Menilik Klenteng Poncowinatan di Jantung Kota Yogyakarta

2
1692
Altar Utama Dewa Kwan Tie Koen.

Bermain di Klenteng? Kali ini saya berkesempatan untuk walking tour menuju salah satu klenteng di kawasan kota Yogyakarta. Lokasinya tidak jauh dari Tugu Pal Putih, bisa dijangkau dengan jalan kaki sekitar 10 menit. Dari Tugu Yogyakarta silahkan menuju ke utara hingga menemukan gang ke barat. Gang ini selalu ramai karena berada di lingkungan Pasar Kranggan yang berseberangan dengan klenteng. Akses kendaraan umum dan parkir kendaraan pribadi pun tersedia dengan baik.

Klenteng yang menarik dan indah ini ternyata dibuka untuk umum. Siapa saja bisa berkunjung untuk menggali sejarah atau sekadar menyapa jemaat yang beribadah. Sebelum masuk ke klenteng, silahkan menghubungi bapak petugas yang biasa berjaga di pintu timur. Rombongan kami pun ditemani oleh Pak Eka, salah seorang keturunan Tionghoa yang kini menjadi pengurus klenteng.

Arsitektur bangunan klenteng ini khas Tionghoa dengan warna dominan merah yang melambangkan kebahagiaan. Bangunan berbentuk persegi panjang ini memiliki tiga buah pintu. Kami masuk lewat pintu sisi timur yang berhiaskan lukisan Dewa Pintu, Men Shen. Sementara atapnya dihiasi dua buah patung naga yang saling berhadapan. Merangkak ke depan pintu tengah, kita akan menemukan dua buah patung qilin.

Ruang Altar Utama Klenteng Poncowinatan.

Sebelum menginjakkan kaki di dalam klenteng, kami melepas alas kaki dan meletakan di tempat yang telah disediakan. Selanjutnya Pak Eka mengarahkan kami menuju altar utama yang berada di bangunan sisi tengah. Dewa tuan rumah di bangunan cagar budaya ini adalah Kwan Tie Koen (Dewa Keadilan).

Nama aslinya adalah Tjen Ling Kiong atau Zhen Ling Gong yang merupakan klenteng tertua di Yogyakarta. Arti klenteng pun beragam, namun berdasarkan bahasa Mandarin diartikan sebagai suara yang dibunyikan. Meski sering disebut sebagai tempat peribadatan agama Konghucu, Pak Eka mengatakan bahwa klenteng ini juga bisa digunakan sebagai tempat ibadah tri dharma (Budha, Thao, Konghucu).

Klenteng Tjen Ling Kiong ini berdiri atas izin Sri Sultan Hamengku Bowono VII di tanah hibah dari kraton. Pada lahan hibah tersebut juga didirikan Sekolah Dasar Tionghoa modern bernama Tiong Hoa Hwee Koan (THHK). Namun sekolah ini dibubarkan tahun 1938 lantaran tekanan dari pemerintah Belanda. Kini bekas THHK digunakan oleh Yayasan Pendidikan dan Pengajaran Nasional (YPPN). Batas dinding klenteng dan bangunan bekas THHK masih bisa kita lihat di sisi barat.

Altar Utama Dewa Kwan Tie Koen.

Sebenarnya China Town (pecinan) pertama di Yogyakarta adalah Ketandan, sebuah kampung kecil di area Malioboro. Setelah didirikannya Klenteng Poncowinatan di atas tanah Sultan ground, daerah Kranggan juga menjadi pecinan. Pusat perekonomian masyarakat pun tumbuh dengan pesat. Bahkan atap pasar Kranggan direnovasi dengan gaya Chineese. Klenteng ini menghadap ke selatan dengan tujuan menghormati keraton. Sementara menurut fengshui juga lebih baik jika gunung (Merapi) berada di belakangnya dan laut (selatan) berada di depan.

Usai mengagumi altar utama yang digunakan untuk menyembah Tuhan Yang Maha Esa dan dewa tuan rumah, kami menuju altar lain di sekeliling ruang utama. Terdapat beberapa altar, di antaranya Dewi Kwan Im, Dewa Bumi, dan Dewa Kemakmuran. Pernak-pernik hiasan khas Tionghoa mempercantik tampilan klenteng. Hiasan bunga dan lukisan pun nampak pada beberapa altar.

Altar Dewi Kwan Im dan Para Pengikutnya.

Nampak beberapa orang sedang menjalankan ibadah, selain itu ada juga beberapa mahasiswa yang take video di altar utama. Menarik, wisatawan umum memang diperkenankan untuk mengambil gambar di area klenteng. Pada sisi timur ruang altar utama, terdapat rak kertas nasib. Dua orang dari rombongan kami mencoba bermain kayu nasib dipandu oleh Pak Eka. Nantinya mereka harus menjatuhkan stik kayu yang berisi angka. Angka tersebut bisa dicocokkan dengan kertas  ramalan hidup yang berjumlah 100. Nah, satu stik kayu yang jatuh adalah cerminan dari keinginan atau keadaan atau harapan atau kondisi si pemain.

“Nanti datang lagi ke sini di waktu Imlek ya, Mba. Lampu-lampu akan lebih banyak, klenteng pun biasanya ramai pengunjung”, kata Pak Eka sebelum kami berpamitan.

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.