Menjajal MRT, Transportasi Anyar di Ibu Kota

0
1670
Kereta MRT "Ratangga" di Stasiun Blok M.

Maret 2019, sejarah baru transportasi di Indonesia terbentuk. Masyarakat yang tingga di kawasan ibu kota kini dapat menikmati moda transportasi Mass Rapid Transit, atau Moda Raya Terpadu (MRT) yang peresmiannya baru saja dilakukan pada tanggal 24 Maret 2019.

Sehari sebelum peresmian, saya berkesempatan menjajal MRT. Hari itu, PT. MRT Jakarta selaku pengelola memberikan kesempatan kepada semua warga Jakarta untuk menikmati bagaimana rasanya naik MRT. Tidak seperti hari-hari uji coba sebelumnya yang jumlah penumpangnya dibatasi dan harus mendaftar daring terlebih dahulu, hari itu saya bisa langsung datang ke stasiun tanpa daftar.

Sisi peron nomor 2 Stasiun Blok M.

Dari kantor, saya berkendara terlebih dulu ke Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia (HI). Ada beberapa akses pintu masuk menuju stasiun dan semuanya padat oleh penumpang yang antusias. Stasiun Bundaran HI sendiri adalah stasiun terminus (ujung) utara dari jalur MRT yang bermula di Lebak Bulus (selatan). Untuk saat ini, MRT Jakarta yang telah selesai baru memiliki satu jalur. Kelak, pemerintah berencana akan memperpanjang jalurnya terus ke utara hingga ke Kampung Bandan.

Atmosfer modern 

Saya mengikuti arus penumpang yang turun melalui tangga. MRT Jakarta memiliki dua jenis jalur: di bawah tanah dan layang. Stasiun Bundaran HI merupakan stasiun bawah tanah. Masuk ke dalam stasiun ini kita seolah masuk ke dalam perut bumi. Tapi, tak perlu khawatir udara pengap karena di dalam area stasiun sudah dilengkapi dengan pendingin udara.

Interior Stasiun Blok M yang megah dan melimpah sinar matahari.

Meskipun masih baru, tapi persiapan fasilitas di dalam stasiun sudah cukup baik. Ada papan penunjuk arah yang memadai dan dibuat dengan desain minimalis. Tulisan ditulis dalam font berwarna putih dan berlatarbelakang warna biru tua.

Sebelum masuk ke peron, semua calon penumpang hari itu wajib menuliskan nama di selembar kertas pendaftaran. Kertas ini nantinya ditukar dengan sebuah stiker yang bertuliskan “uji coba”. Stiker ini bisa ditempel, atau dibawa saja.

Stasiun Blok M.

Di peron samping rel, calon penumpang dipersilakan berdiri dan mengantre sesuai dengan garis yang sudah ditetapkan. Jika kita pernah naik kereta komuter atau KRL mungkin kita pernah mengalami desak-desakan karena penumpang yang hendak naik tidak mau mengalah. Di MRT, pola penumpang seperti itu diharapkan tidak terjadi. Di hari uji coba ini, penumpang belajar membiasakan diri memberi ruang bagi penumpang lain yang hendak turun terlebih dahulu.

Penumpang menunggu sambil berfoto.

Selama jadwal uji coba, MRT datang dengan interval setiap 10 menit. Saya menanti sekitar 8 menit dan penumpang sudah mengular. Sambil menunggu, mereka pun berfoto-foto di banyak sudut.

Kereta Ratangga

Ketika kereta MRT mendekati stasiun, suaraya sayup-sayup terdengar. Penumpang di peron pun antusias menyambut. Kereta MRT berhenti dengan presisi di tiap-tiap pintunya.

Antrean penumpang yang hendak keluar dari Stasiun Bundaran HI.

Kereta MRT ini memiliki namanya sendiri, “Ratangga”. Nama ini diambil dari puisi di kitab Arjuna Wijaya dan di Kitab Sutasoma karya Mpu Tantular. Dalam bahasa Jawa Kuna, nama “Ratangga” berarti Kereta Perang. Meskipun kereta MRT ini bukan ditujukan untuk perang, tapi filosofi “kereta perang Ratangga” yang bisa diambil adalah bahwasannya kereta ini kuat dan mengangku para pejuang yang setiap hari mencari nafkah dan berkarya di Jakarta.

Kereta Ratangga diproduksi di Jepang. Jumlah totalnya sekarang ada 16 rangkaian. 1 Rangkaian Ratangga terdiri dari 6 kereta yang mampu membawa penumpang sekitar 1200 hingga 1800 orang per sekali jalan. Untuk satu kali perjalanan dari Bundaran HI menuju Lebak Bulus yang jaraknya 16 kilometer, Ratangga hanya butuh waktu 30 menit saja. Kecepatan maksimal Ratangga saat berada di jalur bawah tanah adalah 80 km/jam, sedangkan di jalur layang 100 km/jam.

Suasana dalam kereta sangat penuh. Ribuan warga Jakarta memang antusias menyambut Ratangga, apalagi hari itu adalah akhir pekan. Meski penuh, tapi tetap nyaman berada di Ratangga. Rel Ratangga memiliki lebar sepur 1.4335 mm, ukuran lebar standar kereta api di dunia. Sehingga ketika melaju, kereta terasa lebih stabil.

Jalur layang MRT Jakarta.

Dari Stasiun Bundaran HI sampai Senayan, rel MRT berada di bawah tanah sehingga pemandangan yang dilihat hanyalah gelap. Namun, selepas Senayan dan memasuki Stasiun Sisingamangaraja, rel MRT dibangun melayang. Beberapa penumpang sontak berteriak girang saat MRT keluar dari bawah tanah dan melesat di antara gedung-gedung tinggi Jakarta.

Saya lalu memilih turun di Stasiun Blok M, tidak sampai ke Lebak Bulus karena hari itu operasional MRT dibatasi hanya sampai pukul 17:00.

Kereta MRT “Ratangga” di Stasiun Blok M.

Stasiun Blok M tak kalah indah dibandingkan dengan Stasiun Bundaran HI. Karena dibangun di atas, Stasiun Blok M melimpah akan pencahayaan sinar matahari. Ada tiga jalur MRT di sini, namun yang reguler digunakan adalah jalur 1 dan 2.

Dari Stasiun Blok M ada tiga pintu keluar. Satu pintu dapat mengarah langsung ke Plaza Blok M, sedangkan dua pintu lainnya ke tepi jalan raya. Di pintu yang menuju jalan raya di tepi plaza sudah terpasang spot wastafel air minum yang airnya bisa langsung diteguk. Beberapa masyarakat sempat tidak paham bahwa itu adalah air untuk diminum, sehingga ada dari mereka yang malah mencuci tangan di situ.

So far, perjalanan naik MRT Jakarta menyenangkan dan membanggakan! Kita bersyukur karena ada perkembangan dalam sistem transportasi di Indonesia, khussunya di Jakarta. Sekarang tugas kita sebagai masyarakat adalah menggunakannya dan menjaganya dengan aksi-aksi sederhana: tidak makan-minum di area stasiun dan kereta, tidak merokok, tidak membuang sampah sembarangan, dan kita pun boleh menegur apabila ada orang-orang yang melanggar peraturan tersebut.

Yuk, sama-sama kita nikmati dan rawat fasilitas publik yang dibangun untuk kita.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.