Menikmati Keheningan dan Kesejukan di Candi Sumberawan

0
132
Pengunjung melihat dari dekat Candi Sumberawan.

Berbicara masalah peninggalan bersejarah di Malang rasanya tak ada habisnya. Aneka candi dan stupa yang tersimpan di kota ini begitu menarik perhatian. Beberapa diantaranya bahkan memiliki kekhasan tersendiri yang tak dimiliki oleh peninggalan bersejarah lainnya. Salah satu peninggalan bersejarah yang cukup terawat di kota ini hingga sekarang adalah Candi Sumberawan.

Beberapa orang menyebut candi yang berada di Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang ini sebagai Stupa Sumberawan. Ini tak lepas dari bentuknya yang lebih menyerupai stupa bercorak agama Buddha dan terbuat dari batu andesit. Apa pun penyebutannya, saya sering mendatangi tempat ini untuk menyepi dan menyegarkan kembali pikiran yang lelah akibat penat bekerja selama satu minggu penuh.

Meski harus menempuh jarak yang cukup jauh dari rumah saya di Kota Malang, itu tak menjadi masalah. Saya hanya tinggal mengikuti jalan dari arah Candi Singosari yang berada dekat dengan Pasar Singosari menuju Desa Toyomarto. Desa ini sendiri terletak di kaki Gunung Arjono di sisi timur dan menjadi salah satu desa paling subur di Singosari.

Motor yang saya naiki melaju membelah jalan desa dengan kontur kemiringan yang cukup ekstrem. Saya sih menikmatinya saja karena tujuan saya hanya ingin bersantai sejenak. Saya tak mau terburu-buru. Sekitar 15 menit dari arah Candi Singosari, saya sudah sampai di gapura penanda wisata candi ini. Saya tinggal mengikuti papan petunjuk jalan hingga sampai di sebuah gang sempit.

Suasana segar membuat betah berlama-lama.

Mengikuti jalan setapak di gang tersebut, saya sungguh senang lantaran bisa melewati sungai kecil yang sangat jernih. Jalan setapak itu mengikuti aliran sungai dan menuju ke sebuah sumber yang berarus cukup deras. Banyak anak-anak yang sedang mandi di sana. Tak jauh dari sumber itu, sebuah tanah lapang pun terhampar luas. Tanah ini ternyata digunakan oleh anak-anak tersebut untuk kemah.

Saya memarkirkan motor di tempat yang telah disediakan. Saya pun menuju juru kunci candi dan membayar uang retribusi seikhlas saya. Candi ini berada di bagin dalam lapangan itu. Posisinya terhalang oleh pohon-pohon besar sehingga tak terlalu tampak. Tanpa perlu waktu lama, saya pun segera menjelajahi Candi Sumberawan ini.

Candi yang lebih tepat disebut stupa ini memiliki bentuk persegi dengan tidak adanya tangga menuju bagian atas. Ini berbeda dengan candi lain yang memiliki tangga dan ruangan untuk menyimpan arca atau stupa. Tidak ada pula relief di bagian dinding candi seperti kebanyakan candi lainnya. Walau bentuknya hanya berupa stupa, tetapi candi ini diduga juga digunakan sebagai tempat pemujaan. Menurut informasi pada papan pengumuman, candi ini bahkan pernah dikunjungi oleh Hayam Wuruk, raja terbesar dari Kerajaan Majapahit. Diduga, candi ini dibangun pada sekitar abad ke-13 hingga ke-14 Masehi.

Jalan menuju Candi Sumberawan.

Candi yang dulunya bernama Kasuranggan ini memang spesial. Letaknya yang berada tepat di tengah lapangan dan dikelilingi pohon, dekat dengan mata air, dan berada di pegunungan membuatnya sering digunakan untuk menyepi. Bahkan, saat saya ke sana, beberapa umat Hindu tengah melakukan ritual di dekat Candi Sumberawan. Beberapa atlet bela diri juga melakukan meditasi di sekitar candi tersebut. Sedangkan saya lebih memilih untuk menghirup udara segar sambil menikmati indahnya hidup di hari libur tersebut. Suara burung dan jangkrik yang bersahut-sahutan semakin menambah syahdu suasana.

Tak hanya digunakan sebagai tempat menyepi, Candi Sumberawan juga bisa digunakan untuk mencari spot fotografi. Taman hutan dengan pohon yang meranggas bisa jadi spot cantik untuk mengambil gambar. Candi ini pun bisa jadi tujuan kunjungan saat berlibur ke Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.