Mengenal Tradisi Kanibalisme di “Huta Siallagan” (Pulau Samosir)

0
1795
Kursi batu persidangan.

Di balik keindahan alam Danau Toba di Pulau Samosir, ternyata terdapat begitu banyak kebudayaan yang bisa saya temukan di Pulau Samosir. Tepatnya di sebuah desa bernama “Huta Siallagan” yang berlokasi di Simanindo, Kabupaten Samosir. Kali ini saya berangkat dari kota Medan,terdapat 2 jalur alternatif yang bisa kamu pilih untuk sampai ke ‘Huta Siallagan”. Jalur pertama yaitu via Medan – Siantar – parapat – Samosir dan yang jalur kedua yaitu via Medan – Berastagi – Samosir. Dan saya melalu jalur via pertama. Saya perlu menghabiskan waktu selama 5 jam untuk sampai di Parapat kemudian dari Parapat saya harus menyebrang dari pelabuhan Ajibata ke pelabuhan Tomok dengan mengunakan kapal ferry dengan waktu satu jam.

Tapi kalau terdapat pilihan lain kok selain naik kapal ferry yaitu naik speed boat ataupun jalur darat yang pastinya kalau pakai jalur darat lebih lama sampainya. Untuk biaya penyebrangan mobil cukup membayar Rp 5.000. Sembari menyebrang saya bisa menikmati pemandangan Danau Toba. Di dalam kapal saya juga menikmati beberapa lagu suku batak yang di nyanyikan oleh anak-anak kecil dengan alat musik tradisional batak yaitu seruling, gondang dan juga kersek-kersek. Masih kecil tetapi suara mereka begitu merdu.

Tak terasa 1 jam sudah saya menyebrang dan sudah sampai di pelabuhan Tomok. Pertama kali saya menginjakkan kaki saya di suguhkan stan-stan ikan mujair yang sudah di keringkan, ada juga kacang khas dari Samosir yaitu kacang Sihobuk. Tidak berlama-lama lagi saya melanjutkan perjalanan ke desa ‘Huta Siallagan’. Hanya menghabiskan waktu 10 menit dengan menggunakan mobil saya sudah sampai di pintu masuk pasar tradisional Tomok. Untuk sampai ke Huta Siallagan saya harus berjalan kaki lagi selama 5 menit. Di sepanjang saya berjalan kaki menuju Huta Siallagan saya melewati pasar Tomok yang menjual oleh-oleh khas Pulau Samosir seperti gantungan kunci, kaos oblong, ulos tradisional suku batak Toba, alat musik tradisional suku batak Toba, topi, selempang dan masih banyak lagi deh. Ternyata pasar Tomok ini adalah pusat penjualan oleh-oleh khas Samosir enggak sabar untuk membelinya, tapi nanti deh setelah selesai mengunjungi ‘Huta Siallgan’.

Pintu masuk menuju desa Huta Siallagan.

Akhirnya saya sampai di pintu masuk ‘Huta Siallagan’ dengan bebatuan di samping kiri dan kanan jalan masuk. Untuk tiket masuk ke ‘Huta Siallagan’ cukup membayar Rp 2.000 per orang, sangat murah ya. Namun jika kamu berkunjung dalam bentuk grup kamu bisa juga memberikan donasi sukarela. Ketika sudah membayar kemudian saya masuk, dan langsung di suguhkan deretan rumah tradisional suku batak Toba yang bernama Rumah  Bolon.

Puas melihat arsitektur rumah bolon saya melihat tempat pemasungan. Pemasungan ini sendiri konon katanya jika ada rakyat yang berkhianat ataupun melanggar aturan dari raja maka mereka akan di pasung. Di samping tempat pemasungan saya juga melihat pohon berukuran besar yang ternyata sudah berumur ratusan tahun dan sampai sekarang pohon tersebut masih kokoh dan punya kisah juga pastinya. Setelah itu saya melihat kursi batu persidangan yang terbuat dari bebatuan dan di sini nih saya mengetahui bahwa pada zaman dulu suku batak Toba terkenal akan tradisi kanibalnya. Namun, raja dan masyarakat Huta Siallagan tidak asal makan manusia tetapi manusia yang di makan ada alasannya juga. Ternyata pada zaman dahulu di Huta Siallagan terdapat hukum adat yang jatuh pada seseorang yang melakukan kejahatan seperti: menghianati raja, melanggar aturan raja dan melakukan pemerkosaan.

Tempat menari tor-tor bersama patung sigale-gale.

Nah orang yang melakukan tindakan tadi akan dibawa ke kursi batu persidangan dan di diskusikan hukumannya. Jika sudah di tentukan hukumannya maka petinggi akan menentukan tanggal yang tepat untuk mengeksekusi terdakwa, menunggu hari eksekusi tiba maka terdakwa akan dipasung terlebih dahulu. Setelah hari eksekusi tiba terdakwa akan di bawa ke lokasi eksekusi. Dilokasi tersebut terdapat meja dan kursi batu sebagai tempat penyiksaan hingga pemenggalan kepala. kepala yang sudah terpisah  dari tubuh akan di gantung di depan desa dan bagian tubuhnya akan di masak untuk di makan bersama, sementara bagian organ dalam akan dimakan oleh raja.

Masyarakat Huta Siallagan sendiri dulunya mempercayai bahwa dengan memakan bagian tubuh tersebut ilmu mereka akan bertambah, wah merinding sih mendengar tradisi yang satu ini. Tapi tidak perlu takut guys karena tradisi tersebut sudah tidak berlaku lagi. Puas menjelajahi Huta Siallagan waktunya menari tarian tradisional suku batak toba yang di kenal dengan tari Tor-Tor yang uniknya saya akan menari bersama patung sigale-gale sambil mengenakan ulos. Nikmatnya menari tarian satu ini setelah puas menari saya langsung berbelanja di pasar Tomok.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.