Menikmati Keindahan Gunung Prau Via Patak Banteng

0
3670
Gunung Prau Via Patak Banteng

Entah sudah perjalanan kami keberapa ekspedisi ke Gunung Prau, Dieng kali ini. Yang pasti, ini menjadi perjalanan resmi kedua kami sebagai kelompok tetap yang beranggotakan delapan orang setelah Semeru bulan Mei 2014 lalu. Saya, Idham Pak Andoy, Fazar, Mas Darson, Pandu, Dede, dan Om Yoy plus “additional player” Hasrul memutuskan untuk mendaki gunung yang “cuma” bertinggi 2565 mdpl tersebut. Meski tidak begitu menjulang, Prau menyajikan pemandangan yang amat sangat unik. Ya unik.. Seperti kedua teman baru kami Mila & Linda (ndo) yang notabene adalah teman SMU Fazar dan secara sukarela ikut bertualang bersama kami.

Progo, Kereta yang disulap menjadi kamar tidur

Waktu menunjukkan pukul 21.30 ketika bajaj biru yang saya dan Fazar tumpangi berhenti di stasiun Senen, Jum’at malam itu. “Zaaar..”, suara khas familiar terdengar menyapa telinga. Sosok mungil Mas Darson telah eksis di depan Mini market tepat di sebelah pintu loket masuk. Tak menunggu lama, tim kami sudah komplit dan siap tuk mengarungi malam berbalut kereta Progo jurusan akhir Lempuyangan. Nomor kursi yang terpisah membuat kelompok kami terbagi di dua gerbong. Praktis komunikasi hanya mengandalkan aplikasi chatt whatsapp yang terjejal di HP masing-masing.

Perjalanan Gunung Prau Via Patak Banteng
Menunggu kereta mila dan ndo yang mengalami masalah.

Ditambah lagi Mila dan Linda berbeda kereta, mereka naik Jaka Tingkir yang berselisih satu jam dari kereta kami. Pemandangan tak wajar terpapar di hadapan kami. Hanya berselang lima menit setelah melaju, para penumpang serentak meletakkan selebaran koran di lantai kereta. Dan tak sedikit pula yang sibuk menutup lampu neon dengan barang yang sama hingga cahayanya menjadi temaram. Usut punya usut, kegiatan ini memang sudah lazim terjadi. Perjalanan yang bentrok dengan jam tidur dan berdurasi cukup lama, memancing ide kreatif para penumpang untuk menyulap gerbong menjadi kamar tidur yang nyaman. Setidaknya untuk 10 jam kedepan.

Purwokerto-Patak Banteng, Tiga angkot dalam 6 ½  jam

03.25, angka digital yang tertera di arloji saat saya dan Pak Andoy terjaga. Waktu kedatangan 03.53 yang tercetak di tiket memaksa kami untuk waspada. Terlebih, stasiun Purwokerto, stasiun tujuan kami bukanlah stasiun terakhir. Kekhawatiran timbul sesaat tak ada balasan dari gerbong sebelah ketika personil gerbong 2 mencoba membangunkan personil gerbong  3 di group chatting. Signal provider yang buruk memperparah keadaan, karena nomor HP tidak bisa dihubungi. Jadilah Pak Andoy mengeluarkan bakat balet yang selama ini ia pendam dalam-dalam .

Mengandalkan ujung kaki, dengan lihai dan penuh kehati-hatian tepian kursi ia pijaki satu persatu seraya melangkahi tubuh-tubuh bergelimpang di lantai menuju gerbong 3. Usahanya tak sia-sia, personil gerbong 3 berhasil dibangunkan dan kami selamat dari bahaya kebablasan. Ujian tak selesai sampai disitu, kereta Jaka Tingkir yang Mila dan Linda tumpangi mengalami gangguan lokomotif. kami harus menanti lebih lama meski tak mengganggu prediksi awal rencana bertolak dari stasiun Purwokerto  pukul 06.00 pagi.

