Mengintip Kemeriahan Pekan Budaya Tionghoa 2019

0
1412
Pekan Budaya Tionghoa 2019
Gerbang Depan Kampung Ketandan yang Dihias dengan Lampion.

Kemeriahan Imlek dan Cap Go Meh telah berlalu. Daerah-daerah yang memiliki tradisi menyelenggarakan acara-acara juga telah merampungkan segala acaranya. Orang-orang Jakarta dan sekitarnya merapat ke Petak Sembilan, Glodok, untuk menyaksikan upacara perayaan imlek. Sementara di Solo, kemeriahan bahkan sudah terasa beberapa hari sebelum imlek digelar dengan dipasangnya lampion di dekat Pasar Gede. Puncaknya, Grebeg Sudiro digelar tepat saat imlek.

Sementara itu, di Pulau Kalimantan, Singkawang dengan megah dan meriah menggelar acara tepat saat Cap Go Meh atau lima belas hari setelah imlek. Puncak acaranya sendiri berlangsung sangat meriah. Tak ketinggalan, Yogyakarta juga ikut menggelar acara yang berlangsung selama sepekan dengan judul Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY).

PBTY sendiri pada tahun ini memasuki gelaran yang keempat belas. Sudah cukup lama rupanya. Setiap tahun rasanya tak pernah berkurang tingkat keseruannya. Tak peduli apapun cuacanya, PBTY selalu ramai oleh pengunjung. Tahun ini, memasuki tahun babi pada almanak China, PBTY digelar mulai tanggal 13-19 Februari 2019. Setiap harinya digelar acara-acara menarik. Seperti apa keseruannya? Berikut sedikit ulasannya.

Keseharian Kampung Ketandan

Pekan Budaya Tionghoa 2019
Lorong Kampung Ketandan saat Siang, Salah Satu Bapak ini masih Setia Berdagang Emas seperti Pendahulunya.

Kampung Ketandan sehari-hari tampak lengang. Hanya ada beberapa orang berlalu-lalang. Masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang, seperti orang-orang keturunan tionghoa pada umumnya. Mereka berjualan apa saja mulai dari barang rumah tangga hingga emas dan kuliner. Ketandan sejak lampau memang sudah dihuni oleh para etnis tionghoa. Mereka diberi sepetak tanah oleh sultan untuk dikelola sebagai timbal balik atas jasa mereka meningkatkan perekonomian Yogyakarta sejak dulu. Meski sempat ada gesekan pada saat masa mempertahankan kemerdekaan, namun semua sudah berakhir dan masyarakat keturunan tionghoa bisa hidup dengan damai di Yogyakarta.

Lapak-Lapak dan Kesenian di Gelar Pada Malam Hari

Sore menjelang, lapak-lapak mulai digelar. Saat itu mendung menggelayut menaungi langit Yogyakarta. Tak ada tampak mereka akan beralih. Warna merah jingga yang biasanya menghiasi langit Yogyakarta di sore hari tak tampak hari itu. Semua diganti dengan warna biru keabu-abuan yang cukup pekat. Belum hujan tapi tanda-tanda akan hujan sudah sangat jelas.

Saya berjalan menyusuri trotoar Jalan Malioboro yang cukup ramai. Wajar karena akhir pekan banyak sekali wisatawan berkumpul. Ditambah lagi akan diadakan Malioboro Imlek Carnival, warga membanjiri pinggir-pinggir jalan. Malioboro Imlek Carnival ini juga termasuk dalam rangkaian acara perayaan Imlek dan Cap Go Meh di Yogyakarta. Namun saya masih tetap acuh dan menuju pusat keramaian: Kampung Ketandan.

Pekan Budaya Tionghoa 2019
Kemeriahan Kampung Ketandan di Malam Hari saat Pekan Budaya Tionghoa.

Magrib belumlah tiba tapi Kampung Ketandan sudah ramai. Lapak-lapak penjual makanan sudah siap. Para juru masak mulai menampilkan kebolehannya masing-masing. Di gang depan dikuasai oleh pelapak kuliner berbahan dasar laut seperti gurita atau cumi-cumi. Ada juga yang berasal dari India. Mereka berusaha sekuat yang mereka mampu untuk menarik minat pengunjung. Semakin ke tengah, semakin bervariasi apa yang disajikan. Tentu saja beragam masakan-masakan khas Cap Go Meh seperti Kue Keranjang hingga Lontong Cap Go Meh. Tepat di sebuah perempatan mereka menggelar sebuah festival kecil bertema kuliner.

Pekan Budaya Tionghoa 2019
Di dalam House of Potehi terdapat Banyak Gantungan Wayang termasuk Proses Mewarnainya.

Tak cuma kuliner, ada juga House of Potehi. Potehi adalah sebuah kesenian berupa wayang berbahan kain. Berasal dari kata pou berarti kain, te berarti kantong, dan hi berarti wayang. Wayang Potehi, kesenian boneka wayang ini sudah berumur lebih dari 3.000 tahun, berasal dari Tiongkok. Wayang Potehi biasanya hanya digelar saat imlek atau hari-hari khusus. Wayang Potehi juga sangat sakral karena menurut kepercayaan, penonton wayang bukan hanya dari kalangan manusia tapi juga dewa-dewi di khayangan. Wayang Potehi juga ditampilkan di sebuah ujung tikungan jalan, bukan di House of Potehi. Tempat duduk sudah penuh meski wayang-wayang belum beraksi. Mereka setia menunggu.

Beranjak ke tempat lain, penjual pernak-pernik khas imlek seperti lampion dan gantungan kunci berjajar bersebelahan. Sementara di sebelah Yamie Panda, tempat makan Yamie halal, dibuka sebuah stand yang melayani pembacaan karakter menggunakan media kartu tarot.

Selain itu, ada juga lomba-lomba yang digelar untuk memeriahkan acara. Lomba karaoke, lomba fashion show, dan lain-lain. Puncak kemeriahaan ini ada di panggung utama. Di panggung utama yang besar itu digelar pertunjukan menarik. Amat sangat disayangkan untuk melewatkan pertunjukan di panggung utama ini.

Sepekan sudah berlalu, Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta telah mencapai hari terakhirnya pada tanggal 19 Februari 2019 kemarin. Kemeriahan yang ditampilkan tentu akan sangat membekas di hati para pengunjungnya. Tenang saja, bagi yang tidak sempat berkunjung di tahun ini dapat menunggu di tahun depan. Sampai jumpa di Pekan Budaya Tionghoa 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.