Mengunjungi Wisata Kekinian ‘Solo Rasa Eropa’ di Gedung Djoeang 45

0
238
Suasana Haluan Kopi di malam hari.

Kota Solo dari dulu hingga kini memang terkenal akan wisata kulinernya yang murah dan lezat. Jika anda sedang mengunjungi Solo hanya untuk wisata kuliner, sebaiknya pikirkan kembali dan tambahkan wisata sejarah ke Gedung Djoeang 45 sebagai agenda wisata sejarah yang wajib dikunjungi. Terutama bagi anda yang ingin menikmati indahnya bangunan khas zaman Belanda sembari foto-foto kekinian nan instagrammable.

Banyaknya wisatawan yang sedang foto-foto di halaman Gedung Djoeang 45.

Gedung Djoeang 45 akhir-akhir ini menjadi viral di sosial media, terutama di Instagram karena foto-foto bangunan Gedung Djoeang 45 yang terlihat eksotis seperti gedung-gedung di Eropa. Warganet pun banyak yang menyebutkan Gedung Djoeang 45 seperti ‘Solo Rasa Eropa’. Ada pun pada tanggal 20 September 2019 lalu, wisata sejarah Gedung Djoeang 45 sudah dibuka untuk umum sebagai salah satu wisata baru yang layak untuk dikunjungi di Kota Solo.

Gedung-gedung ‘Eropa’ ini sebenarnya berada di Jalan Mayor Sunaryo Kecamatan Pasar Kliwon Solo, atau tepatnya berada di sebelah timur Benteng Trade Centre (BTC). Awalnya, gedung ini bernama Gedung Dewan Harian Cabang (DHC) 45 sampai akhirnya berganti nama menjadi Gedung Djoeang 45. Gedung yang sudah berdiri sejak tahun 1880 ini sempat terbengkalai sampai akhirnya sejak beberapa tahun terakhir gedung ini direvitalisasi oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Solo bekerjasama dengan Manajemen BTC.

Gedung Djoeang 45

Gedung bernuansa warna putih ini pada awalnya merupakan gedung fasilitas penunjang bagi orang-orang Eropa, yang masih satu kompleks dengan Benteng Vastenburg yang berada di sebelah utara dari gedung ini. Gedung Djoeang 45 dulu juga difungsikan sebagai kantin yang digunakan untuk makan para tentara Belanda. Seiring dengan berjalannya waktu, orang-orang Eropa mulai mengalihfungsikan gedung menjadi asrama dan balai pengobatan yang hanya bisa digunakan oleh orang Eropa saja. Ada pun setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaannya di tahun 1945, Gedung Djoeang 45 diganti fungsinya menjadi kantor dewan harian cabang, yang pada akhirnya dikenal dengan nama Gedung DHC 45. Dengan berbagai sejarah gedung yang sangat panjang, maka tak heran jika Gedung Djoeang 45 termasuk sebagai salah satu Bangunan Cagar Budaya (BCB) Kota Solo yang harus dilindungi dan dilestarikan.

Tugu Prasasti di Gedung Djoeang 45.

Kompleks Gedung Djoeang 45 terdiri dari gedung yang menyatu dengan sebuah hotel bernama Boutique Hotel. Di sepanjang halaman gedung terdapat patung-patung, tugu prasasti, bangku-bangku, rerumputan sintetis, serta lampu-lampu yang semakin memancarkan keindahan gedung bergaya kolonial dengan sentuhan kekinian tersebut. Agar semakin kekinian dan menyasar kaum generasi milenial, terdapat sebuah coffee shop di pintu masuk Gedung Djoeang 45. Tempat ini bernama Haluan Kopi ini, memiliki interior café yang sangat instagrammable. Haluan Kopi sangat cocok untuk disambangi bersama keluarga maupun teman untuk berbincang-bincang hangat sembari ngopi-ngopi cantik setelah puas berfoto-foto ria di Gedung Djoeang 45.

Ketika penulis berkunjung ke Gedung Djoeang 45, untuk sementara baru dibuka hanya sampai di area halamannya saja sehingga belum bisa masuk ke dalam gedung. Bagian dalam dari gedung ini belum dibuka untuk umum karena masih dalam tahap renovasi. Ke depannya, Gedung Djoeang 45 akan digunakan sebagai tempat penyelenggaraan berbagai event serta menyediakan ruang kerja bersama atau coworking space.

Suasana Haluan Kopi di malam hari.

Soal biaya, wisata sejarah kekinian yang satu ini sampai saat ini tidak memungut biaya apa pun alias gratis. Anda hanya cukup membayar biaya parkir kendaraan saja untuk dapat menikmati keindahan gedung bersejarah khas zaman belanda sembari foto-foto kekinian sepuasnya. Jam buka Gedung Djoeang 45 ini mulai pukul 5 sore hingga jam 12 malam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.