Menikmati Pagi di Alun-Alun Kidul, Yogyakarta

0
381
Beringin Sebagai Ikon Utama Alun-alun Kidul.

Turis atau wisatawan seringkali datang ke sebuah daerah sebagai pendatang. Sehingga, berwisata seakan memiliki batas antara warga lokal dengan wisatawan. Pariwisata menjadi industri yang eksklusif, hanya menjangkau para konsumen kelas menengah ke atas, yang tidak semua peka terhadap realitas sosial ekonomi dan ekologi kawasan wisata yang dikunjungi. Maka dari itu, akhir-akhir ini banyak gaya traveling city atau village tour yang mendekatkan hubungan sosial antara wisatawan dan warga lokal.

Ada sebuah tagline, seperti “life like a local”. Dalam pariwisata akhir-akhir ini begitu diminati, ketika para wisatawan ingin merasakan sensasi menikmati hidup ala warga lokal. Yogyakarta sendiri adalah tempat yang tepat untuk mencoba life like a local. Suasana dan ritme hidupnya sangat tenang, tidak seperti Jakarta atau Bandung. Apalagi daerah-daerah pinggiran Yogyakarta, wilayah desa dan dusun. Kali ini saya akan membahas dan menikmati Alun-alun kidul ala warga lokal!

Angkringan Ciri Khas Yogyakarta.
Suasana Pagi dan Sarapan Khas.

Alun-alun Kidul umumnya dikunjungi wisatawan ketika sore dan malam hari, suasananya sangat ramai ketika malam. Banyak sepeda wahana, dengan lampu warna warni, musik yang keras. Di sisi jalan, banyak penjual makanan, trotoar alun-alun sampai penuh sekali. Bahkan area lapangan alun-alun menjadi penuh dengan wisatawan, baik yang sedang makan ataupun mencoba melewati beringin kembar yang legendaris itu. Suasana malam sangat turistik dan meriah. Lalu, bagaimana dengan suasana pagi?

Hari Jumat, 5 juli 2019, saya menikmati suasana pagi di Alun-alun Kidul. Pengunjung alun-alun sedikit, mungkin hanya warga lokal. Kebanyakan sedang olahraga pagi, ada yang bersepeda, berkeliling berjalan kaki, bahkan ada yang lari cepat. Ada juga sebagian warga sarapan di beberapa warung dan kedai, sambil berbincang dan bergurau dengan keluarga atau temannya. Ah, suasana syahdu ini sangat nikmat! Udara pagi di Yogyakarta pun sejuk, tidak seperti siang hari.

Saya berkeliling sambil melihat-lihat makanan yang menarik di sekitar alun-alun. Banyak sekali pilihan makanan lezat, mulai dari makanan ringan sampai berat. Ada kue lekker, cilok, dan jajanan pasar. Lalu, ada gudeg, soto, dan angkringan. Saya memutuskan untuk makan nasi kucing di angkringan, dengan gorengan dan teh hangat. Sempurna sekali suasana Yogyakarta dan makanan autentiknya!

Hidangan Khas Angkringan.

Seperti kata penyair Joko Pinurbo, bahwa Yogya terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan. Angkringan menjadi sebuah ciri khas kuliner yang sangat autentik. Angkringan menyajikan hidangan khas, yaitu nasi kucing, bacem, sate usus, sate telur, dan berbagai macam gorengan. Biasanya menyajikan minuman khas, seperti jahe hangat atau teh. Pada Alun-alun Kidul ada beberapa angkringan untuk sarapan, harganya pun sangat terjangkau. Setelah makan kenyang dan menghangatkan perut, saya membayar. Tiga nasi kucing, dua gorengan, satu tusuk sate telur, dan satu gelas teh manis hangat.

“Rp. 10.000, mas”, kata bapak penjualnya. Sungguh murah dan mengenyangkan! Lalu, setelah makan kenyang di angkringan saya berkeliling lagi, mengamati dan menikmati suasana pagi Yogyakarta di Alun-alun Kidul. Saya lalu menemukan penjual susu murni, panas dan masih fresh!

Susu Murni Jahe.

“Pak, susu jahe panas satu ya”, kemudian saya duduk dan menunggu. Tak lama, satu gelas susu jahe panas datang! Menyeruput perlahan-lahan, dengan sensasi hangat dari jahenya memang mantap. Penutup sempurna dari perjalanan menikmati keliling Alun-alun Kidul ala warga lokal.

Ayo menikmati pagi seperti cara warga lokal di Alun-alun Kidul Yogyakarta! Berangkat!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.