Mengulik Keunikan Suku Asli Kota Lombok

0
725
Gerbang Desa Sasak Ende

Berkunjung ke Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat ini ternyata banyak menyimpan kekayaan alam dan budaya yang unik didalamnya. Apabila mendengar kata ‘Lombok’ pasti wisatawan teringat akan keindahan alamnya yang kian menjadi incaran wisatawan asing.

Selain keindahan alamnya, Lombok juga kaya akan tradisi yang masih terawat hingga saat ini. Salah satunya, Desa Sasak Ende atau Desa Sasak Ende yang terletak di Lombok bagian Tengah. Desa Ende adalah sebuah dusun kecil yang berpenduduk kurang lebih 135 orang. Desa ini merupakan tempat tinggal Suku Sasak yang juga suku asli masyarakat Pulau Lombok. Hal ini pun tidak begitu diketahui oleh wisatawan luar daerah Lombok. Penduduk desa ini menjalani aktivitas sehari-hari dengan memegang teguh tradisi yang masih mengakar dari para leluhurnya.

Dikelilingi pepohonan besar, wisatawan yang berkunjung ke Desa Sasak ini disambut dengan hangat oleh warga lokal yang mengenakan pakaian tradisional khas Lombok berwarna hitam. Di sana juga terdapat warga yang bersedia untuk mengantar wisatawan untuk berkeliling Desa Sasak Ende. Berjejeran rumah-rumah khas Suku Sasak juga terdapat aktivitas perempuan yang sedang menenun menjadi pemandangan selama di Desa Sasak Ende ini.

Suasana asri dan tenang di Desa Sasak Ende dengan rumah-rumah yang unik.

Menariknya, penduduk dari Desa Sasak Ende bukan hanya menjaga erat budaya warisan leluhur. Tetapi warga desa juga masih tinggal dalam rumah tradisional Suku Sasak, yang terbuat dari bahan alami. Bahan yang dapat dengan mudah ditemui sekitar tempat tinggal mereka. Dimana rumah tersebut masih berlantai tanah liat dicampur dengan kotoran kerbau, tiang-tiang kayu, dinding anyaman bambu serta atap alang-alang. Inilah yang menjadi pemandangan juga ciri khas dari Desa Sasak Ende ini.

Penggunaan kotoran sapi dipercaya mampu membuat lantai rumah dari tanah liat menjadi lebih kuat. Sekaligus menjadi bahan alami penolak serangga termasuk nyamuk. Penggunaan tanah liat ini karena mayoritas masyarakat di sana memeluk agama islam dan percaya bahwa manusia terbuat dari tanah. Selain itu, kotoran kerbau tersebut juga dipercaya sebagai simbol kerja keras seorang petani. Karena sebagian besar masyarakat Desa Sasak Ende hidup sebagai petani dan peternak.

Rumah asli warga lokal yang terbuat dari tanah liat dicampur dengan kotoran kerbau.

Sedangkan atap yang dibuat dari alang-alang mampu bertahan selama 5-8 tahun, tergantung oleh sudut kemiringan atap dan curah hujan. Sudut kemiringan atap di Desa Sasak Ende ini dibuat rendah, karena memiliki maksud untuk menyembunyikan pandangan dari orang yang lewat. Sekaligus membuat orang yang hendak masuk rumah menundukan kepalanya sebagai tanda hormat kepada pemilik rumah.

Rumah di desa ini memiliki desain yang sangat sederhana. Karena bagian rumah hanya terdiri dari dua bagian, yaitu, ruangan terbuka juga ruangan tertutup. Ruangan terbuka dapat digunakan sebagai teras, ruang tamu, dan juga dijadikan tempat tidur atau kamar tidur laki-laki. Sementara ruangan dalam untuk ruang tidur wanita, juga untuk melakukan aktivitas intim suami dan istri.

Berbicara mengenai rumah masyarakat Desa Sasak Ende, di dalam rumah hanya ada satu ruang dengan tiang penyangga tepat di tengah. Tak ada jendela, hanya ada sedikit cahaya matahari yang berhasil menembus bilik-bilik. Beberapa peralatan rumah tangga diletakkan sekenanya di lantai, dan papan yang dipasang di dinding bilik. Sedangkan untuk dapur atau tempat memasak serta kamar mandi disetiap rumah, biasanya terpisah dengan rumah tempat tinggal mereka. Tidak tampak juga ada peralatan elektronik lainnya seperti televisi, radio dan lain lain.

Masyarakat Desa Sasak Ende juga mempunyai tradisi yang unik, dimana pasangan suami istri diharuskan tidur terpisah. Jangan khawatir, untuk pasangan yang baru menikah diperbolehkan tidur bersama di dalam rumah. Sampai mereka mempunyai anak, maka pasangan harus tidur terpisah. Jika masyarakat Sasak Ende akan menikah dengan orang luar kampung, harus membayar denda yang cukup besar.

Bagian teras atau Kamar tidur laki-laki atau ruang tamu.

Menariknya untuk memulai kehidupan rumah tangga di Suku Sasak ini bukanlah sesuatu yang mudah. Pasalnya, masyarakat di Desa Ende sudah menetapkan aturan bahwa setiap wanita yang ingin menikah wajib mempunyai keahlian untuk menenun. Jika belum bisa menenun maka dilarang untuk menikah. Dapat disimpulkan menenun sudah menjadi Syarat Izin Menikah di suku ini.

Mengapa wanita Sasak wajib bisa menenun? Karena dipercaya guna untuk melatih kesabaran dan juga ketekunan. Seperti yang diketahui, pada pembuatan kain tenun merupakan sesuatu yang rumit dan memakan waktu panjang. Selain itu, ketika nanti sudah berumah tangga, kain tenun yang dibuat oleh si wanita digunakan sebagai alas atau selimut ketika malam pertama. Maka dari itu, anak-anak berusia sembilan tahun sudah diajarkan untuk menenun.

Hal menarik lainnya, ada tradisi unik yang dimiliki Suku Sasak, yaitu kawin lari. Dalam tradisi ini, pihak pria menculik wanita yang disukainya. Pelarian yang dilakukan biasanya berlangsung selama 3 hari. Setelah itu, orangtua wanita akan menebus untuk membicarakan kelanjutan hubungan ke jenjang yang lebih serius.

Pernikahan di Dusun Ende biasanya dilakukan di seputar lingkungan dusun. Perkawinan antar sepupu atau saudara masih sering terjadi. Jika ada seseorang yang ingin menikah dengan pihak luar dusun, orang tersebut diharuskan membayar denda yang nilainya cukup besar untuk kalangan masyarakat dusun.

Sebelum wisatawan meninggalkan desa ini, warga lokal yang menjadi pramuwisata untuk wisatawan dari Desa Sasak Ende ini akan mengarahkan wisatawan. Warga lokal akan memandu untuk memasuki ruang tempat kain tenun. Kemudian kain tersebut dijual di tempat yang biasa dikenal sebagai koperasi Desa Sasak Ende. Semua kain yang berada di koperasi tersebut dibuat oleh perempuan Desa Sasak Ende. Ada macam-macam jenis dan motif yang bisa dipilih sesuai dengan budget untuk buah tangan atau digunakan pribadi. Selain Kain, di sana juga menjual aneka anyaman serta ukiran dengan harga yang beragam, mulai dari Rp 100.000,-  sampai Rp 1.000.000,-.

Wisata lombok tidak melulu mengenai pantai, jadi jangan lupa untuk datang ke desa kecil yang sangat unik dan menarik ini. Untuk dikulik lebih dalam saat berkunjung ke Lombok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.