Menggapai Puncak Gunung Lawu, Si Mistis di Jawa Timur

0
1346
Menikmati Sunrise di Puncak Gunung Lawu.

Karena hal paling penting dari sebuah pendakian bukan hanya menapaki puncak tertinggi, melainkan proyeksi diri atas segala kecakapan pribadi. Selain itu, Perjalanan ke gunung, sebenarnya bukan hanya perkara menemukan, tapi perjalanan bermakna dalam demi melekatkan sebuah ikatan.

Ya, itulah arti pendakian bagi saya yang masih tergolong pendaki pemula atau mungkin saya lebih suka menyebutnya sebagai traveler. Iya, merekatkan sebuah ikatan bersama orang baru yang dikenal ketika bersua di jalur pendakian, dan merekatkan hubungan dengan sahabat dengan banyolan yang keluar dari mulut begitu saja.

Pendakian ini sebenarnya pendakian yang begitu direncanakan dengan sungguh matang oleh teman saya yang bernama Rahman, karena dia memang hobi mendaki, bahkan sudah lebih 17 gunung yang sudah dia gapai. Sedangkan saya, ini merupakan hiking ketiga saya setelah Gunung Merapi pada tahun 2015 dan Gunung Prau tahun 2017. Awalnya saya memang tidak berniat untuk mendaki sama sekali karena trauma ketika berteman dingin menuju puncak Gunung Merapi.

Tapi, akhirnya saya putuskan untuk mengikuti pendakian Gunung Lawu dari Jakarta dengan menggunakan Kereta Api (Rahman dan saya), sedangkan teman saya yang lainnya, Sukma dan Nurul, berangkat dari Kalimantan dan berjanji untuk bersua di Solo Jebres.

Awalnya, saya kira ini perjalanan yang tiada arti, tapi sungguh jika boleh memutuskan. Sejak menekuni dunia traveling, inilah pengalaman yang paling berharga dalam hidupku. Perjalanan dengan low budget dengan kereta, sempat tersesat di pos 4, dan kebakaran di pos Bulak Peperangan. Masih banyak kisah lainnya yang tak bisa ku sebutkan satu per satu.

Gunung Lawu.
Pasar Senin Menuju Solo Jebres, di Kereta Juga Bisa Merekatkan Persahabatan.

Sebenarnya, tujuan saya mendaki bukanlah untuk keren-kerenan atau hanya sekedar ingin membuktikan bahwa saya bisa mendaki Gunung Lawu yang merupakan gunung kedua tertinggi di Jawa Timur. Tapi, lebih kepada menghabiskan waktu bersama sahabat yang sudah lama tak bersua (Sukma dan Nurul) dan tentunya ingin lebih akrab juga dengan Rahman, karena memang saya mengenalnya ketika traveling ke Suku Baduy, 2 Bulan sebelum pendakian ini.

Dengan perjalanan lebih dari 8 jam, saya dan Rahman banyak menghabiskan waktu untuk mengobrol, sharing tentang traveling, percintaan, sampai dengan hal-hal yang tidak penting. Suasana dalam kereta juga sungguh nyaman, bersih, dan tentunya tidak kelaparan karena sudah ada kantin dan sesekali pramusaji juga menawarkan makanan dan minuman.

Selain itu, perjalanan dengan menggunakan kereta juga memberikan pengalaman yang tidak bisa dinilai dengan rupiah. Pemandangan yang epic selama perjalanan dari jendela kereta juga sungguh menjadi anugerah Tuhan yang tidak boleh dilewatkan begitu saja tanpa harus menikmati dan mengabadikannya dalam lensa kamera secara apik.

Foto Bersama di Puncak Gunung Lawu.
Pendakian Dengan Kurang Lebih 12 Jam Menuju Puncak Hargo Dalem, Sungguh Tekad dan Kesabaran Akan diuji.

Pendakian kali ini memang ditemani oleh sahabat-sahabat yang sangat asyik, tetapi sejatinya di gunung akan membuktikan semua sifat asli kamu. Awalnya perjalanan ini terasa santai dan penuh kebahagian sampai menuju pos 3, hingga akhirnya kejadian demi kejadian mulai menguji kesabaran, kesetiakawanan sampai dengan egoisme.

Kondisi tubuh yang sudah mulai lelah, beban berat di pundak hingga tanjakan yang terus menerus mulai dari kemiringan 60o – 85o membuat kondisi fisik semakin turun drastis. Perselisihan antara kami pun mulai ada sedikit demi sedikit, karena keinginan yang berbeda, dimana ada yang ingin istirahat, dan lainnya ingin terus berjalan karena waktu yang semakin sore.

