Menikmati Pantai Bak Berada di Gurun

0
263
Birunya air laut Pantai Oetune.

Agendanya adalah mengunjungi Pantai Oetune, sebuah pantai yang memiliki hamparan pasir putih yang luas bak seperti berada di gurun pasir. Dari kupang saya berangkat menggunakan motor menuju Kabupaten Timor Tengah Selatan, lokasi pantai yang dituju berada di jalur Selatan Pulau Timor, jadi setelah melewati Perbatasan Kupang & TTS, di pertigaan belok kanan.

Warna perbukitan yang kecoklatan menghiasi perjalanan nan hangat ini, tapi wajar kalau Pulau Timor ini notabene dengan wilayahnya yang kering. Jalan berkelok sedikit berlubang ini menjadikan kita yang berkendara mesti lebih hati-hati. Saat di perjalanan banyak terlihat rumah-rumah tradisional warga berbentuk bulat, lopo atau masyarakatnya bilang Ume Kbubu yang artinya rumah bulat. Katanya lagi, rumah yang material utamanya dari alang-alang ini justru bagi warga adalah rumah yang paling nyaman untuk beristirahat sambil menikmati sirih pinang, karena jika terdapat bercak merah di lantai (tanah) tidak perlu dikhawatirkan.

Kembali ke perjalanan, setelah melewati perbukitan dan hampir sampai di objek wisata, terlebih dahulu melewati jalan yang lurus cukup panjang, kanan kiri adalah persawahan yang hijau. Segar sekali mata memandang genangan-genangan air di tiap bidang sawah, banyak sekali sekumpulan sapi dan kambing menikmati makanannya, kepakan burung elang berputar di atasnya. Menurutku, untuk Pulau Timor sendiri, pemandangan seperti ini cukup langka.

Foto perbukitan di tengah perjalanan.

2,5 jam lamanya perjalanan ditempuh dari Kota Kupang, akhirnya tiba di tujuan. Lokasinya berada di Desa Oebelo, Kec. Amanuba Selatan, TTS. Biaya masuk untuk motor Rp 7.000, terdapat banyak pendopo yang dibuat untuk para pengunjung bersantai. Terdapat warung yang berjejer dan beberapa bangunan lainnya seperti toilet dan tempat bilas, areanya sangat rindang karena ditata dengan pohon-pohon kasuari yang berjajar dengan jarak sekitar kurang lebih 6 meter.

Desiran air laut yang biru dan jernih dengan ombak pecah yang cukup tinggi menerpa panjangnya bibir pantai yang didominasi pasir putih ke kuning-kuningnan. Menariknya lagi, pantai ini berhadapan dengan perairan perbatasan dengan Benua Australia.

Tujuan inti para wisatawan berkunjung ke sini kebanyakan ingin berfoto di padang pasir yang luas, agar terkesan seperti berada di Timur Tengah walaupun sebenarnya di Timor Tengah Selatan. Menuju gumpalan pasir yang halus, cukup berjalan kaki sekitar 100 meter, cari spot terbaik dan nikmati keindahannya.

Hamparan pasir putih di bawah langit yang biru.

Katanya, waktu terbaik mengabadikan momen di lautan pasir ini saat pagi atau sore hari. Ternyata betul, saya datang di siang hari persis matahari berada di atas ubun-ubun kepala, alhasil pencahayaan terlalu cerah. Saat di padang pasir disarankan agar wajah tidak lama mengarah ke hembusan angin yang berlawanan, karena butiran pasir yang halus masuk ke mata, akhirnya sedikit mengganggu.

Selepas bermain di padang pasir selanjutnya berjalan menyisir pantai mencari kulit-kulit kerang yang menarik untuk dikoleksi. Lalu dilanjutkan dengan berenang, bermain air di bibir pantai sambil menikmati pecahnya ombak, klimaks lelah terbayar jadinya. Setelah selesai beraktifitas saatnya beristirahat di lopo sambil menikmati hembusan angin.

Oh ya, alangkah baiknya kita membeli kelapa dan buah lontar yang ditawarkan warga sekitar, alih-alih membantu perekonomian mereka, 2 buah ini sangat cocok dinikmati di pantai dengan panasnya terik matahari. Air kelapa melepas dahaga, setelah airnya habis minta belahin untuk dimakan daging buahnya. Lalu buah lontar yang juga merupakan favorit saya, daging buahnya yang kenyal dan sedikit rasa manis, apalagi ditambah sedikit rumitnya melepas daging buah dari kulit dalamnya, sempurna sudah.

Somehow, pantai ini unik untuk didatangi!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.