantaran Taman Sriwedari Solo sedang mengalami pemugaran. Gedung pertunjukan wayang orang ini berada di dalam kompleks taman tersebut. Untungnya, sebuah tulisan besar memudahkan saya untuk mengakses pintu masuk menuju gedung pertunjukan tersebut. Ternyata, bagi penonton yang akan melihat pertunjukan Wayang Orang Sriwedari harus menuju pintu selatan yang berada di sebelah Pasar Buku.

Pengemudi ojek online pun menemukan pintu tersebut. Di sana, terdapat berbagai pedagang tradisional yang menjajakan dagangannya memenuhi halaman pertunjukan. Ada pedagang kacang rebus, pedagang jagung bakar, ronde, dan lain sebagainya. Mereka menunggu para penonton wayang yang akan melihat pertunjukan.

Kursi Penonton.

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari sendiri dilaksanakan mulai pukul 20:00 – 22:00. Mulai hari Selasa – Minggu, dan hanya tutup pada hari Senin. Melihat loket yang sudah buka, saya langsung membeli tiket VIP. Saya ingin duduk di barisan paling depan agar para pemainnya terlihat jelas. Hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 10.000 saja untuk sebuah tiket VIP ini. Untuk tiket kelas 1, hanya seharga Rp. 7.500 dan kelas 2 seharga Rp. 5.000. Sungguh, harga tiket yang sangat murah.

Sambil menunggu pertunjukan dimulai, saya melihat-lihat beberapa foto koleksi Wayang Orang Sriwedari. Ternyata, mereka sudah banyak menampilkan atraksi menarik di berbagai daerah, terutama di Jakarta. Berbagai lakon wayang, yang diambil dari kisah Mahabarata dan Ramayana pun kerap mereka pentaskan.

Tak lama, saya pun masuk ke ruang pementasan. Saya segera mencari nomor kursi sesuai tiket yang tertera di tiket. Ah, saya bersyukur mendapat nomor kursi yang pas. Tepat di bagian tengah dan belakang warangga (penabuh gamelan). Walau masih beberapa warangga dan niyaga (sinden/penyanyi) yang hadir, tapi itu tak masalah, yang penting saya sudah mendapat tempat duduk sesuai keinginan saya.

Koleksi Foto Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.

Tepat pukul 20:00, gamelan pun ditabuh. Sebuah tembang macapat gambuh mengalun indah. Saya meyakini hal itu lantaran hafal beberapa baitnya yang saya ajarkan dalam pelajaran Bahasa Jawa di kelas. Tembang ini tak jauh-jauh dari lagu percintaan dua sejoli yang sedang kasmaran. Wah, saya jadi penasaran, kira-kira lakon apa ya yang akan ditampilkan pada malam itu?

Ternyata, lakon Srikandi Ajar Manah yang menjadi suguhan. Lakon ini bercerita mengenai Srikandi, putri Raja Drupada yang ingin sekali bisa memanah lantaran dikejar-kejar Prabu Jungkungmardeya untuk dijadikan istri. Srikandi tak mau diperistri raja tersebut karena sifat tamak dan angkuh yang dimilikinya.

Maka, Srikandi pun pergi menemui Arjuna yang dulu diketahuinya pandai memanah. Kala diminta untuk mengajari Srikandi, Arjuna pun setuju. Meski ada rasa cinta di antara keduanya, namun Srikandi dan Arjuna tetap fokus untuk Srikandi. Dalam perjalanan belajar itu, Arjuna menitip pesan agar Srikandi benar-benar mengilangkan rasa amarah dan dendam agar panah yang dilepaskan bisa mengenai sasaran.

Ia harus tulus ikhlas tujuannya bisa memanah hanya untuk melawan kemungkaran Prabu Jungkungmardeya yang juga dikenal semena-mena. Akhirnya, Srikandi pun berhasil melesatkan panah tepat sasaran. Ia pun juga bisa mengalahkan Prabu Jungkungmardeya. Dari kisah ini, pelajaran yang bisa dipetik adalah ketika ingin mempelajari sebuah ilmu, maka niat ikhlas untuk kebaikan bersama haruslah ditanamkan. Tak boleh ada rasa iri, membalas dendam, dan sebagainya.

Pertunjukan Wayang Orang Sriwedari.

Di setiap cerita wayang, kemunculan punakawan, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong menjadi warna tersendiri. Kelucuan yang mereka tampilkan sedikit meredakan ketegangan. Pada malam itu, mereka malah bercerita di luar topik cerita. Pro kontra mengenai zonasi PPDB SMP dan SMA menjadi bahan candaan mereka.

Sayangnya, kehadiran penonton di pementasan itu tak banyak. Mungkin, hanya sekitar 30 orang saja. Saya jadi miris melihatnya dan berbanding terbalik dengan kehadiran penonton di bioskop ataupun konser musik. Semoga saja di waktu mendatang, semakin banyak orang yang datang untuk melihat pertunjukan ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.