Menikmati Kuliner Khas Sunda di RM Sangkan Hurip, Bandung

0
1148
Rumah makan Sangkan Hurip.

Bandung adalah kota yang punya banyak wisata kuliner, keragaman variasi kulinernya pun sangat beragam. Bandung juga merupakan trendsetter dunia kuliner di Indonesia, banyak produk makanan atau minuman yang berasal dari Bandung dan sukses. Inovasi pun bukan merupakan hal aneh bagi industri kuliner di Bandung. Tapi, kadang para pecinta kuliner lupa, bahwa Bandung memiliki banyak sekali tradisi dan budaya kuliner yang tradisional.

Perdebatan antara kuliner slow cook dan junk food selalu aktual di dunia kuliner kita, kegelisahan para pecinta kuliner terhadap industri fast food terus menggema. Selain itu, pencarian budaya kuliner yang tradisional pun sedang digeluti. Pertanyaannya, apakah Bandung menyediakan wisata kuliner yang mudah di akses dan tidak diolah secara fast food?

Ulasan Kuliner.
Sambal dan lalap yang segar.

Kuliner tradisional di Bandung seringkali hanya dikenal sebagai franchise yang sederhana, ada menu ayam goreng, lalapan (sayuran), dan musik sunda. Yang disajikan adalah makanan saja, tanpa daya tarik lain yang lebih autentik. Padahal, makanan khas sunda sebenarnya cukup variatif, pengalaman autentik pun bisa kita nikmati, kalau itu yang kita cari maka kita bisa pergi ke daerah Punclut!

Punclut adalah daerah yang terletak di ketinggian, sekitar 45 menit – 1 jam perjalanan dari pusat kota Bandung. Daerah ini merupakan perbukitan yang masih hijau, dengan landscape yang indah, mengarah ke kota Bandung. Daerah ini terkenal sebagai pusat wisata kuliner tradisional, ada banyak tempat yang menjajakan makanan khas sunda, kali ini saya akan membahas tempat favorit saya, yaitu Sangkan Hurip!

Pemandangan dari tempat makan di Sangkan Hurip.

Saya sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini, hampir setiap berkunjung ke daerah Punclut saya pasti makan di Sangkan Hurip. Sangkan Hurip adalah restoran tradisional yang menyajikan makanan makanan khas Sunda, mulai dari ayam, ikan, cumi-cumi asin, belut, pepes, karedok, dan makanan lainnya. Sejak datang, kita akan merasakan udara sejuk ketinggian, dengan suasana yang asri. Rasanya masih seperti di desa, walaupun kalau malam Minggu macet dan penuh mobil wisatawan.

Ketika masuk ke dalam rumah makan pun suasananya seperti di rumah panggung sebuah desa, semuanya duduk lesehan. Setelah itu, kita bisa memesan makanan dan minumannya, secara umum ada 3 olahan makanan. Yang pertama adalah olahan goreng, yang kedua adalah olahan bakar, dan yang ketiga adalah olahan pepes. Olahan pepes adalah olahan khas Sunda, mirip dengan garang asem di daerah Jawa Tengah. Olahan pepes menggunakan rempah dan bumbu khas, lalu daging atau lauk olahannya dimasukan ke bungkusan daun pisang, lalu dikukus sampai matang. Lauknya bisa ayam, ikan, jamur, bahkan tahu.

Menu makanan yang dipesan.

Saya memesan ayam goreng, ikan, tahu, dan nasi hitam. Untuk nasinya sendiri, ada 3 pilihan, yaitu nasi merah, nasi hitam, dan nasi putih. Yang menjadi favorit saya adalah nasi dan sambalnya, untuk lauknya tidak terlalu berbeda dengan ayam atau ikan pada umumnya, tetapi olahan sambal dan nasinya memang unik. Nasi hitamnya memiliki tingkat kematangan yang sangat pas, terlihat dari tekstur dan rasa nasinya, karena proses mengolahnya masih tradisional. Begitu pula dengan sambalnya, rasanya segar dan ringan, tidak terlalu dominan rasa cabainya. Mungkin, karena bumbu lain yang dimasukan ke olahan sambalnya.

Untuk fasilitasnya sendiri cukup lengkap. Ada tempat parkir yang sangat luas, 2 lantai tempat lesehan untuk makan, mushola, dan toilet. Harga makanannya pun cukup terjangkau, satu menunya sekitar Rp 18.000 – Rp 25.000 saja, kecuali untuk beberapa menu ikan besar, sekitar Rp 50.000 – Rp 80.000. Jadi, tertarik mencoba makanan khas dengan suasana pedesaan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.