Menjamah Keelokan Bukit Jaddih Bangkalan

2
605
Pemandangan dari atas.

Terkoneksinya Jembatan Suramadu membuat batas antara Suarabaya dan Madura menjadi tak tampak lagi. Kini, dengan kemudahan akses darat menuju pulau garam itu, siapa saja bisa mengunjunginya dengan mudah. Termasuk, mengunjungi aneka wisata di dalamnya.

Salah satu tempat wisata yang mulai naik daun adalah Bukit Jaddih. Bukit ini merupakan bekas penambangan kapur yang berada di Kabupaten Bangkalan. Melihat aneka foto yang tersebar di jejaring sosial membuat saya penasaran dengan keindahan yang ditawarkan. Makanya, saya sampai mengajak rekan di Surabaya untuk datang ke sana.

Berboncengan sepeda motor dari Kota Pahlawan menuju Jembatan Suramadu yang memiliki panjang sekitar 5,4 bukanlah perkara mudah. Teriknya panas yang menghujam kepala membuat saya dan rekan saya sedikit pusing. Hantaman panas semakin menjalar kala kami sudah masuk wilayah Kabupaten Bangkalan. Bagaimana tidak panas, tanaman di pinggir jalan mulai jarang. Kalaupun ada, rasanya hanya beberapa tanaman semak belukar.

Hati-hati dalam berkendara di sekitar bukit.

Walau demikian, kami tidaklah menyerah. Menyusuri jalan menuju wisata ini sejauh sekitar 5 kilometer dari Jembatan Suramadu terus kami lakukan. Akhirnya, perjuangan menembus jalan yang panas pun mendapatkan hasilnya. Saat motor rekan saya masuk Desa Labang, beberapa truk pengangkut pasir pun berlalu-lalang. Truk-truk tersebut rupanya berasal dari sebuah penambangan kapur yang tak lain adalah Bukit Jaddih.

Bukit ini segera tampak dengan kontur yang cukup sulit untuk dilewati kendaraan. Meski demikian, petugas dari warga desa mengarahkan kami ke tempat parkir selepas kami membayar tiket masuk seharga 5.000 per orang.

Sesampainya di tempat parkir, kami takjub lantaran tak jauh dari sana terhampar sebuah danau berwarna hijau toska. Kolam ini dipenuhi ikan-ikan kecil dan beberapa sampan yang digunakan untuk mengelilingi danau tersebut. Dengan harga Rp 10.000, pengunjung bisa mengelilingi danau sambil berfoto untuk kenangan.

Berfoto dengan refleksi pada air danau.

Namun, saya cukup tertarik dengan beberapa toko yang berada di dalam gua kapur. Gua ini merupakan gua buatan yang dibangun khusus sehingga tampak eksotik. Saya jadi ingat bentuk serupa pada film The Flintstones. Tak hanya toko, banyak gua-gua buatan yang sedang dibangun. Menurut salah satu penjaga toko, nantinya akan ada beberapa tempat bersantai dan penginapan di dalam gua itu. Wah, saya jadi penasaran.

Rasa penasaran saya semakin bertambah ketika saya melihat ada beberapa pengunjung yang naik ke atas bukit. Saya lalu mengajak rekan saya untuk mengikuti jejak mereka. Rekan saya ragu. Meski motornya merupakan motor jenis sport yang cukup gagah, tetapi ada masalah serius pada bagian bannya. Ia takut jikalau nanti ada sesuatu yang tidak diinginkan.

Namun, ia rupanya juga penasaran ada pemandangan apa yang bisa dilihat dari atas. Makanya, dengan sangat hati-hati, kami mengendarai motor kami dan menuju ke atas bukit. Ternyata, pemandangan dari atas tampak indah. Selain warna hijau toska yang membuat refleksi bayangan danau terlihat sempurna, rimbunnya hutan di sekitar bukit tampak kontras dengan kondisi bukit yang terlihat gundul.

Saya memandangi disparitas pemandangan ini dengan seksama. Hanya berharap semoga pembangunan dan kegiatan pemandangan di bukit ini masih selaras dengan alam. Dan tentunya, keindahan Bukit Jaddih yang kini mulai mekar dari kemudahan akses di dalamnya tetap dipertahankan.

Cukup lama kami berada di puncak bukit. Semilir angin yang bertiup dan mengenyahkan panas membuat kami enggan untuk segera beranjak dari sana. Terlebih, dari puncak bukit ini, kami bisa menunggu senja berganti malam dengan sang surya yang tenggelam di ufuk barat.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.