Keluar stasiun Purwokerto, sopir-sopir angkot menunggu dengan wajah lapar akan penumpang. Setelah “deal” di angka 65.000, sebelas jiwa ini terangkut ke terminal Bulupitu.  Sarapan seadanya kamipun melanjutkan aksi. Tarif 25.000/orang melayang dari kas guna menebus perjalanan dengan bis ¾ menuju Wonosobo. Terakhir, angkot seukuran mikrolet menjadi kendaraan pamungkas menuju Base camp Patak Banteng. Ongkos 180.000 plus 20.000 tanda masuk kawasan Prau adalah mahar yang kami setorkan sebelum harus mengeluarkan uang lagi sebesar 6.000/orang untuk registrasi pendakian.

Pos 1, Pos 2, Pos 3, Puncak, Ngos-Ngosan

Sabtu siang tepat Pukul 13.00 kaki-kaki ini beriringan keluar dari basecamp. Diawali dengan berdoa kami melangkah pasti menuju pos pertama. Sempat salah jalan karena tidak melihat tanda penunjuk, kami pun diberitahu oleh penduduk setempat untuk berbalik arah dan menemui trek yang benar. Rintangan “pemanasan” langsung menghadang. Undakan anak tangga yang tidak bisa dibilang pendek dan terbuat dari batu serta memiliki kemiringan ± 75° tanpa malu-malu berdiri tegap dihadapan kami.

Gunung Prau Via Patak Banteng
Mendaki Gunung Prau Via Patak Banteng.

Seperti biasa, saya sebagai sweeper (baca: cepat lelah) memilih posisi paling belakang mengamati keselamatan kawan-kawan di depan. Lepas dari anak tangga, kami di suguhi jalanan berbatu rapi yang agak menanjak dan berkelok. Di kanan kiri, ladang petani setempat masih setia mendampingi. Daaaaaann…. plang Pos 1 terlihat, cepat memang.. Tak sampai 60 menit kami sampai di pos 1. Namun yang membuat sedikit kecewa, ketika melilhat di ujung Pos 1 terparkir manis motor penduduk. Aaaaachhhhh..terasa sia-sia peluh keringat dan rasa nyeri di pinggang yang saya rasakan. Tau gitu saya naik ojek saja, hemat tenaga dikit hehehehe.

Perjalanan Gunung Prau Via Patak Banteng
Track gunung Prau.

Berbelok ke kiri, jalan menuju ke atas sudah menanti, kali ini anak tangga bermaterikan tanah yang kami injak-injak. Jalur ke arah pos 2 memang lebih variatif, pun begitu tanjakan masih dominan. Yaiyalah namanya juga naek gunung :). 40 menit berlalu, penampakan plang Pos 2 belum terlihat, malah warung yang tampak di pelupuk mata. Saya memutuskan untuk “break” sebentar sementara barisan caryl di punggung kawan-kawan sudah hilang dari pandangan. Yaaa.. nasib seorang sweeper memang seperti ini. Selalu ditinggalkan. “Gus nitip gorengan.. nih duitnya” suara Fazar disusul uluran tangan yang mengenggam uang menyapa di tengah lelah. Oalaaaahhh.. ternyata pos 2 hanya berjarak ± 10 langkah ke atas dari warung tempat saya beristirahat.

Selesai lahap menyantap tempe goreng mendoan, derap langkah kembali terkayuh. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah pos 3 kemudian puncak. Rute yang cukup “mencekam” telah menunggu kami. Jalur tanah zig-zag yang licin dan berdebu mungkin menjadi alasan mengapa disediakan tali sebagai pegangan untuk membantu para pendaki. Ada insiden kecil menimpa, Dede yang bertubuh paling besar diantara kami kesulitan dalam menapaki jalur tersebut.

Saking kuatnya berpegangan pada tali, ia malah memutuskannya sehingga membuat pijakannya tidak stabil. Badannya merosot kebawah. Tangannya tampak gemetar. Entah karena panik, dingin  atau  mungkin  lapar.  Jangan  berfikir  kami  semua  cemas,  suara  tawa terbahak-bahak itulah yang membahana. Ekspresi muka Dede memang mengundang tawa saat itu (sori bro..). Selamat dari situasi yang luculucu beresiko, kami pun melanjutkan pendakian.

