Menikmati Sensasi Berada pada Zaman Purba di Kafe Puncak Maros

0
1382
Kafe Puncak Rammang-Rammang.

Rammang-rammang merupakan salah satu kawasan di Desa Salenrang, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, yang bisa dibilang merupakan saksi sejarah yang hingga kini dijaga kelestariannya. Bukan sejarah terkait penjajah atau semacamnya, namun sejarah akan waktu yang lebih lampau lagi, yaitu tentang manusia purba. Kok, bisa? Karena area Rammang-rammang ini dikelilingi oleh batuan-batuan besar atau biasa disebut dengan pegunungan karst, loh, travelovers! Di area rammang-rammang masih banyak peninggalan zaman purba, seperti telapak tangan di goa serta peninggalan zaman pra-sejarah lainnya, seperti ukiran gambar di dinding-dinding goa.

Nah, pegunungan karst miliki Sulawesi Selatan ini ternyata menyabet penghargaan terbesar ketiga di dunia setelah Madagaskar dan Cina. Kalau di Indonesia sendiri pastinya ini adalah pegunungan karst terbesar!

Menuju Maros dari pusat Kota Makassar menempuh kurang lebih 1 – 1.5 jam, tepatnya 40 km, malah jaraknya lebih dekat dari Bandara Sultan Hassanudin daripada dari pusat kota. Ya, tergantung kondisi jalanannya juga, sih, travelovers. Banyak hal menarik yang bisa dilakukan di Rammang-rammang, seperti berburu matahari terbit dan menyaksikan refleksinya di Telaga Bidadari, menyusuri Goa Telapak dan Goa Purbanya, mengunjungi Desa Berau, serta tak lupa berswafoto dengan latar belakang gugusan pegunungan karst. Oh iya, di sini terdapat Desa Berau yang hanya bisa diakses melalui kapal, karena jalur satu-satunya menuju desa tersebut adalah Sungai Pote.

Pemandangan dari Kafe Puncak Maros.

Kenapa disebut Rammang-rammang? Konon katanya, wilayah ini selalu mengeluarkan kabut di pagi hari, entah dalam musim apapun. Maka dari itu disebut dengan nama Rammang-rammang yang memiliki arti kumpulan awan / kabut.

Semakin lama semakin banyak pengunjung dari dalam maupun luar kota, hal ini memotivasi warga sekitar untuk dapat mengumpulkan pundi-pundi rupiah lewat tambahan fasilitas seperti toilet serta warung dan tempat nongkrong yang sudah mulai menjamur. Untuk saya yang saat itu tidak meiliki waktu yang cukup banyak untuk stay di Rammang-rammang memilik untuk bersantai sembari mencoba sajian lokal di Kafe Puncak Rammang-rammang. Saya memang tidak fokus untuk merekomendasikan menu tertentu, karena ada yang lebih menarik, yaitu bentuk kafenya.

Letaknya sendiri ada di atas salah satu bukit kapur, sehingga untuk menuju ke sana, travelovers¬†harus menaiki beberapa tangga dan memesan dulu di bawah. Cukup melelahkan untuk sampai ke area kafenya, tapi begitu melihat pemandangannya… saya dibuat enggan berkedip! Seakan-akan dihadapkan oleh gugusan gunung-gunung purba, tanpa ada satupun halangan untuk memandang. Terang saja banyak pemuda-pemudi yang datang untuk berfoto di sini.

Aneka Es di Kafe Puncuk Maros.

Banyak wisatawan yang memilih area ini menjadi tempat berisitirahat setelah menjelajah Rammang-rammang. Menurut saya pribadi sih tempat ini cocok banget untuk menghilangkan suntuk dari riweuhnya hiruk-pikuk perkotaan, ditambah lagi semilir anginnya yang bikin semakin relax. Kalau berbicara menu, masih belum ada yang khas, seperti sajian warung pada umumnya saja, ada mie instan, nasi goreng, dan aneka minuman. Harganya sendiri sangat terjangkau mulai dari Rp. 500 hingga Rp. 15.000 saja, travelovers! Karena siang itu panasnya Maros lagi tidak karuan saya dan teman-teman memesan berbagai macam es untuk menghilangkan dahaga.

Sembari menikmati pemandangan sekitar saya seperti sedang kembali ke masa lalu dengan latar belakang ala zaman pra-sejarah ini. Tak lupa mengambil gambar sebanyak-banyaknya di area kafe maupun di area eksotik lainnya. Jangan dibayangkan tiba-tiba dinosaurus muncul loh, ya!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.