Mengenang Pertempuran Pembebasan Irian Barat di Monkasel Surabaya

0
293
Kapal Selam KRI Pasopati 410 yang dijadikan monumen.

Julukan Surabaya sebagai Kota Pahlawan ternyata memang benar adanya. Di kota ini, berbagai monumen bersejarah yang dibangun untuk mengenang jasa para pahlawan pun berdiri. Salah satu monumen tersebut adalah Monumen Kapal Selam atau sering disebut Monkasel.

Dari namanya, sudah jelas bahwa monumen ini berbentuk kapal selam. Saya awalnya bingung apa benar ada kapal selam sungguhan yang dijadikan monumen. Dan ternyata memang benar adanya. Sebuah kapal selam berdiri kokoh tepat di jantung Kota Surabaya. Tepatnya, di sekitar daerah Genteng Kali yang tak jauh dari Stasiun Surabaya Gubeng.

Saat saya baru turun dari kereta dan keluar dari pintu Stasiun Gubeng Lama, saya bahkan hanya perlu menyeberang jalan. Dari pinggir jalan, kapal selam besar berwarna biru sudah kelihatan. Saya harus menyeberang jembatan besar yang melintas di atas Kali Mas. Dan ternyata, monumen yang berada di Jalan Pemuda ini juga berada tak jauh dari beberapa pusat perbelanjaan. Jadi, saya akan sekalian berbelanja selepas mengunjungi monumen ini.

Foto beberapa pahlawan yang pernah berada di kapal selam ini.

Saya harus membayar tiket seharga 10.000 rupiah untuk bisa masuk. Sebelum masuk ke dalam kapal selam, saya membaca dahulu cerita di balik adanya kapal selam di tengah Kota Surabaya ini. Ternyata, kapal selam buatan Uni Soviet ini pernah digunakan sebagai armada dalam usaha pembebasan wilayah Irian Barat atau yang kini dikenal sebagai Papua.

Kapal ini menjadi salah satu andalan Indonesia dalam melawan Belanda yang saat itu tidak mau melepaskan Irian Barat dari tangannya. Padahal, sesuai Perjanjian KMB, wilayah Irian Barat seharusnya masuk wilayah Indonesia. Belanda malah mengulur waktu sehingga Indonesia mengadakan konfrontasi yang dikenal sebagai Trikora. Selepas peristiwa itu, kapal ini kemudian dibawa melalui Kali Mas dan akhirnya dipajang di tempatnya kini sebagai monumen untuk mengenang peristiwa tersebut. Wah seru juga ya ceritanya!

Lalu, saya pun masuk ke bagian dalam monumen kapal selam ini. Seperti yang saya duga sebelumnya, tentu suasananya sangat gelap. Untungnya, saya masuk bersama rombongan sekolah yang terdapat pemandu di depannya. Saya mendengar penjelasan dari pemandu tersebut. Rupanya, ada beberapa ruangan di dalam kapal ini.

Ada ruangan penyimpanan torpedo haluan,  ruang lounge – tempat makan dan rapat – bagi perwira dan bintara, ruang pusat informasi, ruang motor diesel dan penggerak kapal, dan yang terakhir ada ruang buritan belakang untuk tempat torpedo kapal. Antar ruangan tersebut diberi sekat kecil yang harus dilewati pengunjung dengan sedikit menunduk.

Bagian dalam kapal selam.

Lantaran kondisi ruangan yang sangat sempit dan gelap, saya tak bisa leluasa untuk memotret gambar. Bahkan, beberapa di antara anak sekolah yang ada di depan saya mulai takut dan cemas lantaran berada di ruangan yang gelap. Memang suasana di dalam kapal selam seperti ini. Saya membayangkan betapa gelapnya kehidupan yang harus dialami para pejuang bangsa saat berada di kapal ini untuk bertempur di dalam lautan. Bahkan, mereka bisa berbulan-bulan berada di bawah kapal selam dan tetap bersemangat untuk terus berjuang bagi bangsa. Makanya, dengan mengunjungi kapal selam ini, kita bisa menarik hikmah dari perjuangan mereka.

Bagian yang saya suka adalah teropong yang bisa melihat suasana luar. Saya harus mengantre lama untuk bisa mencoba teropong ini. Setelah sekitar 15 menit berada di dalam kapal, saya pun memutuskan keluar. Wah, saya bisa menghirup udara segar lagi!

Kini, di depan saya terhampar kolam renang anak-anak yang cukup luas. Jadi, selain mengunjungi kapal selam, kita juga bisa berenang di sini. Tak hanya itu, ada juga wisata susur sungai melintasi Kali Mas. Namun, saat saya ke sana, tak tampak perahu yang berlabuh. Jadi, saya hanya duduk di bantaran kali sambil menikmati pemandangan Kota Surabaya dari sisi yang berbeda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.