Menghirup Udara Segar di Bukit Paralayang, Karanganyar

0
54
Berfoto ria di atas bukit Paralayang.

Berbicara mengenai Karanganyar, seperti halnya berbicara soal dunia fantasi. Karena di sana kita dapat melihat berbagai pesona alam. Pesona yang dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk mempertahankan hidup mereka. Dan sebagai warga lokal harusnya berbangga dengan wilayah yang memiliki pesona alam yang tak mau kalah dengan kebun buah Mangunan yang terletak di Dlingo, Bantul, Yogyakarta tersebut.

Berjalan-jalan menyusuri tempat destinasi yang terbilang tak asing yakni bukit paralayang. Tepatnya di Segorogunung, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Menelisik lebih dalam, melihat paralayang yang terjun dari bukit dan nantinya ada petugas yang memantau dari bawah. Namun sayang, keberanian yang tak mumpuni sehingga kami tidak memberanikan diri untuk mencicipi rasanya terbang seperti burung. Hanya dapat mengamati betapa asyiknya di atas sana dan dapat melihat betapa indah semesta.

Selain itu, hikmah yang dapat kita ambil dari bermain paralayang yakni manusia hanya setitik bolpoin. Tak nampak dari ketinggian dan kalaupun nampak hanyalah seperti ditutupi kabut, buram rasanya. Jadi kita sebagai manusia haruslah memiliki rasa rendah hati atau selalu tunduk terhadap Sang Khaliq. Karena segala ciptaan-Nya sungguhlah takjub dan seolah-olah kita terhipnotis dengan cantiknya semesta.

Suasana kebun karet di kala sepi pengendara.

Masuk di wilayah Bukit Paralayang, Karanganyar ini, hanya dikenakan biaya akomodasi parkir kendaraan yakni sebesar Rp 5.000. Dan jikalau tekad dan keberanian sudah bulat, dapat menikmati bermain paralayang dengan tarif Rp 400.000 – 500.000. Dan dapat menyaksikan dan melihat kebun teh Kemuning secara langsung dari atas. Dengan biaya yang relatif murah karena kami tidak berniatan untuk bermain paralayang, fasilitas yang disediakan terbilang cukup lengkap yakni tempat parkir, toilet, serta warung makan yang dapat mengganjal perut saat keroncongan. Dan di Bukit Paralayang, ketinggiannya bisa dibilang cukup tinggi. Walaupun musim kemarau, udara di sana sepoi-sepoi jadi kenakan jaket dan jangan lupa memperhangat diri dengan secangkir kopi.

Selain destinasi Bukit Paralayang, terdapat juga spot foto nyentrik yaitu jalanan yang di kanan-kirinya terdapat hutan pohon karet. Letaknya tak jauh dari Bukit Paralayang, jaraknya sekitar 8 km atau kisaran waktu 20 menit. Tempatnya terbilang sepi karena hanya para pedagang dan orang berkendara bermotor saja yang lewat di sekitar jalanan. Sebenarnya bukan tempat wisata namun panorama yang kami anggap seperti lukisan ketika dipotret dengan kamera. Jarang orang-orang berfoto ria di tempat ini, karena tempatnya yang berbau tak sedap yang diakibatkan oleh karet yang terdapat dalam wadah. Dan juga banyak nyamuk yang mengganggu ketika sedang mengabadikan momen.

Pemandangan dari ketinggian bukit.

Tak perlu mengeluarkan biaya sepeser pun, karena belum ada yang mengurusi tempat ini sebagai tempat destinasi. Hanya spot foto yang ditempeli di sepanjang jalan. Dengan catatan kendaraan pribadi perlu diawasi sendiri karena tidak ada tukang parkir yang menjaga ketika kita memotret kanan-kiri.

Perjalanan menuju Bukit Pralayang maupun kebun karet memang terjal. Khususnya di Bukit Paralayang, hanya jalan setapak yang disediakan. Jadi mau tak mau harus bersabar ketika banyaknya pengunjung datang menghampiri. Dan ketika menuju ke kebun karet jalanan masih cukup kasar, bebatuan yang ada, dan belum halus seperti di perkotaan. Pastikan kendaraan dengan kondisi fit ketika akan berkunjung di kedua spot foto nyentrik ini. Dan jangan lupa bawa bekal yaitu doa. Karena doa adalah bekal yang wajib kita bawa saat sedang bertamasya ria. Juga restu orang tua, karena di situlah letak keamanan saat berkendara. Kalau perlu bawa kamera untuk mendokumentasikan momen.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.