Menginap di Bandara Kuala Lumpur, Sepang

0
64
Suasana bandara KLIA2 dipotret dari atas di lantai tempat kami beristirahat.

Sebagai seorang backpacker sejati, tentunya kita dituntut untuk melakukan berbagai penghematan dalam perjalanan kita. Tidak jarang penghematan malah membuat kita menjadi lebih survive dan tangguh. Tidak boleh mengeluh dan bersyukur adalah koentji. Apalagi jika kita sedang berkunjung ke tempat yang sangat asing seperti di negara tetangga dengan uang dan penguasaan medan yang terbatas.

Salah satu pengeluaran terbesar pada saat sedang melakukan travelling ke luar negeri yaitu akomodasi alias tempat menginap atau hotel. Padahal waktu yang dihabiskan untuk menginap itu tidak terlalu lama. Nah masalah lain yaitu jika penerbangan kita malam hari sedangkan check in hotel biasanya jam 11 pagi waktu setempat.

Trik yang biasanya dilakukan backpacker untuk melakukan pengematan yaitu menginap di public area seperti bandara ataupun stasiun kereta. Menginap di bandara? Memangnya boleh? Nah khusus di tulisan ini aku akan ceritakan pengalaman aku backpacker dan menginap di Bandara International Kuala Lumpur (KLIA2), Sepang, Malaysia.

Suasana lorong di lantai tempat kami beristirahat.

Bulan Januari 2020 aku bersama dengan kawan-kawan kantor berangkat ke Malaysia untuk melepas penat dengan jalan-jalan murah alias backpacker-an. Tentunya seperti prinsip utama seorang backpacker yaitu murah, maka aku sudah memesan tiket pesawat sejak jauh-jauh hari, tepatnya tiga bulan sebelum hari keberangkana. Kami memesan tiket di salah satu maskapai penerbangan ke Malaysia karena harganya yang sangat ramah di kantong.

Kami bisa mendapatkan tiket yang relatif murah karena itu merupakan penerbangan termalam dari Indonesia. Yahh tidak apa-apa sih, hanya saja yang perlu dipikirkan bagaimana nasib kami sesampainya di sana.

Kami mendarat di Malaysia sekitar pukul 11 malam. Sedangkan homestay yang kami pesan baru bisa kami tempati pukul 12 siang esok harinya. Jadi kami harus menghabiskan malam dan pagi hingga tiba waktu check-in. Kami memutuskan untuk menginap di bandara setelah membaca berbagai cerita di Internet tentang pengalaman orang menginap di bandara.

Kamar mandi bandara KLIA2 yang sangat bersih.

Setelah pengecekan imigrasi, kami berjalan keluar dari area kedatangan. Entah bagaimana rutenya, pokoknya kami berjalan hingga masuk kembali ke area mall dari bandara. Jadi jangan kaget jika Bandara KLIA malah terlihat seperti mall karena memang ada area mallnya di bandara ini. Kami naik terus menaiki eskalator hingga sampai di lantai 2 area keberangkatan. Di sini, ruangannya terlihat lebih lapang dan banyak sekali ditemukan mesin check in mandiri. Selain itu juga di sini terdapat banyak restoran.

Nah, sebenarnya ketika aku sampai di area keberangkatan, pada saat sedang hunting tempat untuk melapak di sana, sudah banyak orang yang terkapar di setiap sudut-sudut  bandara. Misalnya di dekat eskalator maupun di pinggir-pinggir tembok. Namun, karena menurutku tempatnya kurang enak karena sangat ramai dan lagi pula sudah ramai juga, jadi kami tetap mencari opsi lain.

Dari area keberangkatan, sebelah antrian untuk menuju boarding, ada eksalator naik ke lantai paling atas (yang bisa dijangkau pengunjung). Di sinilah kami mendapatkan lapak yang sangat-sangat manusiawi. Jadi aku menyarankan untuk siapapun yang berniat menginap di bandara, lebih baik jangan putus asa dulu dan naik lah ke lantai paling atas sebelah kiri.

Aku bersembunyi di balikbangku pijat untuk mencari spot terbaik untuk beristirahat.

Sebenarnya di atas adalah tempat penyewaan mesin pijat. Jadi seperti ada dua ruangan besar berisi banyak sekali kursi-kursi pijat. Malam itu aku lihat orang-orang sudah ramai melapak. Kami pun ikutan melapak di pojokan belakang kursi-kursi tersebut. Oh iya, penyewaan kursi pijat ini menggunakan aplikasi online sehingga tidak ada petugas yang menjaga.

Di sini tempatnya lebih manusiawi karena lantainya dilapisi karpet jadi tidak beralaskan lantai langsung. Ku lihat banyak sekali backpacker yang dengan santainya tidur di sana. Ada anak-anak, ibu hamil, bapak-bapak, bahkan kami bertemu dengan teteh-teteh yang berbicara dengan Bahasa Sunda.

Suasana bandara KLIA2 di lantai 2 pada tengah malam.

Di lantai ini juga terdapat fasilitas kamar mandi dan mushala yang sangat nyaman. Sewaktu pagi menjelang, aku bisa langsung beribadah kemudian bersih-bersih dan bersiap untuk berangkat. Enaknya di lantai ini tidak ramai lalu lalang orang karena letaknya yang terpisah dari pusat kegiatan dan tidak ada lagi akses menuju ke lantai atas.

Meskipun sudah mendapatkan lapak yang cukup nyaman, tetap saja tidur di tempat umum tidak seindah dan senyaman tidur di kamar hotel. Aku tetap kesulitan untuk terlelap karena suhu ruangan yang dingin, ruangan yang terbuka, suara yang ramai, dan cahaya penerangan yang mengganggu. Membawa kain tipis dan bantal leher akan sangat menolong. Namun, pengalaman survive seperti ini yang menempa kita untuk menjadi seorang backpacker yang kuat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.