Bukan hanya itu saja, kejadian tersesat menuju pos 4 juga menimpa kami. Memang benar, jika Gunung Lawu terkenal dengan mistisnya, dan kami juga merasakannya. Kami sadar ketika ada burung jalak di depan kami yang seolah menghalangi langkah kaki, dan kami memutuskan berbalik arah.

Bukan hanya itu, setelah kami mendirikan tenda di pos 5, tepat sebelum pukul 18:00 dengan kondisi tubuh yang lelah dan rasa lapar yang mulai menghampiri. Menjelang pagi hari atau diperkirakan pukul 02:00, kami harus berdoa dan dicekam rasa ketakutan yang sungguh luar biasa, karena di pos gupak menjangan terjadi kebakaran hebat akibat ulah pendaki yang tidak bertanggungjawab.

Berat memang mengambil keputusan untuk tetap bertahan di tenda, dan membiarkan suara para pendaki dan para ranger berlalu begitu saja dengan kalimat, “Ada kebakaran, semua pendaki diharuskan turun”. Tapi mau bagaimana lagi, jika kami mengikuti anjuran para ranger, kami juga tidak luput dari bahaya, karena keadaan tubuh yang sudah tidak memungkinkan untuk berjalan. Mulai dari bahaya hypotermia, sampai dengan bahaya pingsan karena kedinginan dan terus berjalan jika dipaksa.

Warung Mbo Yem, Warung Paling Tinggi di Indonesia Menjadi Saksi Keindahan Gunung Lawu.

Warung Mbok Yem, merupakan warung paling tinggi di Inodesia karena berada di ketinggian kurang lebih 3.300 mdpl. Setalah pagi hari menjelang, kami melanjutkan perjalanan dari pos 5 menuju puncak dan tentunya semua barang yang kami bawa kami titipkan di Warung Mbok Yem yang merupakan warung paling tinggi di Indonesia.

Sebelum kami melakukan tracking untuk turun, kami juga bermalam di Warung Mbok Yem bersama pendaki lainnya, karena tidak ingin mendirikan tenda lagi untuk menghemat tenaga dan waktu. Hingga akhirnya pagi pun datang dengan sinar mentari dan sunset yang menawan, meski udara dingin menusuk sampai ke ulu hati.

Setelah sarapan, kami memutuskan untuk menjelajahi Sendang Drajat, lalu kemudian langsung menuju pos pendakian lagi. Tak berbeda jauh ketika mendaki, ketika turun juga kami masih berjuang dengan sisa-sisa tenaga yang ada dan tentunya tekad yang bulat demi kembali dengan selamat. Karena tujuan dari pendakian bukanlah menuju puncak , melainkan melawan ego dan kembali dengan selamat ke rumah.

Warung Mbok Yem.
Stasiun Solo Jebres, Menjadi Saksi Bisu Pendakian Menuju Puncak Gunung Lawu Nan Mistis.

Stasiun solo Jebres, menyambut kami dari Jakarta dengan bahagia dan melepaskan kami dengan suasana haru. Karena pendakian ini kami mneggunakan kereta api, tentu Solo menjadi salah satu saksi bisu kisah dramatis ketika menggapai puncak Gunung Lawu. Stasiun Jebres salah satunya, stasiun dengan bangunan apik yang dibangun pada tahun 1884 oleh Staatspoorwegen (SS).

Stasiun Jebres terletak di Jebres yang dulu masuk wilayah kekuasaan Kasunanan Surakarta. Atas prakarsa Susuhunan Pakubuwono X (bertahta 1893 – 1939), stasiun yang melayani jalur ke timur Solo melewati Sragen ini memiliki arsitektur indish yang cantik dan megah hasil rancangan Thomas Karsten.

Ketika menginjakkan kaki pertama di stasiun ini, suasana khas Solo yang penuh sopan santun sangat terasa disini. Petugas KA yang ramah serta papan informasi yang jelas membuat kami tidak kewalahan mencari arah tujuan kami selanjutnya.

Dulu, Yogyakarta menjadi kota yang selalu ingin saya datangi, dan kini buka hanya itu, melainkan ada Solo karena suasana kota ini juga sangat cocok buat traveler dan tentunya sangat mudah dijangkau dengan kerete api. Jadi jangan salah, melakukan perjalanan dengan menggunakan kereta api juga sangat menyenangkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.