Menjajaki Sejarah Kelam Indonesia di Lubang Buaya

0
194
Monumen Pancasila Sakti.

Menapakkan kaki di kawasan Lubang Buaya seakan membawa kita ke dalam memori masa lampau sejarah kelam Indonesia. Bagaimana tidak, rekam jejak sejarah seakan nampak tergambarkan melalui monumen dan museum yang masih dijaga dengan baik hingga saat ini. Lubang Buaya atau dikenal juga dengan Kawasan Monumen Pancasila Sakti beralamat di Jalan Monumen Pancasila Sakti, RT.1/RW.9, Lubang Buaya, Kec. Cipayung, Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta.

Lubang Buaya mengingatkan kita akan sejarah tahun 1965 yang merupakan masa terberat bagi Indonesia demi menjaga keutuhan negara. Momen yang tak akan pernah terlupakan yaitu penculikan enam Jenderal dan satu perwira yang berujung pada penguburan kedalam sumur tua di Lubang Buaya.

Lubang Buaya yang menjadi kawasan sejarah Monumen Pancasila Sakti kini dibuka untuk umum bagi masyarakat yang ingin mengenang kembali perjuangan para pahlawan pasca kemerdekaan Indonesia. Kawasan ini memiliki beberapa koleksi, diantaranya tiga rumah bersejarah, Truk PN Artha Yasa, Mobil Dinas Men/Pangad, Mobil Dinas Pangkostrad, Sumur Maut, dan Museum Penghiatan PKI.

Mobil Dinas Jenderal TNI Ahmad Yani – GM Old Mobile 98.

Setelah memasuki gerbang pintu masuk, di sebelah kanan terdapat bangunan megah yang dijadikan Museum Pengkhianatan PKI (komunis) dan diresmikan oleh Presiden RI Soeharto pada tanggal 1 Oktober 1992. Museum ini memiliki dua gedung yang dihubungkan oleh jembatan. Kedua gedung tersebut menyimpan replika perjalan PKI hingga Ruang Relik.

Museum ini juga memamerkan diadora masa setelah kemerdekaan hingga kejadian penculikan para jenderal dan perwira. Memasuki ruangan demi ruangan, terdapat berbagai cerita didalamnya seakan membawa pengunjung ke masa lampau. Suasana terasa semakin mengharukan ketika memasuki Ruang Relik yang memamerkan beberapa koleksi benda kesayangan para pahlawan dan pakaian terakhir yang mereka kenakan dengan bercak darah yang masih melekat akibat insiden tersebut.

Selain Museum, di luar gedung terdapat beberapa koleksi kendaraan yang pernah digunakan pada masa itu seperti jenis GM Old Mobile 98 mobil Dinas Menteri Panglima Angkatan Darat, Dodge 500 Truck kendaraan Operasional PN Artha Yasa, dan Toyota Land Cruiser mobil Dinas Panglima Kostrad dan PCMK-2 Saraceen Panser Batalyon Kavaleri 3 Kodam VIII/Brawijaya. Bangunan lain yang menjadi saksi sejarah kejadian ini yaitu Pos Komando, Dapur Umum, dan Serambi Penyiksaan yang hingga kini masih dipamerkan di kawasan Monumen Pancasila Sakti.

Lubang Maut dengan kedalaman 12m dan diameter 75cm.

Tidak jauh dari Serambi Penyiksaan, disitulah terdapat sumur tua dengan kedalaman 12 m dan diameter 75 cm yang menjadi sumur maut para pahlawan yang dikuburkan oleh PKI pada 1 Oktober tahun 1965. Pahlawan yang telah gugur itu ialah Lettu CZI Pierre Andreas Tendean, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Harjono, Letnan Jendral Anumerta Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Brigadir Jenderal Donald Isaac Pandjaitan, dan Brigadir Jenderal Soetojo Siswodiharjo. Pada tanggal 4 Oktober 1965, jenazah diangkat dari sumur yang selanjutnya akan dilakukan prosesi pemakaman pada anggal 5 Oktober 1965. Tujuh jenazah dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta yang dilaksanakan dengan upacara kebesaran militer.

Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur, tujuh pahlawan tersebut dianugrahi segabai Pahlawan Revolusi. Kemudian, tepat pada tanggal 1 Oktober, dikenang sebagai hari Kesaktian Pancasila.

Museum Pengkhianatan PKI (Komunis).

Di Monumen Pancasila Sakti, berdiri tujuh patung Pahlawan Revolusi yang berdiri gagah di bawah monumen Burung Garuda. Patung ini mengingatkan generasi setelahnya tentang semangat para pahlawan dalam menjaga dan mencintai negeri ini. Pesan mereka seakan tersampaikan pada siapapun yang mengunjungi Monumen Pancasila Sakti, yakni untuk selalu menjaga kesatuan NKRI.

Soekarno pernah berkata “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, tapi perjuangan kalian akan lebih berat karena melawan bangsa sendiri”. Hanya sekali negara ini mengalami masa kelam melawan bangsa sendiri dan berikutnya adalah tanggung jawab kami untuk tidak mengulang sejarah kelam di negeri ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.