Menikmati Semilir Angin di Pantai Bentar

0
483
Pantai Bentar.

Saya adalah orang yang cukup skeptis dengan keberadaan pantai utara di Pulau Jawa. Ekspektasi saya, mungkin pantai-pantai itu tidak seindah pantai selatan dengan gugusan batu karang yang begitu elok. Namun, rupanya saya salah. Pantai-pantai utara Pulau Jawa ternyata juga memiliki keindahan alam yang tak kalah asyik untuk dijelajahi.

Pada libur lebaran kemarin, saya beserta rombongan keluarga besar mengadakan halal bi halal di Kota Pasuruan. Selepas acara itu, kami memutuskan untuk berwisata sejenak ke Kota Probolinggo untuk menikmati senja di tepi pantai. Dari Kota Pasuruan ke Kota Probolinggo, perjalanan bisa ditempuh selama 1 jam. Sedangkan jika dari Kota Malang, untuk mencapai Probolinggo memerlukan waktu sekitar 3 jam.

Probolinggo memiliki banyak pantai menarik. Kota ini memang berada tepat di garis pantai yang menghubungkan Surabaya dengan Banyuwangi. Salah satu pantai yang menjadi jujugan kami adalah Pantai Bentar. Pantai ini berada di wilayah Kecamatan Gending yang terkenal dengan angin gendingnya.

Pencari Kerang di Bawah Jembatan.

Memasuki kawasan pantai, benar saja, angin yang bertiup kencang membuat saya merasa segar meski saat itu teriknya mentari cukup menyengat. Bau ikan asap yang diolah para pedagang di sekitar pantai menyeruak memenuhi ruang indra penciuman saya. Awalnya, saya ingin mencicipi sejenak ikan-ikan panggang yang tampak menggoda itu. Namun, para sesepuh di keluarga saya memutuskan akan membeli ikan-ikan itu sepulang dari pantai ini nanti. Niat itupun akhirnya saya urungkan.

Kamipun membeli tiket masuk seharga Rp. 12.500 untuk dewasa dan Rp. 5.000 untuk anak-anak. Walau senja telah datang dan mentari akan beranjak dari peraduannya, pengunjung yang datang masih silih berganti. Mereka rata-rata juga baru saja tiba dari acara reuni keluarga dalam masa Idulfitri.

Sebelum mencapai pantai, aneka mainan anak-anak berjajar dengan apik, mulai dari ayunan, kereta mainan, hingga beberapa permainan ketangkasan yang bisa melatih gerak motorik anak. Selain ayunan, untuk mencoba permainan ini, pengunjung harus membeli tiket lagi sebesar Rp. 10.000. Ada juga beberapa burung merak yang tampak cantik di sekitar area permainan. Jadi, pantai ini bisa dikunjungi oleh seluruh anggota keluarga yang berniat menghabiskan senja di Probolinggo.

Karena hari semakin sore, kami memutuskan untuk menuju bibir pantai yang terlihat surut. Hampir tak ada air laut yang terlihat di bibir pantai itu. Kondisi ini dimanfaatkan oleh para pencari kerang untuk mengambil butir demi butir kerang. Cukup banyak kerang yang menempel di sebuah jembatan panjang yang memagari tepi Pantai Bentar itu.

Kami menyusuri jembatan itu untuk menuju hutan mangrove di sisi pantai yang lain. Jembatan ini terbuat dari bambu dan batang kayu yang disusun sedemikian rupa. Ternyata, masih banyak pengunjung yang memanfaatkan waktu berlibur mereka di sini. Berfoto dengan latar belakang laut lepas sangatlah indah. Ditemani rimbunnya hutan mangrove, menikmati senja di Pantai Bentar sesungguhnya tidak bisa hanya sebentar.

Jembatan Menuju Hutan Mangrove.

Saya pun berjalan ke beberapa sudut jembatan hingga berakhir di sebuah gazebo kecil. Gazebo ini ternyata tertutup oleh rimbunnya hutan mangrove dan sangat cantik untuk spot foto. Jepretan demi jepretan pun seakan tak bisa lepas dari kamera. Belum lagi, melihat pengunjung melakukan hal yang sama, keinginan untuk mengabadikan momen di pantai ini tidaklah pernah hilang.

“Ayo kembali ke Bus. Kita akan ke BJBR!”, seru salah seorang sepupu yang memanggil saya.

Ah sayang, saya harus menyudahi acara untuk menikmati Pantai Bentar ini. Dengan langkah kaki yang berat, saya menuju anjungan-anjungan yang berada tak jauh dari jembatan tersebut. Sambil menunggu rombongan ibu-ibu, pandangan mata saya teralih ke garis pantai yang semakin surut. Tampak dari jauh beberapa perahu yang terdampar akibat tidak adanya air laut. Anak-anak kecil pun turut bermain di pinggir pantai seolah tempat itu adalah lapangan sepak bola.

“Wayahe….wayahe…….”

Seruan pedagang cilok hangat membuyarkan lamunan  saya. Dua bungkus cilok pun saya beli sebagai bekal selama perjalanan. Kalau saja masih ada waktu, rasanya saya masih ingin  di sini. Pantai Bentar ini sayang hanya dikunjungi sebentar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.