Alangkah kagetnya saya mendapati puncak yang jaraknya tak ada 1 jam dari Pos 3. hanya ada plang camp area dan bangunan batu persegi setinggi 1 meter menjadi penandanya. Kira-kira Pukul 16.15 menjadi waktu keberhasilan kami menggapai puncak. Sayang saat itu kabut tebal menyergap, meniadakan sunset senja hari.

Camp Area, Destinasi serbuan pendaki di malam hari

Kami beruntung, spot mendirikan tenda masih banyak yang lowong. Tanpa berpikir panjang, lokasi kami tentukan. Tiga tenda berdiri anggun siap untuk di teduhi. Lima orang di tenda Fazar, dan masing-masing tiga orang di tenda Mas Darson dan Om Yoy. Selepas Maghrib susu putih hangat menjadi pendorong Indomie Goreng, Nasi, plus telor dadar kreasi Dede dan Om Yoy. Rendang “home made” Mila menambah kesempurnaan menu kami malam itu. Rasa kantuk seketika merambat ketika perut terasa penuh sesak. Rencana untuk bergadang buyar bersama dinginnya malam dan pelukan hangat sleeping bag.

Gunung Prau Via Patak Banteng
Camp area gunung Prau.

Dari luar tenda terdengar sayup-sayup kegaduhan suara rombongan pendaki yang baru tiba. Memang, weekend menjadi waktu favorit bagi kami sang pemburu sunrise.   Keinginan untuk buang air kecil membangunkan lelap saya. Samar-samar angka 03.00 memancar dari layar HP. Agak terkejut juga ketika pintu saya sibak, ratusan tenda sudah berjejal mengelilingi tenda kami. Saya raih Head lamp dan sebotol Aqua. Minimnya pohon rindang dan semak-semak agak menyulitkan untuk buang hajat. Belum lagi cahaya senter para pendaki yang berkelebatan semakin membuat risih.

Sunrise menguak, selamat pagi sindoro sumbing, merbabu dan merapi

Gunung Prau Via Patak Banteng
Pemandangan yang sangat mengagumkan.

Subuh hari, tanpa dikomando tiap orang keluar dari dalam tenda. Pantas saja para pendaki rela untuk berjubel memenuhi puncak prau. Alamaaaak.. . . view nya itu looooh.. berjalan sedikit ke arah utara, Sindoro dengan megahnya berdiri menyapa. Seakan tak mau kalah, Sumbing menyembul di belakangnya. Sementara dari kejauhan nampak kegagahan Merbabu dan Merapi memanggil tuk dijamah. Kamera handphone sampai SLR berlomba mendapatkan gambar terbaik. Pose selfie, memalingkan muka, lompat, pasang kertas bertuliskan ucapan tak luput dari mata lensa. Cahaya mentari perlahan mulai benderang, barisan awan bulat beriringan merayapi bukit-bukit di sekitar gunung-gunung tersebut. Jika boleh memberi angka pada keindahan panorama yang terpampang. Saya akan menulis angka 8 dari 10 nilai maksimal. Istimewa…

Jalur Dieng  Kulon, trek turun yang ajib

Gunung Prau Via Patak Banteng
Perjalanan pulang.

Puas mengabadikan momen, satu persatu tenda di rubuhkan untuk kemudian dilipat. Selesai sarapan, pukul 08.30 kami bersiap pulang. Demi mendapatkan sensasi  yang berbeda, rute Dieng kulon kami pilih sebagai lintasan. Tak salah memang, padang rumput Bukit Teletubbies terhampar luas memanjakan mata. Sungguh pemandangan tersendiri yang tidak kami temui pada perjalanan muncak lalu. Meski memakan termin waktu yang lebih lama, rasanya setimpal dengan apa yang kami dapati selama perjalanan turun. Naik dari Patak Banteng dan turun via Dieng kulon adalah rute yang kami sarankan jika kalian berencana singgah di Prau.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.