Mengunjungi Pantai Otan di Pulau Semau

0
977
Berjajar Kapal-kapal Nelayan.

Sejak pukul 06:00 sudah mulai terisi oleh aktifitas dari berbagai kesibukan masyarakat. Lapak-lapak penjual makanan ringan berderet di mana banyak orang-orang berkumpul, ada yang sedang menunggu kapal keberangkatan, ada yang sedang menunggu keluarga, ada yang berkemas menuju pulang setelah tiba dari perjalalan laut.

Di Pelabuhan Tenau, motor saya parkirkan persis di tepi dermaga perahu motor sambil menunggu rombongan-rombongan yang lain. Beningnya air laut beserta hembusan angin pagi nan pelan menggoyangkan jajaran perahu motor, kapal cepat (ekspres), dan kapal-kapal besar lainnya yang sedang bersandar di jajaran peti kemas, layaknya pemandangan pelabuhan pada umumnya.

Setelah semuanya berkumpul, kami perlahan naik perahu motor untuk menyeberang ke Pulau Semau yang jaraknya tidak jauh dari pelabuhan. Bentuk pulaunya besar, dari pelabuhan sudah terlihat jelas bentuk dan warna pulaunya yang kecoklatan, menandakan kalau pulau itu kering dan gersang. Oh iya, perahu motor ini juga bisa mengangkut motor, jika kalian ingin berkeliling ke banyak tempat wisata, alangkah baiknya membawa motor sendiri. Biaya penyeberangan adalah Rp 20.000 per orang, dan satu buah motor juga dihargai sama, yaitu Rp 20.000 untuk sekali jalan.

Perahu Motor di Pelabuhan Tenau.

Perjalanan ditempuh sekitar lebih dari 30 menit, waktu yang masih pagi menjadikan perjalanan lancar, tanpa hembusan angin yang kuat, dan juga gangguan gelombang yang berarti. Mendekati dermaga di Pulau Semau, terlihat rumput-rumput di bawah terayun-ayun. Dari kejauhan berjajar pelampung berbentuk bola hitam milik perusahaan budidaya mutiara.

Pulau Semau yang kering ternyata masih diperindah oleh warna-warni bunga yang didominasi oleh warna merah dan merah muda, diantaranya pohon flamboyan, atau masyarakat lokal bilang pohon sepe. Gerombolan wallet juga ikut menghiasi birunya langit, mereka membuat sarangnya di dalam bebatuan.

Mobil pick-up langsung membawa kami ke tujuan inti, yaitu Pantai Otan. Lokasinya berada di Kecamatan Semau, jarak tempuh dari dermaga memakan waktu 40 menit perjalanan. Jaraknya tidak terlalu jauh, hanya saja kondisi jalan yang masih rusak dan berbatu. Dalam perjalanan akan melewati beberapa perkampungan, kantor kecamatan dan perkebunan warga, hingga akhirnya kita sampai di tujuan inti, yang ditandai dengan kemilaunya pasir putih di bawah terik matahari.

Pendopo Kecil yang Dapat Digunakan.

Banyak pendopo yang berjajar di sini, suasana terkesan sepi, ada banyak kapal berderet, namun bukan untuk aktifitas para wisatawan, melainkan milik nelayan. Tak kalah dengan pasirnya, air lautnya pun berkilau biru dan biru muda. Dangkalnya pantai dan pasir putih di dasarnya membuat gradasi warna yang menawan. Bibir pantai sangat panjang, jika ingin berlari atau berjalan menyusurinya, saya yakin pasti akan puas bercampur lelah. Pada saat itu aku tidak banyak melakukan aktifitas, hanya bersantai di pendopo menikmati angin dan pemandangan sekitarnya, termasuk tumpukkan tali-tali besar beserta pelampung milik perusahaan budidaya mutiara milik investor Jepang.

Aktifitas yang paling inti tentunya berfoto, panasnya terik matahari menjelang siang membuat kami tidak bisa bertahan lama berdiri di tepian bibir pantai. Dari kesempitan kita mendapat kelapangan, dari panasnya terik kami mendapat kelapa muda yang dibeli dari warga sekitar. Air kepala muda sebagai pelipur lelah, adalah sebagai penutup dari wisata di Pantai Otan. Kami pun kembali lagi ke dermaga, dan duduk di atas papan bak pick-up.

Rezeki memang tidak ke mana, saat berada di atas perahu motor untuk menyeberang kembali ke Pelabuhan Tenau, kami berkesempatan melihat kemunculan hewan mamalia laut, yaitu si Dugong. Walaupun yang terlihat di permukaan hanya kepalanya saja, itupun cuma sebentar, jadi tidak sempat mengambil foto. Walau demikian momen itu memperkuat komitment kita semua untuk berpikir 1.000 kali untuk membuang sampah ke laut, agar si Dugong tetap nyaman berada di wilayahnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.