Menilik Jejak Sejarah Kabupaten Pasuruan

0
1116
Gapura di jalan masuk Desa Bulusari.

Jika biasanya ketika liburan orang lebih memilih untuk pergi ke tempat wisata yang ngehits, liburan kali ini saya memilih untuk mengunjungi salah satu Prasasti yang terletak di Kabupaten Pasuruan. Kabupaten Pasuruan merupakan kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Timur. Nah di kabupaten pasuruan ini ada sebuah prasasti, namanya Prasasti Cunggrang.

Apa sih menariknya Prasarti Cunggrang? Prasasti ini merupakan salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti ini dibuat pada tanggal 18 September 929 Masehi oleh Mpu Sendok. Tanggal pada prasasti ini saat ini diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Pasuruan. Prasasti yang bertuliskan aksara jawa ini dibuat sebagai bentuk terima kasih kepada masyarakan di masa itu karena telah bergotong royong. Prasasti Cunggrang terletak di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan.

Perjalanan menuju Prasasti Cunggrang dimulai dari Jalan Raya Surabaya – Malang. Sebelumnya kita harus menuju ke Apolo Gempol Pasuruan. Dari Apolo, masuk ke barat dan akan bertemu gapura selamat datang. Dari gapura ini, kalian bisa bertanya kepada penduduk sekitar karena tidak banyak info petunjuk jalan untuk menuju ke prasasti.

Pendopo tempat Prasasti Cunggrang.

Untuk menemukan tempat ini tidak terlalu sulit, peran google maps sangatlah membantu. Ketika saya sampai disana, tidak ada satupun pengunjung selain saya. Prasasti ini terawat dengan baik, walaupun terdapat sedikit boncel-boncel di tepinya, tetapi huruf di prasasti ini masih bisa terbaca. Untuk masuk ke tempat ini tidak dipungut biaya. Jadi kalian bisa masuk kesini dengan gratis. Terdapat pagar yang mengitari pendopo, pengunjung diperbolehkan masuk dan mendekat ke prasasti. Jangan lupa lepas alas kaki ya saat masuk ke pendoponya. Lantai pendopo bersih dan tidak berdebu, sepertinya masyarakat sekitar menjaga dan merawat lingkungan prasasti ini dengan baik.

Prasasti Cunggrang yang masih terawat dengan baik.

Tempat ini sangat dekat dengan pemakaman umum. Ada beberapa makam yang berada di sebelah pendopo dan ada satu makam yang berada di dalam pendopo. Tidak ada keterangan makam siapa yang berada di dalam pendopo. Disana saya hanya memotret saja, karena memang tidak ada yang bisa memberikan informasi detail seperti asal-usul prasasti misalnya.

Jembatan gantung yang tidak terawat dan banyak coretan.
Pemandangan sawah di sekitar jembatan gantung.

Dari pendopo prasasti, saya kembali ke jalan beraspal dan mencoba berjalan masuk ke dalam mengikuti jalanan beraspal. Saya menemukan sungai yang dihubungkan oleh sebuah jembatan gantung tua. Dari jembatan, terlihat sawah penduduk terhampar hijau, sangat indah dan menyejukkan mata. Suasana pedesaan, pemandangan hijau yang cantik dan gemercik air sungai benar-benar perpaduan yang sempurna. Kalau kalian jenuh dengan suasana perkotaan, cobalah main kesini.

Setelah berjalan-jalan, perut saya tiba-tiba lapar dan meminta haknya. Saya pun kembali ke arah gapura selamat datang. Didekat gapura terdapat sebuah lapangan, disana berjajar warung-warung makan yang siap memanjakan perut. Ada banyak pilihan makanan dan minuman yang bisa dipilih di sana dan harganya pun cukup terjangkau.

Kios penjual oleh-oleh.

Rasanya ada yang kurang kalau pulang ke rumah dengan tangan kosong. Saya mampir sebentar ke salah satu kios oleh-oleh yang berjejer di sekitar jalan masuk ke Desa Bulusari. Saya membeli beberapa kotak klepon untuk keluarga di rumah. Satu kotak klepon harganya tiga ribu rupiah. Selain klepon, di kios-kios ini juga menyediakan beberapa makanan ringan dan nasi bungkus.

Begitu oleh-oleh sudah ditangan, saya pun bergegas pulang ke rumah karena hari sudah mulai siang. Itulah sedikit cerita pengalaman berkunjung ke Prasasti Cunggrang. Jadi, kapan kalian mau berkunjung juga?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.