Menikmati Sunset dan Beragam Kuliner di Pantai Ampenan

0
1207

Siapa yang takut senja? Kalau anda pernah menonton film YUI yang berjudul “Goodbye Days”, hanya dialah manusia yang takut senja lantaran penyakit yang dideritanya.

Pantai Ampenan merupakan daerah paling ujung barat Kota Mataram. Pada Selasa, 30 April 2019, tepat pukul 17:15 WITA, kami memutuskan untuk menikmati senja. Tidak jauh dari kampus Universitas Mataram tempat saya berkuliah dulu, Pantai Ampenan memang salah satu tempat yang tepat untuk menikmati senja. Lokasi yang dekat, hanya sekitar 10 menit perjalanan dari Jl. Majapahit menuju Kota Tua Ampenan membuat tak ada pilihan tempat lain untuk menikmati sunset sepulang dari kampus sore itu. Dulu, Pantai Ampenan terkenal dengan pelabuhannya, karena pelabuhan pertama di Pulau Lombok berada di Ampenan sebelum dipindah ke Lembar Lombok Barat. Jalur perdagangan serta industri mulai merebak ke pulau Lombok melalui pelabuhan Ampenan. Mulai dari penyebrangan, serta jalur haji sejak 1924 silam.

Kini, pelabuhan itu tinggal besi yang berkarat, tinggal sejarah yang tersisa. Terlihat jelas bekas besi pelabuhan Ampenan yang berderet di pinggir pantai itu. Ada replika kapal berlayar yang sengaja ditaruh tepat di atas besi menjulang untuk mengenang bekas pelabuhan pada zaman Belanda itu. Namun tetap indah. Kota Tua Ampenan menjelma menjadi kota senja bagi masyarakat kota Mataram dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat pemerintahan dan pemukiman masyarakat Kota Mataram membuat kota Tua Ampenan ini tidak pernah sepi pengunjung, walau hanya sekedar duduk ngopi menikmati senja.

Sate Bulayak Khas Lombok.

Sembari kita menikmati senja. Ada banyak kuliner yang dapat kita nikmati di pantai Ampenan, mulai dari sate bulayak, plecing kangkung, rujak, serta kopi khas Lombok, bernama kopi bideng. Kita bisa membeli kopi tersebut dengan harga yang terjangkau, tidak lebih dari Rp. 10.000. Selain minuman kopi, ada banyak pedagang kaki lima yang menyediakan berbagai jenis minuman, baik yang hangat maupun yang dingin dengan harga di bawah Rp. 10.000.

Jika kita ingin menimkati sate bulayak, sate khas Lombok ini, bisa kita beli di pedagang kaki lima yang terdapat di pesisir pantai Kota Tua Ampenan. Sate bulayak ini terbuat dari daging sapi dan dimakan bersama lontong (bulayak), dengan kisaran harga Rp. 20.000 saja, kita bisa menikmati satu porsi sate bulayak sembari menikmati matahari terbenam.

Plecing Kangkung dengan Sambal Khas Lombok.

Selain itu, kita bisa menikmati makanan khas Lombok lainnya, yaitu plecing kangkung. Makanan khas Lombok yang satu ini terbilang pedas dan enak, serta terjangkau harganya. Dengan Rp. 10.000 saja kita bisa menikmati makanan khas Lombok satu ini. Plecing kangkung yang terbuat dari kangkung, parutan kelapa, serta bumbu khas Lombok. Cabai  Lombok yang terkenal ekstra pedasnya menjadi bahan bumbu dasar Plecing Kangkung.

Beragam Bangunan Tua dan Beragam Etnis

Sebelum kita memasuki daerah pantai Ampenan, kita bisa menyusuri daerah kota Tua Ampenan. Di sana terdapat berbagai jenis bangunan yang dibangun pada zaman Kolonial. Ada bangunan bergaya Belanda dan ada pula bangunan bergaya Arab. Kota Ampenan dulunya adalah pintu gerbang masuknya logistik ke Lombok pada tahun 1924-1973. Belanda sengaja membangun Kota Ampenan demi memasok bahan pokok serta mengekspor bahan yang berasal dari Lombok.

Daerah Kota Tua Ampenan didiami oleh beberapa suku yang membentuk perkampungan diantaranya ada kampung Tionghoa, kampung Arab, kampung Bugis, kampung Melayu, kampung Jawa, dan ada pula kampung Banjar. Hingga saat ini, Kota Tua Ampenan masih terasa dengan keberagamannya. Terlihat jelas dari bangunan-bangunan yang masih betengger dari jalan Malomba sampai jalan menuju Pantai Ampenan. Bangunan-bangunan tua ala Belanda, Arab, serta Melayu masih berdiri kokoh walau pernah diguncang Gempa 7,0 SR pada Agustus 2018 lalu.

Kota Tua Ampenan pada tahun 2018 termasuk dalam Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) yang terdiri dari 43 kota di dalamnya, yang tersebar di seluruh Indonesia. Menurut saya, hal ini diperlukan agar kelestarian Kota Tua Ampenan terus dijaga sebagai kebanggaan bagi warga masyarakat kota Mataram, bila perlu ditata kembali dengan tidak menghilangkan arsitektur sejarahnya.

Mungkin Anda pernah mendengar “negeri kelebihan senja” seperti kata mbah Sujiwo Tejo jelaskan dalam buku “Talijiwo”. Maka, kota Ampenan tidak hanya termasuk dalam 43 kota JKPI melainkan termasuk kota yang “Kelebihan Senja” ala mbah Sujiwo Tejo. Hehehe.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.