Mengenali Sejarah Cirebon dengan Berkunjung ke Keraton Kasepuhan Cirebon

0
987
Halaman Depan Keraton Kasepuhan Cirebon.

Berdasarkan informasi yang saya dapatkan dari guide internal Keraton, Cirebon berasal dari kata caruban yang berarti campuran. Jadi, pada ratusan atau bahkan ribuan tahun yang lalu, masyarakat Cirebon merupakan masyarakat yang multikultur. Fakta tersebut membuat saya semakin tertarik untuk menjelajahi Cirebon lebih jauh lagi. Pada kesempatan kali ini, saya akan menjelajahi sebuah tempat yang menjadi salah satu ikon kota Cirebon, yaitu Keraton Kasepuhan Cirebon.

Pada Selasa, 7 Mei 2019, saya mencoba untuk berkeliling kota Cirebon. Usaha saya untuk mengenal Cirebon saya awali dengan melakukan wisata sejarah, karena tanpa kita memahami sejarah dari sebuah tempat, maka kita akan kesulitan untuk mengenali tempat itu secara keseluruhan. Usaha untuk mengenal cerita-cerita sebuah daerah akan lebih berarti dan mendalam, ketimbang hanya mengetahui kesan saja.

Keraton Kasepuhan Cirebon dari luar saja sudah terlihat unik dengan gerbang dan susunan bangunan bata merah yang begitu khas. Bangunannya begitu menarik mata, karena warna dan bentuknya yang unik. Setelah membayar tiket masuk, saya dihampiri oleh seorang bapak-bapak yang ternyata beliau adalah seorang guide internal keraton, dengan ciri khasnya menggunakan iket Sunda. Beliau mengantar saya berkeliling, dengan bayaran “seikhlasnya saja”.

Gerbang dalam Keraton Kasepuhan Cirebon.

Area gerbang Keraton Kasepuhan bukan hanya gerbang biasa saja, banyak cerita dan kisah-kisah unik yang bisa kita gali di sini. Pada beberapa sudut terbang dan halaman depan Keraton Kasepuhan, kita banyak melihat piringan dan keramik-keramik yang ditempel di dinding. Keramik dan piringan yang terdapat pada hampir seluruh bagian keraton tersebut memiliki banyak kisah. Jadi, keramik dan piringan yang terdapat di beberapa bagian keraton merupakan hasil pemberian cinderamata dari para pedagang Eropa dan Tionghoa, kurang lebih antara abad ke-18 dan 19.

Menariknya, motif-motif keramik tersebut memiliki nilai filosofis yang sangat dalam, jika berasal dari Tiongkok, maka motif piringan dan keramik pun menyesuaikan dengan motif seperti naga bahkan teratai. Motif-motif itu merupakan ajaran ajaran hidup dan filosofi masyarakat Tionghoa. Sedangkan, jika piringan dan keramik berasal dari Eropa, maka kisah-kisah yang digambarkan pun merupakan kisah Nasrani, berupa kisah-kisah dari Alkitab. Mulai dari kisah Daud dan Goliath, sampai dengan kisah Yusuf dan Maria, serta masih banyak kisah lain yang terdapat di keramik dan piringan-piringan tersebut.

Keramik dari Pedagang Eropa.

Lalu, apabila kita masuk ke dalam kompleks keraton yang lebih dalam, kita bisa mengunjungi dan melihat tempat tinggal dari Sultan beserta keluarganya. Pemukiman warga keraton untuk lelaki dan perempuan dipisahkan, karena merupakan tanda ketaatan kepada ajaran Islam. Lalu, kita juga bisa melihat banyak peninggalan-peninggalan budaya, mulai dari senjata, kereta kuda, patung, bahkan bangunan-bangunan kuno.

Akses, Fasilitas, dan Tiket.
Keramik dari Dinasti Tiongkok.

Keraton Kasepuhan terletak di pusat kota Cirebon, sehingga tidak sulit untuk mencapai dan mengakses Keraton Kasepuhan. Wisata sejarah di Keraton Kasepuhan sudah terkelola dengan cukup baik oleh pemerintah setempat, bahkan bisa dibilang bahwa fasilitas-fasilitas yang dibangun pun sudah cukup lengkap. Mulai dari toilet, masjid, loket, hingga keterangan-keterangan sejarah di tiap sudut melalui papan petunjuk. Jadi jangan kuatir untuk fasilitas yang tersedia, jika kamu berwisata ke Keraton Kasepuhan.

Harga tiket masuk menuju Keraton Kasepuhan pun terjangkau untuk ukuran wisata sejarah di sebuah kota. Harganya Rp. 15.000 untuk wisatawan umum, Rp. 10.000 untuk wisatawan pelajar, dan Rp. 20.000 untuk wisatawan asing.

Murah sekali, kan? Yuk, jelajahi Keraton Kasepuhan!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.